Tampilkan pesan asli     Pada Kamis, 12 Januari 2017 13:45, "Faturrachman 
Djamaluddin [email protected] [nasional-list]" 
<[email protected]> menulis:
 

     [Attachment(s) from Faturrachman Djamaluddin included below]  Tan Malaka 
adalah seorang sosialis sejati, pada waktunya berjuang dibenua Eropa tidak 
mendapat dukungan karena semua berpihak kepada kolonialis Belanda. Akhirnya 
beliau mendapat dukungan kuat dari Uni Sovjet dan Tiongkok. Pejuang seperti 
beliau paling mudah dicap ini dan itu, padahal praktis berjuang hampir seorang 
diri demi kemerdekaan Indonesia. 
  Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Indosat network. 
|   From: 'Chan CT' [email protected] [nasional-list]Sent: Monday, January 
9, 2017 23:09To: GELORA_InReply To: [email protected]: 
[nasional-list] Dukung Demokrasi Terpimpin Sukarno, Tan Malaka Jadi Pahlawan 
Nasional ; Dimusuhi PKI, PRD Ikut Murba |


 
Dukung Demokrasi Terpimpin Sukarno, Tan Malaka Jadi Pahlawan Nasional
http://historia.id/modern/dukung-demokrasi-terpimpin-sukarno-tan-malaka-jadi-pahlawan-nasionalTan
 Malaka diangkat sebagai pahlawan nasional berkat dukungan partainya kepada 
Demokrasi Terpimpin.Tan Malaka dan lambang Partai Murba.Hendri F. IsnaeniRabu 
01 April 2015 WIB PRESIDEN Sukarno mengangkat dua tokoh kiri yang kontroversial 
tapi berseberangan ideologi, Tan Malaka dan Alimin, sebagai pahlawan nasional. 
Kebijakan ini dianggap memenuhi penyatuan ideologi Nasakom sekalipun Sukarno 
melabrak prosedur. (Baca: Di Balik Gelar Pahlawan Nasional Dua Tokoh 
Komunis)Pada 28 Maret 1963, Sukarno mengangkat Tan Malaka sebagai pahlawan 
nasional dengan Keputusan Presiden (Keppres) No 53/1963. Pengangkatan ini 
sesuai dengan tuntutan Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), yang didirikan 
Tan Malaka, dalam dua kesempatan: peringatan hilangnya Tan Malaka ke-14 di 
Jakarta pada Februari 1963 dan konferensi Partai Murba di Balikpapan pada 15 
Maret 1963.Menurut Harry A. Poeze, sejarawan Belanda, Sukarno melakukan 
pengangkatan itu atas inisiatif sendiri, tanpa melewati prosedur atau meminta 
nasihat dari komisi yang telah dibentuk. “Langkah Sukarno dianggap sebagai 
penghargaan atas dukungan Partai Murba terhadap politik Demokrasi Terpimpin 
Sukarno,” kata Poeze, yang menghabiskan separuh hidupnya untuk meneliti Tan 
Malaka. (Baca: Harry Poeze Empat Puluh Tahun Mencari Tan Malaka)Agar adil, 
lanjut Poeze, Sukarno melakukan hal yang sama terhadap Alimin, tokoh Partai 
Komunis Indonesia (PKI). Kendati disingkirkan dalam perselisihan internal PKI, 
Alimin tidak dipecat dari PKI dan masih dianggap sebagai tokoh komunis yang 
berjasa. Dia juga kawan Sukarno dari dulu. Alimin ditetapkan sebagai pahlawan 
nasional melalui Keppres No 163/1964.“Jelas, ada oposisi terhadap putusan 
pengangkatan dua tokoh kontroversial itu, dan mungkin karena itu Sukarno 
