Nesare: ". . . Dan ini dulunya bersumber pada “property”."
Pertanyaan saya: Kalau menurut bung, lalu property dulunya bersumber
pada apa?
Lusi.-



Am Sun, 29 Jan 2017 10:25:55 -0500
schrieb "[email protected] [GELORA45]" <[email protected]>:

> Macam2 definisi kapitalis itu. Seperti yang sudah saya tulis
> sebelumnya dan mungkin belum jelas bagi saya kapitalis itu orang yg
> menggunakan capital/modal dalam berusaha. Ketika seseorang
> menggunakan duit sebagai modal dalam berusaha, dia itu kapitalis. 
> 
> Kapitalis itu adalah supporter nya kapitalisme secara langsung dan
> atau tidak langsung. Langsung kalau dia sadar mendukung kapitalisme.
> Tidak langsung karena dia tidak mendukungnya. Kenapa? Karena dia anti
> Dan ini
> dulunya bersumber pada “property”.kapitalisme. Tetapi dia tetap
> kapitalis karena dalam hidupnya dia tetap menggunakan capital.
> 
>  
> 
> Marx menelorkan istilah burguis. Definisi marx burguis itu adalah
> kelas menengah. Ini yg dilihat oleh marx dalam hidupnya dimana para
> burguis ini merevolusikan industry dan menyebabkan proletariat.
> Disini konsep dasar marx bersandar. Teori2 marx itu berdasarkan
> asumsi ini dan saya tidak yakin marx punya definisi burguis/kapitalis
> itu adalah mereka2 yang menggunakan capital. Ini definisi saya. Bung
> berdua valid mempertanyakan definisi ini.
> 
>  
> 
> Selanjutnya marx mengklaim bahwa ujung2nya akan terjadi final
> revolution. Dasar pemikirannya karena adanya perbedaan kepentingan
> antara burguis vs. proleter.
> 
>  
> 
> Perlu diketahui istilah burguis itu sendiri sudah memudar di abad
> pertengahan 20. Sebetulnya pertentangan kepentingan ini sudah terjadi
> sejak dulu kala sebelum marx. Aristotle dijaman sebelum masehi sudah
> mengklaim ini. klaimnya adalah sebenarnya konflik politik itu
> kebanyakan bersumber dari kompetisi dalam persaingan ekonomi. Dan ini
> dulunya bersumber pada “property”.
> 
>  
> 
> Iseng2 saya mencoba menyederhanakan istilah2 ini:
> 
> Kapitalisme: private owned of means of production.
> 
> Sosialisme: transisi dari kapitalisme ke komunisme. Ini
> kombinasinya/jalan tengahnya/realitasnya. State organize ekonomi dan
> masyarakat dengan regulasi supaya kapitalis tidak merajalela. Begitu
> juga pekerja dapat menjalankan bisnisnya sbg private property/hak
> milik individu.
> 
> Komunisme: semua property dan barang didistribusikan oleh pemerintah
> secara kolektif. Ini ujung dari pemikiran marx.
> 
> 
> kira2 begini anekdotnya:
> 
> Capitalism: You have two cows. You sell one and get a bull. Your herd
> multiplies and the economy grows. You sell them and live comfortably. 
> 
> Communism: You have two cows. The state takes both and gives you some
> milk.
> 
> Socialism: You have two cows. The state gives one to your neighbor.
> 
> Nationalism: You have two cows. You make sure the cows, or the milk
> does not leave the country.
> 
>  
> 
> Jadi perbedaan dasarnya adalah: kepemilikan. Public ownership di
> komunisme dan private ownership di kapitalisme.
> 
>  
> 
> Ketika bung bertanya kenapa kapitalis mau membunuh castro, itu sama
> saja dengan pertanyaan kenapa lenin, stalin, mao dll juga membunuh
> orang lain termasuk sama2 komunis dan orang bukan komunis. Disini
> kelihatan sekali bung melihatnya dari sisi komunismenya. Disinilah
> kesalahan bung dalam melihat suatu masalah termasuk diskusi ini. jadi
> tidak heran ketika ada yang pro Jokowi dan pro pembangunan kereta api
> cepat, bung lalu mencap orang2 ini sebagai kapitalis dll. Tetapi
> sayangnya bung tidak bisa melihat sisi bagaimana bangsa Indonesia
> ingin maju, ingin makmur, ingin sejahtera. Semua ini karena bung
> terpatok dalam pemikiran ideolog itu. Hidup ini bukan hanya diukur
> dari ideologi saja. Hidup itu jauh lebih luar dari ideologi saja.
