Pada Selasa, 10 Januari 2017 22:04, "Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Ironi Negeri yang Berlimpah Sinar Matahari
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Ironi Negeri yang Berlimpah Sinar Matahari - Tribun Medan
Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penderita baru tuberkulosis
kedua terbanyak di dunia setelah Ind... | |
|
|
Selasa, 10 Januari 2017 14:28
Suasana permukiman kumuh di bantaran Sungai Ciliwung, Bukit Duri, Jakarta,
Jumat (22/7/2016). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan segera menggusur
bangunan dan permukiman di kawasan Bukit Duri yang berbatasan langsung dengan
Sungai Ciliwung dan akan merelokasi warga yang rumahnya terkena gusur ke Rusun
Rawa Bebek.
TRIBUN-MEDAN.com - Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penderita
baru tuberkulosis kedua terbanyak di dunia setelah India.
Ini ironis bagi Indonesia sebagai negara tropis karena kuman tuberkulosis bisa
mati jika lama terpapar sinar matahari. Perlu usaha tak biasa untuk
mengeliminasi penyakit infeksi yang ada sejak ribuan tahun lalu itu.Seperti
dikutip New York Times, 16 Oktober 2016, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
memperkirakan jumlah kasus tuberkulosis (TB) baru di dunia naik dari 9,6 juta
setahun jadi 10,4 juta setahun.Sekitar 60 persen kasus baru TB dari India
disusul Indonesia, Tiongkok, Nigeria, Pakistan, dan Afrika Selatan dengan
seperempat kasus dunia disumbang India. Estimasi kasus TB di India naik dari
2,2 juta pada 2014 menjadi 2,8 juta pada 2015.
Baca: Aidun Bangga Bersaing dengan Legimin Rahardjo
TB ialah satu dari 10 penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia tahun 2015,
lebih besar dari kematian akibat HIV dan malaria. Kematian akibat TB secara
global diperkirakan 1,8 juta kasus dan 0,4 juta di antaranya koinfeksi dengan
HIV.Di Indonesia, diperkirakan kasus baru TB 460.000 kasus per tahun. Ada
sekitar 136.000 kasus belum terdeteksi. Namun, wajah beban TB sesungguhnya
ternyata lebih besar dari itu.Dengan metode pengukuran lebih sensitif, yakni
foto toraks dan kultur bakteri, jumlah kasus baru TB di Indonesia diperkirakan
1 juta pasien per tahun, dua kali dari yang diketahui selama ini atau 10 persen
dari kasus baru TB di dunia.Fakta itu jadi bukti, di tengah transisi
epidemiologi di Indonesia, beban penyakit menular masih tinggi. Meski penyebab
kematian kini didominasi penyakit tak menular, beban kasus TB dan kematian yang
diakibatkannya besar.Direktur Jenderal WHO Margaret Chan dalam pernyataan
tertulis di situs resmi WHO mengatakan, negara-negara di dunia harus
meningkatkan upaya pencegahan, deteksi, dan pengobatan TB secara masif. Jika
tak ada penanganan menyeluruh dan masif, epidemi TB terus jadi beban dan target
yang ditetapkan sulit tercapai.Wakil Ketua Komisi Ahli Tuberkulosis yang juga
dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta, Erlina
Burhan, memaparkan, dengan penanganan TB selama ini, yakni terapi diberikan
hanya pada mereka yang terinfeksi, target eliminasi TB tahun 2035, kasus kurang
dari 1 kasus per 100.000 penduduk, akan sulit tercapai.Untuk mencapai target
eliminasi, pemerintah harus mengubah strategi pengendalian TB jadi lebih
progresif dan inovatif.Upaya itu bisa dimulai dengan melacak latar belakang dan
lingkungan sekitar penderita untuk mengetahui orang sekitar pasien yang
terinfeksi TB. Upaya lain menekan angka kesakitan dan kematian akibat TB ialah
memberi terapi bagi mereka yang laten TB untuk mencegah penyebaran penyakit
itu.Laten tuberkulosisMereka yang laten TB ialah orang dewasa terinfeksi kuman
TB, tetapi belum ada gejala. Adapun mereka yang berisiko tinggi terinfeksi
laten TB ialah orang dengan HIV, penyandang diabetes melitus, pasien cuci darah
rutin, atau mendapat terapi steroid. Mereka harus jadi prioritas terapi
TB."Satu dari tiga orang yang terpapar kuman TB akan jadi laten TB. Lalu, satu
dari 10 mereka yang laten TB jadi TB aktif," kata Erlina.Tuberkulosis adalah
penyakit menular akibat bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya lewat
udara atau percikan dahak penderita. Saat batuk, bersin, berbicara, atau
meludah, pasien TB memercikkan kuman ke udara.
Seseorang yang terdiagnosis TB berstatus tuberkulosis basil tahan asam (BTA)
positif bisa menularkan pada minimal 10-15 orang per tahun.Lebih dari sepertiga
populasi dunia pernah tertular kuman TB, tetapi tak sakit. Saat daya tahan
tubuh seseorang turun, kuman TB yang "tidur" itu aktif dan menimbulkan sakit.
