Dikabarkan bahwa raport penyelidikan  JPMorgan sudah dirubah. Mungkin  dirubah 
agar rezim neo-Mojopahit tidak sedih.

From: mailto:[email protected] 
Sent: Friday, January 6, 2017 7:55 AM
To: [email protected] 
Subject: [GELORA45] Saat aksi Indonesia kepada JPMorgan menuai kritik

  




Medley menilai, risiko bagi pemerintah Indonesia adalah aksi mereka menjadi 
bumerang karena merusak kepercayaan investor terhadap riset market di tanah air.

"Hasil riset yang dipublikasikan menjadi pandangan yang terdilusi, namun aksi 
ini akan membuatnya lebih hambar. Investor ritel tidak akan memiliki gambaran 
apa yang sebenarnya menjadi pandangan analis karena laporan tertulis tidak 
menuliskan hal yang sebenarnya," papar McNamara.

...

Saat aksi Indonesia kepada JPMorgan menuai kritik
Kamis, 05 Januari 2017 / 14:42 WIB
38
SHARES
  a.. 
  b.. 
  c.. 
  d.. 
  e..   INDEKS BERITA


SINGAPURA. Indonesia baru saja memutuskan kontrak bisnis dengan bank asal AS, 
JPMorgan Chase  Bank NA. Pemicunya, riset lembaga keuangan internasional yang 
merekomendasikan penurunan dua level terhadap asset allocationIndonesia dari 
overweight ke underweight dinilai tak sesuai dengan fakta yang akurat.

Sejumlah kritik berdatangan terhadap aksi Indonesia. Para analis market global 
menganggap, dunia saat ini menjadi tempat yang berbahaya bagi analis yang 
skeptis, bank-bank yang mempekerjakan mereka, serta investor yang mengandalkan 
riset yang mereka publikasikan.

BACA JUGA :
  a.. Ini 4 kerjasama JPMorgan yang dicabut pemerintah 
  b.. Putus dari JPMorgan tak ganggu penerbitan SUN
Seperti yang dikutip dari Bloomberg, sejumlah negara -khususnya beberapa negara 
berkembang- melakukan upaya untuk mengekang hasil riset yang tidak 
menguntungkan bagi negara mereka. Bahkan dikatakan langkah ini sudah menjadi 
tren.

Pada Juli lalu, misalnya, regulator perbankan Turki mengeluarkan surat 
peringatan untuk menghindari laporan atau riset negatif. Sementara, pada 2014, 
Presiden Brazil Dilma Rousseff menghukum seorang analis yang menyebut bahwa 
terpilihnya kembali Rousseff sebagai presiden akan memukul perekonomian.

"Aksi seperti ini semakin agresif beberapa waktu belakangan," jelas Paul 
McNamara, emerging market fund manager GAM Ltd yang berbasis di London.

Menurut Medley Global Advisors, saat perusahaan pengelola dana (money manager) 
di seluruh dunia menarik dananya dari negara berkembang akibat kecemasan 
kenaikan suku bunga AS dan penguatan dollar, pemerintah suatu negara semakin 
sensitif terhadap opini analis yang kritis.

Medley menilai, risiko bagi pemerintah Indonesia adalah aksi mereka menjadi 
bumerang karena merusak kepercayaan investor terhadap riset market di tanah air.

"Hasil riset yang dipublikasikan menjadi pandangan yang terdilusi, namun aksi 
ini akan membuatnya lebih hambar. Investor ritel tidak akan memiliki gambaran 
apa yang sebenarnya menjadi pandangan analis karena laporan tertulis tidak 
menuliskan hal yang sebenarnya," papar McNamara.

Sekadar mengingatkan, JPMorgan memangkas pasar saham Indonesia sebanyak dua 
level menjadi underweight dari sebelumnya overweight dalam laporan yang dirilis 
13 November 2016 lalu. Alasannya, penurunan tersebut merupakan respon terhadap 
kemenangan Donald Trump pada pemilu presiden AS.

Selain itu, JPMorgan juga memangkas rating Brazil. Kendati demikian, 
JPMorganmenekankan bahwa kedua negara bisa memberikan peluang beli yang lebih 
baik ke depannya.