> Begitu juga bagi mereka2 yang hanya melihat hidup ini dari kacamata
> agama saja.
> 
>  
> 
> Saya lebih cenderung mengakui hebatnya bung Karno yang dapat melihat
> ini. Nasakom itu adalah produknya bung Karno dan produk yg hebat dari
> bangsa Indonesia. Perjalanan hidupnya melihat ini dan dituangkan
> dalam nasakom dan Pancasila. Itulah realitas bangsa Indonesia yang
> tidak bisa dipungkiri sampai kapanpun. Jadi jangan heran ada gerakan
> FPI yang akan ditentang habis2an oleh kelompok anti agamais. Sama
> saja kalaupun masih ada gerakan komunisme yang mau hidup diindonesia
> itu mimpi saja namanya bisa terjadi dibumi Indonesia dalam konteks
> sekarang. Seharusnya baik kelompok kiri termasuk komunisme, agama
> termasuk fanatic agama dan nasionalis ditengah akan harus bisa hidup
> bersama dalam koridor yang namanya demokrasi. Ini yang saya percaya
> lebih baik untuk mewadai semua kepentingan ekstrim kiri dan ekstrim
> kanan. 
> 
>  
> 
> Ini ini apa? Sosialisme! Bukan agama maupun komunisme!
> 
>  
> 
> Nesare
> 
>  
> 
> From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
> Sent: Sunday, January 29, 2017 9:19 AM
> To: [email protected]; [email protected]; Sunny
> <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi
> Kemiskinan
> 
>  
> 
>   
> 
> Pertanyaan yang bagus. Pertanyaan berikut, kalau semua mereka itu
> kapitalis, mengapa kekuatan kapitalis dunia begitu membenci dan ingin
> menggulingkan kekuasaan di bawah pimpinannya? Apalagi dalam kasus
> Fidel Castro, lebih dari seratus kali AS mencoba membunuhnya...
> 
>  
> 
> On Sunday, January 29, 2017 2:13 PM, "'Sunny' [email protected]
> <mailto:[email protected]>  [GELORA45]" <[email protected]
> <mailto:[email protected]> > wrote:
> 
>  
> 
>   
> 
> “Bagi saya marx, lenin, stalin, mao, castro dll itu semuanya adalah
> kapitalis”, apa itu kapitas?
> 
>  
> 
> From: mailto:[email protected] 
> 
> Sent: Sunday, January 29, 2017 1:39 PM
> 
> To: [email protected] <mailto:[email protected]>  
> 
> Subject: RE: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan
> 
>  
> 
>   
> 
> Tidak perlu dikirim ke saya.
> 
> Saya cukup mengerti jalan pikiran bung dan juga jalan pikiran chan.
> Sekurang2nya saya punya persepsi terhadap bung berdua dari
> tulisan2nya.
> 
> Sederhana bagi saya, saya beranggapan chan adalah kapitalis. Begitu
> juga saya dan mungkin bung. Kenapa saya bilang bung mungkin adalah
> kapitalis juga karena ketika bung masih mengandalkan capital dalam
> kehidupan sehari2 bung, bung telah menjadi seorang kapitalis dalam
> arti umumnya. Saya katakan “mungkin” karena saya tidak mengenal
> kehidupan bung. Siapa tahu bung hidup dihutan dan serba mandiri dan
> tidak pernah berhubungan dengan capital.
> 
> Bagi saya marx, lenin, stalin, mao, castro dll itu semuanya adalah
> kapitalis. Ketika sosialis dan komunis terbentuk dan dilabelkan
> kemereka2 ini, itu bukan berarti mereka bukan kapitalis. Mereka
> kapitalis lalu mereduksi dan mempermasalahkan kesalahan2 kapitalis.
> Solusinya adalah gerakan sosialisme dan komunisme. Bagi saya
> sederhana sekali ada pergerakan dari capital ke non capital tetapi
> gerakan ini tidak dapat menghilangkan artinya capital itu sendiri.
> TIDAK BISA!
> 
> Saya mencoba menulis berulang2 kali dengan menyinggung omongannya
> rizal ramli yang mengatakan “orang malu mengatakan dirinya kapitalis
> dan siapa yang bukan kapitalis”. Saya mencoba menyampaikan bahwa
> semua orang itu adalah kapitalis. Begitu juga saya ingin mengatakan
> semua orang itu juga adalah sosialis walaupun saya belum pernah
> mengkoinkan istilah ini dalam tulisan2 saya.
