Pada Selasa, 10 Januari 2017 5:47, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> menulis:
 

     


Anak hasil perkawinan campur dipaksa jadi turis di negeri orang tua
   
   - 6 Oktober 2016
KirimHak atas fotoBBC INDONESIAImage captionPaspor Indonesia dianggap memiliki 
banyak 'keterbatasan' jika pemiliknya ingin bepergian ke negara-negara 
lain.Banyak anak hasil perkawinan campur merasa menjadi turis di Indonesia 
akibat terganjal Undang-Undang Kewarganegaraan walaupun mereka merasa sebagai 
orang Indonesia. Inilah sebagian dari kisah mereka
Cipta: Jadi turis sejak ayah wafat
Selama lebih dari 30 tahun Cipta C.C harus terus menerus mengurus visa untuk 
dapat tinggal di Indonesia.Cipta yang lahir sebelum UU No. 12 Tahun 2006 
tentang Kewarganegaraan disahkan, membuatnya harus mengikuti kebangsaan ayahnya 
yang berasal dari Inggris.“Waktu saya masih sekolah, dibawa bapak saya yang 
kerja di sini. Sejak bapak saya almarhum, saya terpaksa jadi turis atau jadi 
tamu di negara saya sendiri”, kisah Cipta.   
   - UU Kewarganegaraan digugat di Mahkamah Konstitusi
   - Problematika di balik kewarganegaraan ganda
Selama bersekolah Cipta harus menggunakan visa Sosial Budaya untuk tinggal di 
Indonesia dengan undangan dari ibunya sendiri. Dan sejak bekerja 15 tahun yang 
lalu, dia terpaksa menggunakan KITAS atau Kartu Izin Tinggal Terbatas, yang 
harus diperpanjang setiap tahun.“Walaupun saya dapat KITAS, tetap saja itu 
Kartu Izin Tinggal Terbatas dan itu yang saya tak suka. Kenapa saya tinggal di 
negara saya sendiri terbatas,” kata Cipta.“Saya tak betah di Inggris, saya tak 
betah di manapun kecuali di Indonesia. Indonesia is my home. (Indonesia adalah 
rumah saya).”Hak atas fotoCIPTA C.CImage captionCipta C.C, "Saya ingin 
Indonesia menghargai saya sebagai orang Indonesia."Cipta yang senang bepergian 
memang memilih untuk tetap memiliki paspor Inggris karena memudahkannya ketika 
bepergian.Memang paspor Indonesia tidak terlampau memberikan 'kelancaran' dalam 
bepergian keliling dunia."Saya juga harus pikirin saya sebagai orang yang ingin 
lihat dunia juga, ingin travel(bepergian). Kalau menggunakan paspor Indonesia, 
saya akan banyak masalah. Sudah terbukti beberapa kali. Kalau saya travel 
dengan bos-bos saya dari Indonesia yang WNI. Kalau mau ke Amerika saya dikasih 
visa 10 tahun, bos saya dikasih visa tiga bulan. Itu bedanya,” kilah 
Cipta.Sebagai warga negara asing, Cipta pun kesulitan jika ingin memiliki aset 
di Indonesia.“Saya sudah memiliki mobil sendiri, atas nama saya sendiri, tapi 
itu susah banget. Kalau saya memiliki tanah, itu harus atas nama ibu saya, 
kalau ibu saya meninggal, itu tanah atas nama siapa?”Padahal menurutnya, banyak 
temannya yang juga anak dari perkawinan campur atau yang menikah dengan WNI, 
yang ingin tinggal di Indonesia dan membangun usaha di sini.“Kalau mereka bisa 
memiliki bisnis di Indonesia, mereka bisa membantu ekonomi Indonesia juga, 
mereka orang-orang pintar semua, tapi mereka susah datang ke Indonesia.”Cipta 
berharap Indonesia nantinya akan memberlakukan dwikewarganegaraan bagi 
orang-orang yang terlahir dari perkawinan campur, atau bagi orang yang memang 
mencintai Indonesia.“Kalau saja boleh memiliki dua paspor, saya pasti akan 
memiliki paspor Indonesia juga. Tapi selama pemerintah bilang saya tidak bisa 
memiliki dua paspor, saya tidak berani. Saya ingin itu legitimate (sah). Saya 
ingin Indonesia mengakui saya sebagai orang Indonesia.”
Kevin: WNA dari orang tua WNI
Kevin Joshua Scheunemann yang lahir di Jerman dari ayah berkebangsaan Jerman 
otomatis menjadi warga negara Jerman.Namun, ketika keluarganya kembali ke 
Indonesia saat dia duduk di kelas 1 SMP, orang tuanya tidak pernah sadar jika 
Kevin dapat memperoleh dwikewarganegaraan terbatas karena menurut mereka tidak 
pernah mendapat sosialisasi.Sekembalinya dari Amerika Serikat untuk kuliah, 
Kevin memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Saat itu, ayahnya juga sudah 
dinaturalisasi menjadi WNI.“Ayah dari awal ‘rumah’nya memang Indonesia. Dia 