Mengutip Kompas.com, Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Pembiayaan dan 
Risiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan sebelumnya mengungkapkan, ada empat 
kerja sama JPMorgan yang diakhiri pemerintah.

Pertama, pemutusan kontrak sebagai dealer utama SUN (Surat Utang Negara). 
Kedua, sebagai peserta lelang Surat Utang Syariah Negara.

Lalu, ketiga, sebagai anggota panel join lead underwriter untuk menerbitan 
global bond. Keempat, sebagai penerima pajak bank persepsi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, dalam hal kerja sama dengan seluruh 
stakeholder diperlukan adanya prinsip profesionalisme, akuntabilitas, 
bertanggung jawab, termasuk kualitas dari keseluruhan hasil kerja. Utamanya, 
kerja sama yang dilakukan juga diharapkan bisa saling menguntungkan.

Namun menurut Sri Mulyani, sebuah lembaga dengan nama yang besar seperti 
JPMorgan, juga memiliki tanggung jawab yang besar dalam menciptakan psikologi 
positif. Apalagi, kondisi ekonomi sengat dipengaruhi oleh kondisi fundamental 
dan psikologis.

"Bukannya melakukan apa yang disebut misleading, dan ini sesuatu yang ingin 
kami lakukan," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di kantornya, Selasa 
(3/1).

Sri Mulyani juga mengatakan, pemutusan hubungan kemitraan tersebut menjadi 
sinyal bahwa pemerintah sungguh-sungguh bekerja menjaga Republik Indonesia 
secara profesional. Meski belum berarti sempurna lanjutnya, pemerintah akan 
terus melakukan perbaikan secara profesional, akuntabel, dan terbuka.

Tak hanya itu, ia mengaku pemerintah akan terus menciptakan hubungan saling 
menghormati dan saling percaya terhadap kedibilitas kerja yang dilakukan 
masing-masing.

"Dan kami harap seluruh partner kami juga memiliki sifat yang sama, 
profesional, terbuka dan bertanggung jawab terhadap hubungan yang positif ini," 
tambahnya.

Di luar kejadian tersebut, bisnis JPMorgan di Indonesia tetap beroperasi secara 
normal. "Dampak hal ini terhadap klien kami sangat minimal dan kami terus 
bekerjasama dengan Kementerian keuangan Indonesia untuk menyelesaikan 
permasalahan ini," jelas JPMorgan.

Memang pada Rabu (4/1) kemarin, Kemenkeu memberikan klarifikasi bahwa pihaknya 
tidak akan menghentikan JPMorgan dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia.

Perubahan sikap

Pendapat berbeda diungkapkan oleh analis lain. Bagi Andre Spicer, profesor Cass 
Business School di City University di London, adanya sikap dari sejumlah negara 
untuk menentang bank-bank besar dunia -seperti JPMorgan- merefleksikan 
berkurangnya reputasi industri di tengah krisis finansial global.

"Pada masa lalu, bank investasi besar merupakan penguasa dunia. Sekarang, 
sejumlah negara mulai menunjukkan otot-otot mereka," kata Spicer.

Kendati demikian, Indonesia masih tetap bergantung pada perusahaan sekuritas 
internasional. Sebab, para sekuritas tersebut menetapkan peringkat terhadap 
obligasi global yang menjadi acuan bagi investor luar negeri.

Berdasarkan data Asian Development Bank, per September 2016, 40% obligasi 
pemerintah Indonesia dipegang oleh investor luar negeri.

Christopger Wheeler, analis Atlantic Equities di London berpendapat, jika 
pemerintah Indonesia terus menjegal sejumlah bank karena kasus serupa, mereka 
bisa memperlemah kemampuan pemerintah dalam mendanai anggaran belanjanya.

"JPMorgan sudah lama beroperasi di Indonesia. Hal ini tentu akan memukul 
mereka, namun, dampaknya terhadap Indonesia akan jauh lebih negatif," papar 
Wheeler.





Reporter Adinda Ade Mustami, Barratut Taqiyyah Rafie 
Editor Barratut Taqiyyah



Kirim email ke