> 
> Jadi baik kapitalisme maupun sosialisme itu bagi saya adalah nyata
> dan ada serta tidak bisa dipisah2kan. Tidak ada kapitalisme sejati
> atau sosialisme sejati. Yang ada adalah percampuran/interaksi antara
> keduanya.
> 
> Penghisapan itu bisa terjadi baik di sosialisme maupun kapitalisme.
> Yang menghisap dan yang dihisap itu adalah orangnya. Kalau bung masih
> yakin bahwa manusia itu berdosa dan tidak sempurna, niscaya bung
> harus dan akan menerima bahwa disosialisme pun akan harus ada dan
> bisa terjadi adanya penghisapan. Ini saja asumsinya. Kalau bung
> berpendapat manusia itu bisa sempurna, saya bisa mengerti kalau bung
> ingin meniadakan penghisapan ini tidak ada di sosialisme.
> 
> Akhir kata: saya pro kapitalis, pro konglomerat, pro konglomerasi,
> anti penghisapan begitu juga saya pro sosialis, pro labor union, pro
> kelestarian lingkungan dll. Yang saya inginkan dan idam2kan bahwa
> rakyat Indonesia itu sejahtera dan makmur. Saya tidak pernah bermimpi
> bahwa akan hilang penghisapan dibumi Indonesia utk mencapai
> kesejahteraan dan kemakmuran ini walaupun saya bermimpi utk melihat
> hilangnya penghisapan ini. Jelas sekali dalam hidup saya yang masih
> bergejolak bertarung antara menerima penghisapan itu dan atau tidak
> menerima penghisapan itu. Tetapi saya terlalu kecil untuk
> mengetahuinya. Yang saya bisa ketahui adalah keinginan saya utk
> melihat kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia diluar
> kekuasaan saya untuk menghapus penghisapan itu sendiri.
> 
> Salam,
> 
> Nesare
> 
> From: [email protected] <mailto:[email protected]>
> [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, January 29, 2017 7:09
> AM To: [email protected] <mailto:[email protected]> ;
> [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: Re: [GELORA45]
> Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan
> 
>   
> 
> Jangan melupakan semua tulisan dan perdebatan saya dengan Chan. Kalau
> anda baca semuanya sejak lebih dari tiga tahun, jelas Chan
> pro-kapitalisme, pro-konglomerat, pro-penghisapan manusia atas
> manusia. Di sini tidak akan dan memang tidak perlu saya ulangi alasan
> dan argumentasi saya. Kalau anda mau, bisa saya kirimkan semua
> perdebatan itu langsung kepada anda. Saya masih menyimpan beberapa.
> 
> On Sunday, January 29, 2017 12:54 PM,
> "mailto:[email protected]%20[GELORA45]"; <[email protected]
> <mailto:[email protected]> > wrote:
> 
>   
> 
> Masih tidak berubah!
> 
> Gayanya masih seperti yang dulu walaupun kadar maki2nya sudah
> berkurang karena disemprit sama moderator.
> 
> Gayanya: lari dari diskusi. 
> 
> Sudah jelas ente salah melabel bung chan kebakaran jenggot, mencap
> bung chan kapitalis sejati, mencap bung chan pro konglomerat dll.
> Tidak ada satupun tulisan ente yang mengakui kesalahan2 ini.
> 
> Sekarang lari ke: “masalah memotong tali kemiskinan”. Dengan
> pertanyaan ke bung chan “Apakah bung Chan mempunyai pandangan/ide?”,
> tujuan ente itu apa? Bertanya, berdiskusi atau apa?
> 
> Setiap pertanyaannya setelah dijawab, ente itu gak ada komentar dan
> gak berdiskusi Ngeyelnya saja yang ada!
> 
> Coba belajar berdiskusi. Lari begini ini bukan berdiskusi!
> 
> Nesare
> 
> From: [email protected] <mailto:[email protected]>
> [mailto:[email protected] <mailto:GELORA45@yahoogroupscom> ]
> Sent: Saturday, January 28, 2017 1:15 PM To: [email protected]
> <mailto:[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan
> tidak Kurangi Kemiskinan
> 
>   
> 
> Selamat pagi Bung Chan, Selamat Hari Raya Imlek.