melanggar prosedur. Kritik terhadap Sukarno waktu itu sulit, dan mustahil 
disampaikan langsung dan di depan umum,” kata Poeze.Tan Malaka dipecat dari PKI 
karena menentang pemberontakan PKI 1926/1927. Dia kemudian mendirikan Pari 
(Partai Republik Indonesia) di Bangkok pada Juni 1927. Setelah kembali ke 
Indonesia, dia mendirikan Partai Murba pada 7 November 1948, pasca-Peristiwa 
Madiun 1948. (Baca: Akhir Tragis Republik Komunis)Dalam banyak hal, Murba 
berlawanan dengan PKI. Karena itu pengangkatan Tan Malaka dan Alimin dianggap 
memenuhi penyatuan ideologi Nasakom yang diusung Sukarno.Selain itu, saat itu 
pengaruh Sukarno begitu besarnya, termasuk dalam soal pengangkatan pahlawan 
nasional. Dia mengangkat pahlawan nasional pertama, yaitu Abdoel Moeis, pada 
Agustus 1959. Hingga September 1965, dia mengangkat 36 pahlawan nasional, 
hampir separuhnya tanpa meminta nasihat dari komisi yang telah dibentuk. “Tan 
Malaka adalah orang ke-16 yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional,” kata 
Poeze. (Baca: Abdoel Moeis dan Hari Sastra Indonesia)Prijono, tokoh Partai 
Murba dan menteri pendidikan (1957-1966), menyambut pengangkatan Tan Malaka 
sebagai pahlawan nasional dengan gembira. Dia menganggap keputusan Sukarno 
tepat.Dalam pesannya pada Hari Angkatan Perang 5 Juli 1963, Prijono menyatakan: 
“Setiap putera-puteri Indonesia boleh merasa bangga, bahwa Ibu Pertiwi 
mempunyai pemimpin besar seperti Tan Malaka. Ia seorang pahlawan nasional yang 
di sepanjang hidupnya berjuang untuk kemerdekaan tanah air, dan yang sejak awal 
berjuang sungguh-sungguh menuju dan demi lahirnya cita-cita Republik 
Indonesia.”Sejarah mencatat akhir perjalanan kedua partai itu berbeda. PKI 
berhasil mempengaruhi Sukarno untuk membekukan Murba pada September 1965 atas 
tuduhan terlibat dalam Barisan Pendukung Soekarnoisme (BPS), mendukung 
Manifesto Kebudayaan, dan menerima uang US$100 juta dari Badan Intelijen 
Amerika Serikat (CIA) untuk menggulingkan Sukarno. Sukarno kemudian 
merehabilitiasi Murba pada 17 Oktober 1966. Sementara PKI dianggap sebagai 
partai terlarang oleh pemerintahan Soeharto.Murba ikut pemilu pada 1971 namun 
tak meraih kursi. Pada 1977 Murba bersama Partai Nasional Indonesia (PNI), 
partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia 
(Parkindo), dan Partai Katolik lebur menjadi Partai Demokrasi Indonesia. Murba 
dihidupkan lagi pada 1998 dan ikut pemilu 1999, namun kembali gagal meraih 
kursi. 
Dimusuhi PKI, PRD Ikut Murba
http://historia.id/modern/dimusuhi-pki-prd-ikut-murbaPersatoean Rakjat Djelata 
mengubah diri jadi Partai Rakjat Djelata. Ikut Tan Malaka jadi Partai 
Murba.HistoriaHendri F. IsnaeniSelasa 04 Mei 2010 WIB PARTAI Rakjat Djelata 
(PRD) yang diketuai oleh St Dawanis kian aktif di panggung politik nasional. 
