From: Zikky Zailani Sent: Wednesday, January 18, 2017 3:08 PM To: Institut Peradaban Subject: (Update) Undangan Seminar Peradaban (25 Januari 2017)
Undangan Seminar Institut Peradaban Institut Peradaban (IP) bekerjasama dengan Yayasan Wakaf Paramadina, Sinar Mas Group dan Pusat Studi Kelirumologi dengan hormat mengundang Anda hadir dan berpartisipasi dalam acara Seminar Peradaban pada: Hari Rabu, 25 Januari 2017 - pukul 12.00 bertempat di: Auditorium Nurcholis Madjid Universitas Paramadina Jl. Jenderal Gatot Subroto Kavling 97 Jakarta Selatan Topik Seminar: "Pergeseran Kepemimpinan lslam" Pembicara: - Dr. Ir. H. Helmy Faishal Zaini (Sekjen PBNU) - H. Hajriyanto Y Thohari, MA (Mantan Wakil Ketua MPR RI) - Fachry Ali, MA (Pakar Komunikasi Politik LIPI) Penanggap Utama: - Prof. Dr. Bahtiar Effendy - Dr. Ali Munhanif Moderator: M Zaki Mubarak Mengingat relevan dan pentingnya topik ini, kami sangat mengharapkan kedatangan dan partisipasi Anda. Berhubung dengan terbatasnya tempat, kami berharap kesediaan Anda untuk lebih dahulu melakukan konfirmasi kedatangan melalui email ke: [email protected] Atau SMS ke 0877 2111 8855 Institut Peradaban (IP) Prof. Dr. Salim Haji Said, M.A., MAIA, Direktur Eksekutif. ========================================================================================== Acuan Seminar "Pergeseran Kepemimpinan Islam" Bagaimana kita memaknai “Aksi Bela Islam” 2 Desember 2016 lalu yang dihadiri 500 ribu hinga 2 juta massa umat Islam? Dan seberapa besar dampak yang ditimbukannya, apakah membawa ampak yang signifikan memperkuat peran serta pengaruh kekuatan Islam dalam kehidupan bangsa? Ada banyak pertanyaan menggelitik yang ada dalam benak kita semua. Bila kita menganggap Aksi 212 sebagai cermin, tampak berbagai pantulan disitu. Banyak tafsiran mencoba menjelaskan apa yang sesungguhnya tengah berlangsung dalam Islam di negeri ini. Dari sejumlah media, online maupun cetak, ada sejumlah tafsiran yang bisa kita baca: dari yang sekedar sebagai mobilisasi Islamist yang menjadi ancaman serius bagi pluralisme dan toleransi, sebagai menguatnya kembali konservatisme dalam umat Islam, atau juga ekspresi solidaritas serta wujud kesalehan sosial. Tetapi ada juga yang memaknai lain, melihatnya sebagai bentuk ketidakpuasan umat Islam, terutama golongan middle class muslim yang semakin tumbuh dan terus membesar, kepada pemerintah yang dianggapnya kurang berpihak kepada mereka. Pada Aksi Bela Islam 212 itu sendiri ada beberapa peristiwa yang menarik untuk diperhatikan. Beda dengan sebelum-sebelumnya dimana kegiatan umat Islam yang berskala besar dan nasional yang umunya didominasi dan dikendalikan ormas keagamaan mainstream, seperti Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah, dalam Bela Islam 212 sama sekali tidak terlihat peran mereka. Satu hal lagi, aksi-aksi Islam yang terjadi beberapa bulan terakhir telah melambungkan sejumlah nama aktifis Islam menjadi “pemimpin ummat”, salah satu yang terpenting: Habieb Rizieq Shihab (HRS). Sebagai penggerakd an penguasa panggung Aksi Islam, Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu saat ini menjadi tokoh Islam yang makin diperhitungkan. Jumlah yang sangat besar umat islam yang hadir dalam Bela Islam 212 menunjukkan kepatuhan dan militansi yang luar biasa HRS. Aksi yang sebelumnya dikhawatirkan rusuh dan kacau itu, ternyata hingga selesai berjalan dengan sangat tertib, aman, dan damai. Tidak hanya itu, Presiden Jokowi sendiri pada akhirnya juga memutuskan keluar dari Istana untuk bergabung bersama massa Islam, bersembahyang jumat bersama mereka di lapangan Monas. Banyak yang menilai, meski tidak semua setuju, kehadiran Pak Jokowi merupakan bentuk pengakuan kepemimpinan Islam Habibi Rizieq Shihab. Kita tidak tahu apakah posisi ketokohan Habieb Rizieq Shihab dikalangan umat Islam saat ini hanya fenomena insidentil, atau ia mampu bertahan lebih lama? Yang terlihat saat ini kehadirannya HRS semakin banyak dielu-elukan dan tidak sedikit yang memberinya atribut sebagai pahlawan islam. Terdapat sejumlah pertanyaan yang bisa diajukan disini: 1. Apa sesungguhnya yang memotifasi kaum muslimin dari seluruh penjuru daerah di Indonesia (tidak hanya Jakarta dan Jawa, tapi juga banyak yang berasal dari Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi) rela berbondong-bondong datang ke Jakarta megikuti kegiatan itu? Apakah sekedar menguatnya identitas Islam atau ada factor-faktor yang sifatnya lebih mendasar? 2. Apakah juga Aksi 212 dapat diartikan sebagai munculnya kepemimpinan baru di tengah kecenderungan Islam Indonesa yang lebih konservatif? 3. Apakah juga fenomena seperti diuraikan dapat dimaknai sebagai merosotnya pengaruh kedua ormas Islam mainstream, NU dan Muhammadiyah, saat ini? Bila betul, apa saja implikasinya? 4. Bila Aksi 212 dilihat sebagai wujud ketidakpuasan kelas menengah muslim, bagaimana pemerintah seharusnya menanggapi? Bagaimana juga kira-kira ekspresi kelas menengah muslim itu selanjutnya? Narasumber Diskusi: 1. Dr. Ir. H. Helmy Faishal Zaini 2. H. Hajriyanto Y Thohari, MA 3. Fachry Ali, MA Penanggap Utama: 1. Prof. Dr. Bahtiar Effendy 2. Dr. Ali Munhanif
