Riziek memang perlu dihabisi untuk mencegah kekacauan di Indonesia. Demikian 
juga MUI yang melahirkan fatwa-fatwa kosong yang sama sekali tidak membangun, 
malah berusaha merusak jalan pemerintahan sekarang ini.

     Pada Jumat, 20 Januari 2017 4:40, "[email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> menulis:
 

     


Rizieq dihabisi untuk cegah revolusi?


18.2KDILIHAT/15SHARE/05:0019 JAN 2017





PenulisDhuha Hadiansyah
Analisis – Seminggu terakhir menjadi puncak serangan kepada Imam Besar Front 
Pembela Islam (FPI) Muhammad Rizieq Syihab, atau biasa dipanggil Habib Rizieq.

Dia dihadapkan pada sejumlah kasus: terutama dugaan penistaan Pancasila, 
benturan dengan GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) yang salah satu 
pembinanya adalah Kapolda Jabar, sengketa dengan PDIP, dan pemblokiran sejumlah 
akun yang berafiliasi dengannya. Di media sosial, dia dan FPI juga menjadi 
bulan-bulanan netizen, terutama setelah FPI bentrok dengan GMBI dan dia mengadu 
ke DPR.Habib Rizieq, yang saat demo kolosal menuntut dugaan penistaan  agama 
oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dielu-elukan, namanya kini sedikit banyak 
kelihatan sengaja digerus lewat sejumlah kasus tersebut.Dari sisi politik, 
popularitas Habib Rizieq sangat berbahaya. Bukankah Ahok dan Jokowi lahir dari 
popularitas?Terutama bagi rezim yang ingin mempertahankan kekuasaan, fenomena 
ngetopnya Habib Rizieq adalah ancaman serius. Kedua, naiknya ketenaran Rizieq 
menjadi momentum bersatunya kekuatan Islam. Hampir semua ormas Islam memberikan 
restu untuk Rizieq, minimal mendiamkan, kecuali NU struktural—di akar rumput, 
basis massa organisasi ini tak sedikit yang siap di barisannya.Pengangkatan 
Rizieq sebagai imam besar umat Islam secara politik tidak bisa dianggap remeh. 
Seruan revolusi yang beberapa kali didengungkan Rizieq bisa setiap saat 
disambut dan digerakkan untuk menggoyang rezim, jika tidak lewat aksi massa, 
balasannya bisa lewat Pemilu 2019, bukan waktu yang lama untuk proses 
politik.Oleh sebab itu, Rizieq perlu dihabisi. Caranya?Pertama Rizieq 
dibenturkan dengan Pancasila. Sebagai ideologi negara, Pancasila haram disentuh 
dan diotak-atik, dan pelakunya akan berhadapan dengan segenap kekuatan negara, 
terutama TNI dan polisi. Cara seperti ini pernah dilakukan terhadap PKI di Era 
Soeharto, yang membuat apa pun yang berbau partai komunis itu akan dibuat tak 
berkutik karena dijadikan musuh bersama.Kedua, Rizieq dan gerakannya 
dikonotasikan dengan radikalisme yang antikebhinnekaan. Kemajemukan Indonesia 
adalah keniscayaan yang sudah berterima berabad-abad. Mitologisasi gerakan 
Rizieq sebagai kelompok radikal dan membahayakan keragaman juga sangat efektif 
untuk mendelegitimasi gerakan tersebut sebagai wakil umat Islam secara umum, 
yang dikenal toleran dan moderat. Cara kedua ini pernah berhasil, dan yang 
menjadi korban adalah Masyumi—dianggap tidak nasionalis.Membendung gerakan 
rizieq ini misalnya dibenturkan dengan GMBI, yang direpresentasikan sebagai 
ormas nasionalis berbasis kultural. Satu-satunya ormas Islam yang bisa 
dikendalikan untuk membendung Rizieq adalah NU, mirip situasi pada tahun 1960an 
ketika pemerintah Soekarno menggandeng organisasi tersebut, yang saat itu 
sekaligus partai politik.Cara selanjutnya adalah membungkam massifnya pasukan 
Rizieq lewat isu hoax, yang dikatakan dosen filsafat UI Rocky Gerung sebagai 
bentuk kepanikan pemerintah sebagai pembuat hoax lebih besar. Jokowi adalah 
produk dari suksesnya kampanye lewat media sosial, terutama saat merebut kursi 
DKI 1 pada 2012, dan lalu presiden. Tentu, Habib Rizieq juga mempunyai peluang 
yang sama—rezim pasti sadar betul tentang hal ini.Cara terakhir yang bisa 
dilakukan pemerintah adalah memenjarakannya. Peluang ini ada lewat perkara 
penistaan Pancasila. Sidang yang berulang-ulang akan memakan energi dan 
menimbulkan stigma buruk, yang sudah terbukti dengan bentrok massa FPI vs GMBI. 
Belum lagi jika Rizieq dinyatakan bersalah dan dibui, ini akan mengendurkan 
popularitasnya karena bakal sepi dari berita.Jadi, jika masih ingin 
mempertahankan momentum popularitas Rizieq, sebaiknya pendukung lebih 
mengedepankan kesabaran menghadapi serangan-serangan: tunggu, lihat dan serang, 
seperti strategi kampanye Jokowi saat Pilpres. Sebaliknya, bagi lawan, massa 
Rizieq yang meledak-ledak justru akan dijadikan titik lemah untuk diserang. 





