Sekalipun cuma berandai-andai, saya tidak setuju dengan pandangan ini yang seolah menempatkan etnis Tionghoa sebagai penanggungjawab, penyebab utama, terjadinya intoleransi di Indonesia. Maklum, saya termasuk yang percaya bahwa konflik / perang antar-agama tidak pernah benar-benar ada. Sebab, yang lebih sering kelihatan adalah penunggangan agama untuk kepentingan politik. Lihat saja Perang Salib I misalnya, itu kan kepentingan Bizantium yang saat itu kewalahan menghadapi Seljuk, lalu meminta bantuan pada Paus Urban menghadapi lawan yang kebetulan non-Kristen. Begitu juga kasus Ahok sekarang yang lebih berakar pada kekecewaan masyarakat atas sepakterjang Ahok (mencaci, menggusur dll) dan terkesan terus dilindungi Jokowi. Semoga saja pendidikan di Indonesia bisa kembali memperlihatkanwarna-warni alam supaya kelak orang tidak lagi memandang hidup secara hitam-putih, terkotak-kotak, tetapi langkahnya selalu berawal dari pemikiran gebyah-uyah, pukulrata. --- jonathangoeij@... wrote: Seandainya saja agama Islam tidak dibawa oleh etnis Tionghoa, mungkin agama mayoritas masih tetap Hindu dan Budha, dan masalah intoleransi kemungkinan besar tidak akan terjadi. --- "Banyak budaya yang masuk ke Indonesia termasuk agama Islam dibawa oleh etnis Tionghoa," katanya saat menghadiri pembukaan Pasar Murah Imlek Artha Graha Peduli di SCBD, Sabtu (14/1). ... Yenny Wahid: Etnis Tionghoa Bagian Sejarah RI
SABTU, 14 JAN 2017 18:48 Yenny Wahid di acara Pasar Murah Imlek (Rieska/JawaPos.com) JawaPos.com - Aktivis dan politisi Yenny Wahid mengajak seluruh pihak untuk menjadikan momentum Hari Raya Imlek untuk saling menghargai. Berbagai bentuk intoleransi saat ini banyak tersebar di media sosial kepada etnis dan agama tertentu. Yenny mengaku prihatin sebab umat Tionghoa merupakan bagian dari sejarah bangsa RI. "Banyak budaya yang masuk ke Indonesia termasuk agama Islam dibawa oleh etnis Tionghoa," katanya saat menghadiri pembukaan Pasar Murah Imlek Artha Graha Peduli di SCBD, Sabtu (14/1). Yenny menambahkan dulu terjadi dinamika politik yang mewajibkan adanya Instruksi Presiden (Inpres) yang melarang budaya Tionghoa. Kemudian oleh ayahnya, almarhum Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur diluruskan. "Kita sebagai bangsa komitmen mengikat diri dengan negara yang terdiri dari berbagai macam suku budaya dan etnis. Namun ada satu etnis yang didiskriminasikan secara hukum," katanya. Bagi Gus Dur, kata Yenny, etnis Tionghoa merupaka bagian dari sejarah kebudayaan Indonesia. Yenny menambahkan kaum Tionghoa juga layak mendapat posisi yang sama di mata hukum. Masalah kesenjangan, kata Yenny, bisa berujung pada kecemburuan sosial dan meletup menjadi aksi intoleransi. "Kami justru berterimakasih pada etnis Tionghoa dulu masuknya islam, salah satu jalurnya ke bumi nusantara dibawa oleh Tionghoa," tuturnya. (cr1/JPG)