Tuberkulosis laten patut diwaspadai.Kalau tak ada pencetus, kuman TB akan
dorman dalam tubuh. Masa inkubasinya bisa berpuluh tahun. Bahkan, jika daya
tahan tubuh bagus, seseorang dengan kuman TB di tubuhnya tak sakit TB sampai
akhir hayat.Jumlah kasus TB adalah refleksi wajah sosial ekonomi masyarakat.
Sebenarnya, kuman TB bisa mati jika terpapar sinar matahari. Namun, kasus TB
justru banyak di negeri ini yang berlimpah sinar matahari.
Perilaku hidup bersihTerkait hal itu, perlu perubahan perilaku warga agar hidup
bersih. Misalnya, menutup mulut saat bersin, batuk tak sembarangan, dan
biasakan pakai masker saat sakit. Warga seharusnya menerima jika petugas
kesehatan memeriksa ke rumah.Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian
Penyakit Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh mengakui, kasus TB tinggi meski
berbagai upaya dilakukan. Bahkan, bebannya kian besar seiring muncul kasus TB
yang sulit diobati karena bakteri Mycobacterium tuberculosis kebal
antibiotik.Untuk itu, Kemenkes akan menindaklanjuti tingginya kasus TB dengan
penyediaan alat diagnostik, terutama di puskesmas. Harapannya, lebih banyak
kasus baru TB teridentifikasi di fasilitas layanan kesehatan primer.Selain itu,
sistem pelaporan akan dibenahi demi menekan kasus tak terlaporkan, khususnya
yang tercatat di fasilitas kesehatan swasta. Tidak terlaporkannya kasus TB di
fasilitas kesehatan swasta turut menyebabkan kasus TB masih tinggi.Direktur
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra
Waworuntu menambahkan, upaya menemukan kasus TB secara aktif dilakukan lewat
program TOSS (Temukan dan Obati Sampai Sembuh) TB.Siapa pun terdeteksi positif
TB diobati hingga tuntas. Namun, banyak pasien TB putus obat sehingga kuman TB
jadi kebal antibiotik dan tetap jadi sumber penularan.
(ADHITYA RAMADHAN)
#yiv0399594464 #yiv0399594464 -- #yiv0399594464ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-mkp #yiv0399594464hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-mkp #yiv0399594464ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-mkp .yiv0399594464ad
{padding:0 0;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-mkp .yiv0399594464ad p
{margin:0;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-mkp .yiv0399594464ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-sponsor
#yiv0399594464ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-sponsor #yiv0399594464ygrp-lc #yiv0399594464hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-sponsor #yiv0399594464ygrp-lc .yiv0399594464ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0399594464 #yiv0399594464actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0399594464
#yiv0399594464activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0399594464
#yiv0399594464activity span {font-weight:700;}#yiv0399594464
#yiv0399594464activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0399594464 #yiv0399594464activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0399594464 #yiv0399594464activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0399594464 #yiv0399594464activity span
.yiv0399594464underline {text-decoration:underline;}#yiv0399594464
.yiv0399594464attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0399594464 .yiv0399594464attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0399594464 .yiv0399594464attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0399594464 .yiv0399594464attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0399594464 .yiv0399594464attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0399594464 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0399594464 .yiv0399594464bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0399594464
.yiv0399594464bold a {text-decoration:none;}#yiv0399594464 dd.yiv0399594464last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0399594464 dd.yiv0399594464last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0399594464
dd.yiv0399594464last p span.yiv0399594464yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0399594464 div.yiv0399594464attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0399594464 div.yiv0399594464attach-table
{width:400px;}#yiv0399594464 div.yiv0399594464file-title a, #yiv0399594464
div.yiv0399594464file-title a:active, #yiv0399594464
div.yiv0399594464file-title a:hover, #yiv0399594464 div.yiv0399594464file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0399594464 div.yiv0399594464photo-title a,
#yiv0399594464 div.yiv0399594464photo-title a:active, #yiv0399594464
div.yiv0399594464photo-title a:hover, #yiv0399594464
div.yiv0399594464photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0399594464
div#yiv0399594464ygrp-mlmsg #yiv0399594464ygrp-msg p a
span.yiv0399594464yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0399594464
.yiv0399594464green {color:#628c2a;}#yiv0399594464 .yiv0399594464MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0399594464 o {font-size:0;}#yiv0399594464
#yiv0399594464photos div {float:left;width:72px;}#yiv0399594464
#yiv0399594464photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0399594464
#yiv0399594464photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0399594464
#yiv0399594464reco-category {font-size:77%;}#yiv0399594464
#yiv0399594464reco-desc {font-size:77%;}#yiv0399594464 .yiv0399594464replbq
{margin:4px;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-mlmsg select, #yiv0399594464 input, #yiv0399594464 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-mlmsg pre, #yiv0399594464 code {font:115%
monospace;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-mlmsg #yiv0399594464logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-msg
p#yiv0399594464attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-reco #yiv0399594464reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-sponsor
#yiv0399594464ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-sponsor #yiv0399594464ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-sponsor #yiv0399594464ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0399594464 #yiv0399594464ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0399594464
#yiv0399594464ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0399594464