> 
> Terima kasih telah meluangkan waktu menuangkan pikiran, sebenarnya
> ingin menulis agak panjang lebar tetapi sayang ada beberapa acara
> pada hari ini. Saya tuangkan saja sebuah topik pembahasan diambil
> dari artikel awal.
> 
> Saya kutipkan yg diutarakan Sri Mulyani:
> 
> "Ini tidak mudah karena harus berlanjut dalam jangka menengah. Kalau
> kita lihat angka kemiskinan, yang harus diwaspadai adalah pertumbuhan
> kita tidak bisa mengurangi kemiskinan secara lebih cepat.
> Intervensinya bukan hanya melalui cash transfer, tapi juga memotong
> tali kemiskinan antargenerasi. Kalau keluarga miskin tidak bisa
> memberikan nutrisi anak mereka sejak di dalam perut sehingga anak
> tidak sehat, tidak punya akses kesehatan, tidak punya akses
> pendidikan, pasti anak mereka akan miskin dan cucu mereka juga
> demikian. Inilah kemiskinan antargenerasi."
> 
> 
> Apakah bung Chan mempunyai pandangan/ide?
> 
> 
> 
> ---In [email protected] <mailto:[email protected]> ,
> <mailto:SADAR@..> wrote :
> 
> Bung Goei, Selamat Pagi pertama kita memasuki Tahun Ayam-api!
> Mudah-mudahan ditahun AYAM ini dunia menjadi lebih damai dan
> sejahtera, sesuai dengan sifat ayam-api yang katanya lebih hangat
> bersahabat pada siapapun dan pandai mengais rejeki, ..! MAAAJUUUUU
> TERUUUS, ...!
> 
> Dari uraian bung dibawah ini saya bisa menyetujui jalan pikiran anda,
> bahwa segala hal memang tidak bisa dimutlakkan, relatif saja,
> termasuk kapitalisme dan sosialisme! Kedua isme yang bertentangan ini
> seringkali justru harus mengambil jalan tengahnya sesuai dengan
> KONDISI, kesadaran masyarakat yang dihadapi ketika itu, ... akan
> rusak kalau dijalankan secara mutlak, yang biasa orang menyataakan
> sebagai yang sejati, murni atau ASLI itu!
> 
> Contoh yang bung angkat sekolah gratis dari TK sampai Univ, semua
> ditanggung pemerintah. Bahwa Pemerintah hendaknya bisa menjamin dan
> menanggung setiap warganya untuk sekolah tentu betuuul! Begitu juga
> dengan masalah KESEHATAN/Pengobatan yang kenyataan sangat sulit
> dilaksanakan dengan terus makin melonjak tinggi biaya asuransi
> kesehatan membuat Pemerintah berteriak, .. Menurut saya, disini ada
> masalah KESADARAN masyarakat yang perlu diperhatikan, kenyataan tidak
> semua orang suka dan bisa belajar baik. Sementara orang memang lebih
> suka dengan GERAK jasmani daripada gerak otak, tidak suka belajar.
> Bagi mereka didorong saja masuk sekolah praktis untuk lebih cepat
> langsung bekerja sesuai kemampuannya. Dikasih sekolah-tinggi2 gratis
> ya percuma saja, ... hanya akan boros membuang tunjangan Pemerintah!
> Mestinya, TUNJANGAN hanya diberikan pada orang yang patut
> ditunjang, ...! Harus dijamin setiap warga bisa sekolah, .. tidak
> mesti harus GRATIS. Bisa juga dibuat uang sekolah murah yang PASTI
> kebayar oleh warga berkemampuan rata-rata, jadi pemerintah hanya
> memberikan GRATIS pada warga berpenghasilan rendah, kasih saja batas
> maksimum penghasilan keluarga atau orang tua anak itu. Sedang untuk
> mendorong kesungguhan anak-anak lebih rajin belajar, berikan gratis
> penuh pada anak-anak BINTANG-PELAJAR disetiap Kabupaten dan Propinsi,
> setgiap tingkat klas ditahun itu!
> 
> Begitu juga dengan asuransi KESEHATAN, menurut saya, mengingat
> tingkat kesadaran masyarakat sekarang, kenyataan BELUM BISA dibuat
> semua gratis! Baik kesadaran dokternya maupun pasiennya belum semua
> bisa dibikin gratis semua! Si dokter sebagai manusia normal juga
> berkehendak bekerja main keras bisa mendapatkan penghasilan lebih
> besar, mereka akan mencari jalan bagaimana bisa dapatkan pasien lebih
> banyak dan memberi obat-obat dari pabrik yang kasih komisi, misalnya.
