Ben Anderson dan Indonesia 1965
 
" .. Antusiasme generasi muda dalam membaca karya Ben tampak dalam 
konferensi internasional yang digelar oleh Universitas Sanata Dharma yang 
bertajuk “Conference on Reviving Benedict Anderson: Imagined (Cosmopolitan) 
Communities. Konferensi yang diadakan pada 13-14 Januari 2017 ini mengupas 
ide-ide yang dihasilkan oleh Ben dalam berbagai karyanya. .. "
 
A.H.
 
---------
Original massage:
International People's Tribunal 1965 <[email protected]> schrieb am 
15:47 Dienstag, 17.Januar 2017:


admin posted: "Kejahatan besar yang terjadi pada tahun 1965 menyedot 
perhatian dari ilmuwan politik di Amerika. Benedict Anderson merupakan 
salah satu indonesianis yang mengamati secara cermat apa yang terjadi pada 
masa paling mencekam di Indonesia. Bersama dengan Rut"
 

New post on International People's Tribunal 1965
<http://www.tribunal1965.org/id/?author=6>

Ben Anderson dan Indonesia 1965
<http://www.tribunal1965.org/id/ben-anderson-dan-indonesia-1965/>
by admin <http://www.tribunal1965.org/id/?author=6>

Kejahatan besar yang terjadi pada tahun 1965 menyedot perhatian dari 
ilmuwan politik di Amerika.

Benedict Anderson merupakan salah satu indonesianis yang mengamati secara 
cermat apa yang terjadi pada masa paling mencekam di Indonesia. Bersama 
dengan Ruth McVey dan Frederick Burnell di Cornell University, ia membuat 
penelitian  tentang apa yang terjadi setelah 30 September 1965 dengan 
menggunakan sumber berita di radio, media massa dan dokumen. Tulisan ini 
diberi judul A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in 
Indonesia atau lebih dikenal dengan Cornell Paper. Karya Ben banyak 
menginspirasi peneliti-peneliti lain untuk mengungkap kebenaran yang selama 
ini dimanipulasi oleh pemerintah Orde Baru.

Ben telah meninggal lebih dari satu tahun lalu, tapi karyanya menghidupi 
generasi muda di Indonesia. Antusiasme generasi muda dalam membaca karya 
Ben tampak dalam konferensi internasional yang digelar oleh Universitas 
Sanata Dharma yang bertajuk “Conference on Reviving Benedict Anderson: 
Imagined (Cosmopolitan) Communities. Konferensi yang diadakan pada 13-14 
Januari 2017 ini mengupas ide-ide yang dihasilkan oleh Ben dalam berbagai 
karyanya.

Di dalam Plenary Session III: Keynote Address di Ruang Seminar Driyarkara, 
secara khusus Douglas Kammen memaparkan tulisannya mengenai Benedict 
Anderson and ‘the Cornell Paper’. Douglas yang juga penulis dari buku The 
Contours of Mass Violence in Indonesia, 1965-1968 menjelaskan mengenai 
tulisan Ben dan rekannya yang menyatakan bahwa Angkatan Darat lah yang 
mendorong program anti komunis, sehingga berujung pada pembunuhan 
besar-besaran yang menyebar begitu cepat ke seluruh wilayah Indonesia. 
Karena tulisan inilah, Ben dilarang oleh pemerintah Orde Baru untuk masuk 
ke Indonesia.

Di dalam sesi yang sama, Made Tony Supriatma memaparkan jaringan katolik 
konservatif di wilayah Asia Tenggara. Bartholomew Augustine Santamaria, 
seorang katolik konservatif, berperan sangat besar dalam menyebarkan paham 
anti komunis di Asia Tenggara; termasuk di Indonesia. Dalam menanamkan 
paham anti komunis di Indonesia, Santamaria bekerja sama dengan imam Jesuit 
yang kontroversial, Fr. Joop Beek, SJ.

Beek memiliki pusat pengkaderan bernama Khalwat Sebulan, dimana memiliki 
kedekatan dengan kekuasaan Orde Baru. Selain itu, ia juga membangun 
jaringan dengan pendukung Orde Baru, seperti Liem Bian Kie (Jusuf Wanandi), 
Lim Bian Koen (Sofjan Wanandi) dan Harry Tjan Silalahi.
<http://www.tribunal1965.org/id/wp-content/uploads/2017/01/anderson1.jpg>

Dalam penutupan konferensi ini, Hilmar Farid, pejabat Dirjen Kebudayaan, 
mengutip apa yang ditulis oleh Ben Anderson di dalam tulisan berjudul 
Nationalism Today and The Future bahwa nasionalisme bukanlah sesuatu yang 
diwariskan dari masa lampau, namun lebih kepada sebuah “proyek bersama“ (
common project) untuk kini dan di masa depan. Dan proyek ini lebih 
membutuhkan pengorbanan pribadi, bukannya malah mengorbankan orang lain. 
Bercermin dari apa yang ditulis oleh Ben, kekuasan yang dibangun oleh 
pemerintah Orde Baru telah mengorbankan jutaan rakyat Indonesia yang 
disiksa, ditahan dan dibuang tanpa adanya proses hukum.

Dan hingga kini, korban dan keluarganya belum mendapatkan keadilan dan 
masih dianggap sebagai ancaman bagi negara ini.

 

 



admin <http://www.tribunal1965.org/id/?author=6> | January 15, 2017 at 2:36 
pm | Tags: Ben Anderson
<http://www.tribunal1965.org/id/?taxonomy=post_tag&term=ben-anderson> , 
Cornell Paper
<http://www.tribunal1965.org/id/?taxonomy=post_tag&term=cornell-paper> , 
indonesianist
<http://www.tribunal1965.org/id/?taxonomy=post_tag&term=indonesianist> | 
URL: http://wp.me/p5t26j-pb <http://wp.me/p5t26j-pb>


Unsubscribe
<https://subscribe.wordpress.com/?key=5014a2d5f513a587d8a087bf8b150204&email=arif_harsana%40yahoo.com&b=LC-OtDC%7E%25F%2FYA%5BAeveJdqx2OFnwRx%26-7%5DegfdM1LPHezi%2FC%7C%7EOf>
 
to no longer receive posts from International People's Tribunal 1965.
Change your email settings at Manage Subscriptions
<https://subscribe.wordpress.com/?key=5014a2d5f513a587d8a087bf8b150204&email=arif_harsana%40yahoo.com>
 
.

Trouble clicking? Copy and paste this URL into your browser:
http://www.tribunal1965.org/id/ben-anderson-dan-indonesia-1965/
<http://www.tribunal1965.org/id/ben-anderson-dan-indonesia-1965/>
 




Kirim email ke