  #yiv9428279492 #yiv9428279492 -- #yiv9428279492ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-mkp #yiv9428279492hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-mkp #yiv9428279492ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-mkp .yiv9428279492ad 
{padding:0 0;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-mkp .yiv9428279492ad p 
{margin:0;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-mkp .yiv9428279492ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-sponsor 
#yiv9428279492ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-sponsor #yiv9428279492ygrp-lc #yiv9428279492hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-sponsor #yiv9428279492ygrp-lc .yiv9428279492ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9428279492 #yiv9428279492actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9428279492
 #yiv9428279492activity span {font-weight:700;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9428279492 #yiv9428279492activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9428279492 #yiv9428279492activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9428279492 #yiv9428279492activity span 
.yiv9428279492underline {text-decoration:underline;}#yiv9428279492 
.yiv9428279492attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9428279492 .yiv9428279492attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9428279492 .yiv9428279492attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9428279492 .yiv9428279492attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9428279492 .yiv9428279492attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9428279492 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9428279492 .yiv9428279492bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9428279492 
.yiv9428279492bold a {text-decoration:none;}#yiv9428279492 dd.yiv9428279492last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9428279492 dd.yiv9428279492last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9428279492 
dd.yiv9428279492last p span.yiv9428279492yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9428279492 div.yiv9428279492attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9428279492 div.yiv9428279492attach-table 
{width:400px;}#yiv9428279492 div.yiv9428279492file-title a, #yiv9428279492 
div.yiv9428279492file-title a:active, #yiv9428279492 
div.yiv9428279492file-title a:hover, #yiv9428279492 div.yiv9428279492file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9428279492 div.yiv9428279492photo-title a, 
#yiv9428279492 div.yiv9428279492photo-title a:active, #yiv9428279492 
div.yiv9428279492photo-title a:hover, #yiv9428279492 
div.yiv9428279492photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9428279492 
div#yiv9428279492ygrp-mlmsg #yiv9428279492ygrp-msg p a 
span.yiv9428279492yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9428279492 
.yiv9428279492green {color:#628c2a;}#yiv9428279492 .yiv9428279492MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9428279492 o {font-size:0;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492photos div {float:left;width:72px;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9428279492
 #yiv9428279492reco-category {font-size:77%;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492reco-desc {font-size:77%;}#yiv9428279492 .yiv9428279492replbq 
{margin:4px;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-mlmsg select, #yiv9428279492 input, #yiv9428279492 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-mlmsg pre, #yiv9428279492 code {font:115% 
monospace;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-mlmsg #yiv9428279492logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-msg 
p#yiv9428279492attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-reco #yiv9428279492reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-sponsor 
#yiv9428279492ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-sponsor #yiv9428279492ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-sponsor #yiv9428279492ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9428279492 #yiv9428279492ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9428279492 
#yiv9428279492ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9428279492 

   

Kirim email ke