selalu jelas. Lahirnya memang di Indonesia. Dia sudah 30 tahun di Indonesia. 
Dia dari dulu inginnya WNI, lima tahun yang lalu baru dia ada opportunity 
(kesempatan) untuk dapat WNI. Jadi dia ambil begitu ada opportunity,” terang 
Kevin tentang ayahnya.Kevin pun mengikuti jejak ayahnya, ingin dinaturalisasi 
agar menjadi WNI.“Saat itu saya sudah di atas 21, jadinya tak dianggap walaupun 
kedua orang saya WNI. Prosesnya seperti orang asing murni, lama sekali kalau 
mau aplikasi warga negara Indonesia,” tutur Kevin.“Kembali dari Amerika, 
walapun saya sudah pernah memiliki KITAP (Kartu Izin Tinggal Tetap), disuruh 
jadi KITAS lagi. Dengan KITAS tak bisa daftar WNI. Jadi KITAS dulu, tunggu 
setahun baru dapat KITAP baru ke persyaratan-persyaratan untuk WNI, ke 
kecamatan, kelurahan, RT/ RW, rumah sakit, Polda Malang,” terang Kevin yang 
tinggal di Malang, Jawa Timur, bersama orang tuanya.Kevin sudah menunggu selama 
satu setengah tahun untuk proses naturalisasi, dan selama itu dia tidak dapat 
bekerja. Padahal, menurutnya, di negara lain paling hanya membutuhkan waktu 
enam bulan untuk proses naturalisasi.   
   - Upacara di Istana tanpa Gloria diiringi lagu Hendropriyono
   - Pemberhentian Archandra Tahar, solusi 'paling tidak problematik'
Menurut Kevin, kalaupun dulu orangtuanya mengurus dwikewarganegaraan terbatas 
baginya, itu bukan solusi untuk permasalahannya saat ini yang berbeda 
kewarganegaraan dengan kedua orangtuanya.“Kalau disuruh memilih umur 18 tahun, 
mana bisa anak kecil gitu disuruh milih. Karena kan tak tahu mau kerja di mana, 
mau hidup di mana, apalagi sebagai anak yang sudah tinggal di mana-mana, 
keputusan kayak gitu di bawah umur 21 tahun, menurut saya, peraturan yang tidak 
realistis. Orang biasanya baru tahu hidupnya seperti apa kalau sudah bekerja,” 
kilah Kevin.Meski begitu, Kevin berkata dia masih bersabar untuk menjadi warga 
negara Indonesia.“Mungkin lebih gampang (hidup dengan paspor Jerman), tapi 
lebih ingin tinggal di Indonesia daripada di tempat lain. Paling asik memang 
kalau bisa dua-duanya, tapi kalau harus milih, saya sekarang milih Indonesia,” 
kata Kevin.
Keluarga Koeniger: Masalah hati
Hak atas fotoKANTI KOENIGERImage captionKanti Koeniger: "Anakku hidupnya dan 
perilakunya sangat timur."KanthiKoeniger membiarkan anak-anaknya untuk menjadi 
warga negara Jerman mengikuti kewarganegaraan ayah mereka meskipun dia dapat 
mendaftarkan anak-anaknya dengan dwi kewarganegaraan berdasarkan UU NO. 12 
Tahun 2006.“Aku dan suamiku sudah tahu kita akan membesarkan dan menyekolahkan 
anak-anak di sana (Jerman). Pertimbangan kenapa saya tidak mengurus itu karena 
menghabiskan waktu saya. Harus ngurus repot-repot, tapi tetap (umur) 18 tahun 
harus memilih, yang kita berdua tahu anak saya akan memilih Jerman,” kata 
Kanti.“Selama harus memilih, saya tak akan mengurus kewarga-negaraan Indonesia 
mereka. Tapi kalau tidak perlu memilih, saya akan mengurus 
mati-matian.”“Concern-nya adalah pendidikan yang lebih baik dan gratis sampai 
S2.”Meski begitu, Kanthimenuturkan bahwa hati anak-anaknya sangat 
‘merah-putih’.Hak atas fotoKANTI KOENIGERImage captionTara Koeniger, “Aku suka 
di sini saja. Makanannya enak, (cuacanya) panas, terus orangnya enak, selalu 
happy tak kayak orang Jerman.”“Anakku dibesarkan punya nilai-nilai timur lebih 
jauh dibanding anak-anak Indonesia yang berpaspor Indonesia. Misalnya (mereka 
yang) tinggal di luar (negeri), mereka saja tak bisa bahasa Indonesia. Anakku 
hidupnya dan perilakunya sangat timur,” tutur Kanti.“Nasionalisme itu masalah 
hati.”“Anakku bilang akan kembali ke Indonesia, akan berkontribusi ke Indonesia 
karena cinta Indonesia.”Tara Koeniger, putri sulung Kanthi yang berusia 13 
tahun menegaskan kata-kata ibunya.“Aku suka di sini saja. Makanannya enak, 
(cuacanya) hangat, terus orangnya enak, selalu happy (senang) tak seperti orang 
Jerman,” kata Tara.“Aku belum pernah tinggal di Jerman. Tapi aku mau lebih 
banyak tinggal di Indonesia.”

