Rizieq dihabisi untuk cegah revolusi? 
http://rimanews.com/nasional/politik/read/20170119/313966/Rizieq-dihabisi-untuk-cegah-revolusi-
 18.2K
DILIHAT
 /
 15
SHARE
 /
 05:00
19 JAN 2017
 
 

 Penulis
 Dhuha Hadiansyah
 Analisis – Seminggu terakhir menjadi puncak serangan kepada Imam Besar Front 
Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Syihab, atau biasa dipanggil Habib Rizieq. 

 
 Dia dihadapkan pada sejumlah kasus: terutama dugaan penistaan Pancasila, 
benturan dengan GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) yang salah satu 
pembinanya adalah Kapolda Jabar, sengketa dengan PDIP, dan pemblokiran sejumlah 
akun yang berafiliasi dengannya. Di media sosial, dia dan FPI juga menjadi 
bulan-bulanan netizen, terutama setelah FPI bentrok dengan GMBI dan dia mengadu 
ke DPR.
 Habib Rizieq, yang saat demo kolosal menuntut dugaan penistaan  agama oleh 
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dielu-elukan, namanya kini sedikit banyak 
kelihatan sengaja digerus lewat sejumlah kasus tersebut.
 Dari sisi politik, popularitas Habib Rizieq sangat berbahaya. Bukankah Ahok 
dan Jokowi lahir dari popularitas?
 Terutama bagi rezim yang ingin mempertahankan kekuasaan, fenomena ngetopnya 
Habib Rizieq adalah ancaman serius. Kedua, naiknya ketenaran Rizieq menjadi 
momentum bersatunya kekuatan Islam. Hampir semua ormas Islam memberikan restu 
untuk Rizieq, minimal mendiamkan, kecuali NU struktural—di akar rumput, basis 
massa organisasi ini tak sedikit yang siap di barisannya.
 Pengangkatan Rizieq sebagai imam besar umat Islam secara politik tidak bisa 
dianggap remeh. Seruan revolusi yang beberapa kali didengungkan Rizieq bisa 
setiap saat disambut dan digerakkan untuk menggoyang rezim, jika tidak lewat 
aksi massa, balasannya bisa lewat Pemilu 2019, bukan waktu yang lama untuk 
proses politik.
 Oleh sebab itu, Rizieq perlu dihabisi. Caranya?
 Pertama Rizieq dibenturkan dengan Pancasila. Sebagai ideologi negara, 
Pancasila haram disentuh dan diotak-atik, dan pelakunya akan berhadapan dengan 
segenap kekuatan negara, terutama TNI dan polisi. Cara seperti ini pernah 
dilakukan terhadap PKI di Era Soeharto, yang membuat apa pun yang berbau partai 
komunis itu akan dibuat tak berkutik karena dijadikan musuh bersama.
 Kedua, Rizieq dan gerakannya dikonotasikan dengan radikalisme yang 
antikebhinnekaan. Kemajemukan Indonesia adalah keniscayaan yang sudah berterima 
berabad-abad. Mitologisasi gerakan Rizieq sebagai kelompok radikal dan 
membahayakan keragaman juga sangat efektif untuk mendelegitimasi gerakan 
tersebut sebagai wakil umat Islam secara umum, yang dikenal toleran dan 
moderat. Cara kedua ini pernah berhasil, dan yang menjadi korban adalah 
Masyumi—dianggap tidak nasionalis.
 Membendung gerakan rizieq ini misalnya dibenturkan dengan GMBI, yang 
direpresentasikan sebagai ormas nasionalis berbasis kultural. Satu-satunya 
ormas Islam yang bisa dikendalikan untuk membendung Rizieq adalah NU, mirip 
situasi pada tahun 1960an ketika pemerintah Soekarno menggandeng organisasi 
tersebut, yang saat itu sekaligus partai politik.
 Cara selanjutnya adalah membungkam massifnya pasukan Rizieq lewat isu hoax, 
yang dikatakan dosen filsafat UI Rocky Gerung sebagai bentuk kepanikan 
pemerintah sebagai pembuat hoax lebih besar. Jokowi adalah produk dari 
suksesnya kampanye lewat media sosial, terutama saat merebut kursi DKI 1 pada 
2012, dan lalu presiden. Tentu, Habib Rizieq juga mempunyai peluang yang 
sama—rezim pasti sadar betul tentang hal ini.
 Cara terakhir yang bisa dilakukan pemerintah adalah memenjarakannya. Peluang 
ini ada lewat perkara penistaan Pancasila. Sidang yang berulang-ulang akan 
memakan energi dan menimbulkan stigma buruk, yang sudah terbukti dengan bentrok 
massa FPI vs GMBI. Belum lagi jika Rizieq dinyatakan bersalah dan dibui, ini 
akan mengendurkan popularitasnya karena bakal sepi dari berita.
 
 Jadi, jika masih ingin mempertahankan momentum popularitas Rizieq, sebaiknya 
pendukung lebih mengedepankan kesabaran menghadapi serangan-serangan: tunggu, 
lihat dan serang, seperti strategi kampanye Jokowi saat Pilpres. Sebaliknya, 
bagi lawan, massa Rizieq yang meledak-ledak justru akan dijadikan titik lemah 
untuk diserang. 
 

 

 

 

 

 

Kirim email ke