Setelah sempat berseteru dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) soal tuduhan 
adanya “pihak musuh yang hendak mengacaukan dan membingungkan rakyat”, partai 
yang sekretaris jenderalnya dijabat oleh Pandu Kartawiguna itu menggabungkan 
diri ke dalam Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka.Bersama partai Masyumi, 
Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Wanita Rakjat, Angkatan Comunis Muda 
(Acoma), Partai Rakyat Indonesia, dan Laskar Rakyat Jawa Barat, PRD menolak 
Kabinet Syahrir II yang mengadakan Perjanjian Linggarjati di selatan Cirebon 
pada 10 November 1946.Pada 27 Juni 1947 Syahrir mengundurkan diri dan 
digantikan Amir Syarifuddin pada 3 Juli 1947. Tak lama kemudian Kabinet Amir 
jatuh karena perjanjian Renville. Amir menyerahkan mandatnya pada 23 Januari 
1948. Setelah itu, Presiden Sukarno menunjuk wakilnya, Mohammad Hatta, untuk 
membentuk kabinet baru. Hatta berusaha membentuk kabinet koalisi dengan 
merangkul semua partai.Sayap kiri menuntut empat kursi, termasuk jabatan 
Menteri Pertahanan. Hatta tak mengabulkannya karena mendapat tentangan dari 
Masyumi. Akhirnya pada 31 Januari 1948 Kabinet Hatta diumumkan. Hatta sebagai 
Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan. Kabinet ini didukung oleh 
Masyumi, PNI, Partai Katolik, dan Parkindo. Satu-satunya anggota sayap kiri 
yang duduk di kabinet adalah Supeno atas nama perseorangan. Dia menjabat 
Menteri Pembangunan dan Pemuda.Amir Syarifuddin yang tersingkir melancarkan 
oposisi dan membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR). FDR merupakan gabungan 
partai dan organisasi sayap kiri: Partai Sosialis (PS), PKI, Pesindo, Serikat 
Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), dan BTI. Organisasi itu dituduh 
berada di balik peristiwa Madiun 1948.Untuk mengimbangi FDR, pemerintah Hatta 
membebaskan tokoh-tokoh pro Tan Malaka dari penjara karena terlibat Peristiwa 3 
Juli 1946. Pada 6 Juni 1948, Tan Malaka mendirikan Gerakan Revolusi Rakyat 
(GRR) dengan pimpinan Dr Muwardi, Wakil Ketua Sjamsu Harja Udaja, dan 
Sekretaris Chairul Saleh.Geoffrey C. Gunn dalam New World Hegemony in the Malay 
World, menyebut GRR terdiri dari gabungan PRD, Partai Rakjat pimpinan Maruto 
Nitimihardjo, Persatuan Marhaen Indonesia (Permai), Laskar Rakjat Djawa Barat, 
Persatuan Invaliden Indonesia, Partai Buruh Merdeka pimpinan Sjamsu Harja 
Udaja, Partai Wanita Rakjat, Barisan Banteng Republik Indonesia pimpinan dr 
Muwardi, dan Acoma pimpinan Ibnu Parma.Setelah PKI ditumpas pada Peristiwa 
Madiun 1948, GRR kemudian melakukan konsolidasi. Pada 3 Oktober 1948, GRR 
dengan partai sehaluan seperti PRD, Partai Rakjat, Partai Buruh Merdeka, Acoma, 
dan Partai Wanita Rakyat berfusi menjadi Musyawarah Rakyat Banyak 
(Murba).Kongres peleburan partai itu baru dilaksanakan pada 7 November 1948. 
Tan Malaka, sebagai tokoh sentral gerakan tersebut, hadir. Dalam pidatonya, Tan 
Malaka mengatakan, “Kalau saudara kembali ke kampung, saya harap melaksanakan 
peleburan itu, seperti sudah terlaksana antara pucuk pimpinan yang sudah banyak 
memperlihatkan goodwill. Walaupun sekarang bisa dilihat begitu, tetapi juga 
saudara kalau sudah sampai di cabang, di desa dilupakan, bahkan saudara Maruto 
Nitimihardjo adalah bekas ketua Partai Rakjat, saudara Sjamsu Harija Udaja 
Ketua Partai Buruh Merdeka, saudara St Dawanis ketua Partai Rakjat Djelata, 
tetapi mereka adalah pemimpin saudara-saudara lainnya semua. Supaya saudara di 
desa menerangkan bahwa mereka bukan pemimpin dari Partai Rakjat, atau Partai 
Buruh Merdeka atau Partai Rakjat Djelata, melainkan pemimpin Partai Murba.”Tan 
Malaka sendiri memilih untuk tidak menjadi ketua Partai Murba. Ia tetaplah 
seorang yang berada di balik layar, sebagaimana kebiasaan yang telah melekat 
pada dirinya selama bertahun-tahun hidup dalam kejaran. Sukarni duduk sebagai 
ketua Murba didampingi St. Dawanis sebagai wakilnya. Tan menaruh harapan tinggi 
kepada kader-kadernya untuk memajukan Partai Murba yang baru saja dibentuknya. 