  #yiv1049615668 -- #yiv1049615668ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-mkp #yiv1049615668hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-mkp #yiv1049615668ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-mkp .yiv1049615668ad 
{padding:0 0;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-mkp .yiv1049615668ad p 
{margin:0;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-mkp .yiv1049615668ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-sponsor 
#yiv1049615668ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-sponsor #yiv1049615668ygrp-lc #yiv1049615668hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-sponsor #yiv1049615668ygrp-lc .yiv1049615668ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1049615668 #yiv1049615668actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1049615668
 #yiv1049615668activity span {font-weight:700;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1049615668 #yiv1049615668activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1049615668 #yiv1049615668activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1049615668 #yiv1049615668activity span 
.yiv1049615668underline {text-decoration:underline;}#yiv1049615668 
.yiv1049615668attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1049615668 .yiv1049615668attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1049615668 .yiv1049615668attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1049615668 .yiv1049615668attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1049615668 .yiv1049615668attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1049615668 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1049615668 .yiv1049615668bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1049615668 
.yiv1049615668bold a {text-decoration:none;}#yiv1049615668 dd.yiv1049615668last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1049615668 dd.yiv1049615668last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1049615668 
dd.yiv1049615668last p span.yiv1049615668yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1049615668 div.yiv1049615668attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1049615668 div.yiv1049615668attach-table 
{width:400px;}#yiv1049615668 div.yiv1049615668file-title a, #yiv1049615668 
div.yiv1049615668file-title a:active, #yiv1049615668 
div.yiv1049615668file-title a:hover, #yiv1049615668 div.yiv1049615668file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1049615668 div.yiv1049615668photo-title a, 
#yiv1049615668 div.yiv1049615668photo-title a:active, #yiv1049615668 
div.yiv1049615668photo-title a:hover, #yiv1049615668 
div.yiv1049615668photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1049615668 
div#yiv1049615668ygrp-mlmsg #yiv1049615668ygrp-msg p a 
span.yiv1049615668yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1049615668 
.yiv1049615668green {color:#628c2a;}#yiv1049615668 .yiv1049615668MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1049615668 o {font-size:0;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668photos div {float:left;width:72px;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1049615668
 #yiv1049615668reco-category {font-size:77%;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668reco-desc {font-size:77%;}#yiv1049615668 .yiv1049615668replbq 
{margin:4px;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-mlmsg select, #yiv1049615668 input, #yiv1049615668 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-mlmsg pre, #yiv1049615668 code {font:115% 
monospace;}#yiv1049615668  #yiv1049615668ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-mlmsg #yiv1049615668logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-msg 
p#yiv1049615668attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-reco #yiv1049615668reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-sponsor 
#yiv1049615668ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-sponsor #yiv1049615668ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-sponsor #yiv1049615668ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1049615668 #yiv1049615668ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1049615668 
#yiv1049615668ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1049615668 

   

Kirim email ke