http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/01/18/ojxz1v335-jenazah-pejuang-trikora-dimakamkan-di-tpu-pondok-ranggon


Rabu , 18 Januari 2017, 07:33 WIB

Jenazah Pejuang Trikora Dimakamkan di TPU Pondok Ranggon

Red: Esthi Maharani


Papua


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Jenazah satu-satunya perempuan sukarelawan operasi 
pembebasan Irian Barat dari penguasaan Belanda tahun 1961-1963, Herlina Kasim, 
akan dimakamkan di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta, pada Rabu (18/1) 
siang.

"Ibu sudah mengamanahkan demikian. Beliau tidak mau disemayamkan di Taman Makam 
Pahlawan Kalibata, Jakarta," kata kata anak laki-laki Herlina, Rigel Wahyu 
Nugroho, di rumah duka Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, 
Jakarta, Rabu dini hari.

Herlina yang lahir di Malang, Jawa Timur, pada 24 Februari 1941 meninggal dunia 
di RSPAD Jakarta pada Selasa malam pukul 22.45 WIB pada usia 75 tahun. Menurut 
Rigel, penerima penghargaan "Pending Emas" dari Presiden Soekarno itu sudah 
dirawat di rumah sakit selama 13 hari terakhir karena komplikasi penyakit.

"Pada pukul 22.45 WIB (Selasa) dokter menyatakan bahwa ibu sudah tidak bisa 
diselamatkan," kata Rigel.

Presiden Soekarno memberikan penghargaan Pending Emas pada tahun 1963, yang 
berupa emas seberat setengah kilogram serta uang Rp10 juta, atas jasa Herlina 
yang turut bergerilya dalam Tri Komando Rakyat (Trikora). Operasi Trikora 
merupakan pelengkap operasi Mandala yang beranggotakan satuan militer di bawah 
komando Mayor Jenderal Soeharto.

Dalam operasi Trikora, Herlina yang saat itu masih berusia 20 tahun ditugaskan 
bersama 20 sukarelawan sipil lain di hutan-hutan Irian Barat. Dia adalah 
satu-satunya perempuan di antara ratusan relawan yang terbagi menjadi 10 kompi.

Sebelum mendaftarkan diri dalam operasi Trikora, Herlina adalah seorang 
jurnalis di Maluku yang dikenal punya hubungan dekat dengan satuan militer 
setempat. Atas keberaniannya sebagai perempuan gerilyawan itulah Presiden 
Soekarno memberi penghargaan Pending Emas.

Namun, dia kemudian mengembalikan penghargaan itu kepada negara untuk 
menunjukkan niat tulusnya membebaskan Irian Barat.

"Ibu mengembalikan penghargaan itu karena memang niatnya tulus berjuang untuk 
kemerdekaan Irian Barat," kata Rigel.

Sumber : antara

Kirim email ke