Dalam pidato itu dia bahkan memuji St Dawanis, Ketua PRD, dan Pandu 
Kartawiguna, Sekjen PRD, yang juga jadi pengurus Murba.“Sdr Dawanis yang datang 
dari Jakarta dan Jatinegara terpaksa menyeludup ke sana-sini, yang terpaksa 
melalui penjara Belanda, baru sampai ke sini; didampingi oleh sekretaris 
jenderalnya yang dia kenal dari dulu, yang tidak banyak bicara, tetapi meminta 
bukti, ialah Pandu Karta Wiguna,” imbuh Tan Malaka.Pada pemilu pertama 1955, 
PRD maju menjadi peserta pemilihan umum dan berhasil meraih satu kursi, 
sementara Murba meraih dua kursi. 
  #yiv7173972498 #yiv7173972498 -- #yiv7173972498ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-mkp #yiv7173972498hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-mkp #yiv7173972498ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-mkp .yiv7173972498ad 
{padding:0 0;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-mkp .yiv7173972498ad p 
{margin:0;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-mkp .yiv7173972498ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-sponsor 
#yiv7173972498ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-sponsor #yiv7173972498ygrp-lc #yiv7173972498hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-sponsor #yiv7173972498ygrp-lc .yiv7173972498ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7173972498 #yiv7173972498actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7173972498
 #yiv7173972498activity span {font-weight:700;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7173972498 #yiv7173972498activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7173972498 #yiv7173972498activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7173972498 #yiv7173972498activity span 
.yiv7173972498underline {text-decoration:underline;}#yiv7173972498 
.yiv7173972498attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7173972498 .yiv7173972498attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7173972498 .yiv7173972498attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7173972498 .yiv7173972498attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7173972498 .yiv7173972498attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7173972498 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7173972498 .yiv7173972498bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7173972498 
.yiv7173972498bold a {text-decoration:none;}#yiv7173972498 dd.yiv7173972498last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7173972498 dd.yiv7173972498last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7173972498 
dd.yiv7173972498last p span.yiv7173972498yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7173972498 div.yiv7173972498attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7173972498 div.yiv7173972498attach-table 
{width:400px;}#yiv7173972498 div.yiv7173972498file-title a, #yiv7173972498 
div.yiv7173972498file-title a:active, #yiv7173972498 
div.yiv7173972498file-title a:hover, #yiv7173972498 div.yiv7173972498file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7173972498 div.yiv7173972498photo-title a, 
#yiv7173972498 div.yiv7173972498photo-title a:active, #yiv7173972498 
div.yiv7173972498photo-title a:hover, #yiv7173972498 
div.yiv7173972498photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7173972498 
div#yiv7173972498ygrp-mlmsg #yiv7173972498ygrp-msg p a 
span.yiv7173972498yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7173972498 
.yiv7173972498green {color:#628c2a;}#yiv7173972498 .yiv7173972498MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7173972498 o {font-size:0;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498photos div {float:left;width:72px;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7173972498
 #yiv7173972498reco-category {font-size:77%;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498reco-desc {font-size:77%;}#yiv7173972498 .yiv7173972498replbq 
{margin:4px;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-mlmsg select, #yiv7173972498 input, #yiv7173972498 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-mlmsg pre, #yiv7173972498 code {font:115% 
monospace;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-mlmsg #yiv7173972498logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-msg 
p#yiv7173972498attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-reco #yiv7173972498reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-sponsor 
#yiv7173972498ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-sponsor #yiv7173972498ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-sponsor #yiv7173972498ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7173972498 #yiv7173972498ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7173972498 
#yiv7173972498ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7173972498 

   

Kirim email ke