Kalau menurut saya pure tidak harus dibangun sampai disekolah-sekolah. Sebab merawat pure tidak semudah merawat tempat ibadah lain. Contoh membangun pure dari awal membangun harus memperhatikan asta kosala kosali dan asta berata, ngenteg linggih dengan memakai pance datu (emas, perak tembaga dll). Kemudian memperhatikan letak antar bangunan, arah bangunan, segi kesehatan, segi keindahan, segi bencana, segi arah matahari, segi arah udara dll Lebih baik dana yang ada diperuntukan untuk biaya pendidikan ke agamaan seperti untuk darma santi, dana untuk membeli DVD maha berata dan rahayana, mengaji guru agama yang layak, koperasi hindu disekolah dll
From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, January 10, 2017 12:52 AM To: Yahoogroups Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Di Sekolah Ini Tempat Ibadah Masing-masing Agama Dibangun Berdampingan Kelenteng-nya kok nggak ada? Seandainya dana buat bangunan pura, vihara, mesjid, gereja itu dipakai buat lab, kelas, perpustakaan, ataupun buat sekolah baru ditempat lain khan lebih bermanfaat bagi siswa sesuai fungsi sekolah. --- Sementara itu, Buya Syafii Maarif yang didaulat untuk meresmikan bangunan pura yang diapit vihara dan mesjid serta berdampingan dengan gereja menyampaikan pentingnya keberagaman dan toleransi. ... [http://www.netralnews.com/foto/l/21301797637-mendikbud_peresmian_tempat_ibadah_di_sekolah_(kemendikbud).jpg] Mendikbud menghadiri pembangunan sekolah dan tempat ibadah di Medan (Kemendikbud) Di Sekolah Ini Tempat Ibadah Masing-masing Agama Dibangun Berdampingan<http://www.netralnews.com/news/pendidikan/read/46891/di.sekolah.ini.tempat.ibadah.masing.masing.agama.dibangun.berdampingan> Netralnews.com - Di Sekolah Ini Tempat Ibadah Masing-masing Agama Dibangun ... By Netralnews.Com Sementara itu, Buya Syafii Maarif yang didaulat untuk meresmikan bangunan pura yang diapit vihara dan mesjid ser... Senin, 09 Jan 2017 | 15:33 WIB | http://www.netralnews.com/news/pendidikan JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Yayasan Perguruan Iskandar Muda Medan yang didirikan oleh Sofyan Tan berupaya menyemaikan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap kebinekaan dengan berpijak pada pendidikan inklusif. Keragaman latar belakang siswanya sangat kental, sekolah ini mencerminkan miniatur Indonesia. Pihak sekolah memfasilitasi keragaman agama siswanya, bangunan ibadah masing-masing agama dibangun berdampingan di komplek sekolah. "Merintis dan membesarkan lembaga pendidikan itu tidak mudah, apalagi sekolah yang dibangunnya atas dasar budaya gotong royong dan merangkul kemajemukan,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, seperti dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin (9/1/2017). Mendikbud mengapresiasi para pendiri dan pengelola sekolah yang menerima penghargaan Maarif Award Tahun 2014 itu. Menurut Mendikbud Muhadjir, toleransi dan kerukunan merupakan dua hal tak terpisahkan dari budaya gotong royong. Ia pun bercerita di hadapan ratusan siswa yang memenuhi halaman sekolah. "Ratusan tahun lalu saat batu Hajar Aswad di Ka'bah terseret hanyut oleh banjir besar, kepala suku sempat berselisih mengenai siapa yang paling berhak mengembalikan ke tempat asalnya. Akhirnya, mereka bermusyawarah dan bersepakat bahwa seorang pemuda bernama Muhammad yang akan ditunjuk. Namun Muhammad, yang kelak diangkat sebagai Nabi, meminta para perwakilan para suku untuk memegang ujung surbannya yang dipakai memindahkan Hajar Aswad tersebut. Kisah ini jelas pesannya, gotong royong tumbuh karena ada kerukunan dan toleransi,” cerita Mendikbud di depan para siswa yang hadir. Sementara itu, Buya Syafii Maarif yang didaulat untuk meresmikan bangunan pura yang diapit vihara dan mesjid serta berdampingan dengan gereja menyampaikan pentingnya keberagaman dan toleransi. "Sekolah yang toleran itu tunas peradaban. Intoleransi simbol kebiadaban. Toleransi inti keberadaban. Ini perlu ditegaskan di saat kita sekarang dirundung intoleransi dan kebencian, tidak hanya di Indonesia tapi juga fenomena global. Dunia pendidikan harus melek soal ancaman ini,” ujar Buya Syafii Maarif. ________________________________ Editor : Lince Eppang