> Sebaliknya juga pasien adalah manusia normal juga yang belum bisa
> berpandangan bagaimana menjalankan pola hidup sehat agar tidak usah
> kedokter nelenin obat, banyak orang masih saja berpikiran “Nikmatilah
> hidup ini dengan makan enak!”, apalagi kalau sakit juga bisa dapatkan
> pengobatan gratis! Bahkan pasien yang sudah bayar asuransi kesehatan,
> dia bilang: “RUGI dong, sudah bayar asuransi mahal-mahal kalau tidak
> digunakan!” hehehee, ... Dengan kesadaran masyarakat masih begini,
> apa bisa pemerintah memberi tunjangan kesehatan yang akan tidak terus
> melonjak tinggi dan akan terus meningkat dengan kecepatan makin
> hebat? Bukankah akan lebih baik pemerintah MENJAMIN setiap warga yang
> sakit bisa mendapatkan pengobatan yang layak sebagai manusia! Jadi
> warga tidak mampu saja yang ditanggung Pemerintah,sedang bagi warga
> yang mampu ya disuruh BAYAR, bahkan kalau perlu bayar penuh!
> Sementara pemerintah terus berusaha keras meningkatkan kesadaran
> masyarakat untuk jalankan pola hidup sehat sebaik-baiknya!
> 
> Tapi, bung Goei, ... dalam diskusi masalah mengatasi kemiskinan ini,
> entah darimana bung bisa berkesan saya mengandalkan peran
> konglomerat, hanya karena mengangkat contoh Wang Jianlin itu?
> Bukankah saya selama ini menekankan usaha Pemerintah yg selama 30
> tahun terakhir ini sudah BERHASIL mengentaskan lebih 600 juta
> rakyatnya dari kemiskinan? Prestasi BESAR begitu tentu saja usaha
> PEMERINTAH, bagaimana bisa bersandar pada konglomerat? Nah, untuk
> menyelesaikan lebih 50 juta warga miskin yang tersisakan itu, saya
> bilang nampaknya pemerintah mendorong konglomerat untuk ikut serta
> mempercepat mengentaskan kemiskinan. Karena pemerintah sudah
> menargetkan lebih 50 juta warga miskin yang tersisa itu harus selesai
> ditahun 2020 yad. Dan, ... karena pemberitaan yang berjalan di
> Tiongkok itu tidak sebebas dibarat, pemberitaan ada konglomerat yang
> ikut aktif membantu mengatasi kemiskinan baru saja terbaca oleh saya,
> padahal spt. Wang Jianlin itu ternyata sudah berjalan 2014, lebih 2
> tahun yl. 
> 
> Namun, saya pun memperhatikan, itulah arah perkembangan KESADARAN
> manusia yang menuntut kehidupan makin demokratis dan manusiawi
> terjadi secara wajar, ... dari tahun ke tahun, dari abad ke abad.
> Artinya perkembangan kesadaran manusia menghendaki kehidupan yang
> lebih demokratis dan manusiawi! Kehidupan masyarakat dijaman feodal
> jauh lebih demokratis dan manusiawi ketimbang jaman perbudakan,
> begitu juga kehidupan masyarakat kapitalis jauh lebih demokratis dan
> manusiawi ketimbang jaman feodal dan kehidupan jaman kapitalis
> sekarang juga jauh lebih demokratis dan manusiawi ketimbang jaman
> kapitalis 100 tahun yl. Umat manusia yang hidup didunia ini akan
> terjadi lebih saling memperhatikan, bisa memberi BANTUAN dan KASIH
> pada sesama manusia yang membutuhkan! Dan itu kenyataan yang akan
> terjadi, yang PASTI kesadaran umat manusia yang menuntut kehidupan
> demokratis dan manusiawi itu bukan monopoli komunis, sebagai manusia
> normal yang sehat, sekalipun kapitalis-kapitalis yang selama ini
> diberi label “Serakah dan KEJAM” itu juga akan muncul
> filantropis-filantropis, ... 
> 
> Salam,
> 
> ChanCT
> 
> From: Jonathan Goeij jonathangoeij@.. [GELORA45]
> 
> Sent: Saturday, January 28, 2017 1:12 AM
> 
> To: Yahoogroups
> 
> Subject: Re: [GELORA45] Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan
> 
> Ya namanya istilah kok mau diliteralkan, yg namanya kebakaran jenggot
> khan bukan benar2 berarti jenggotnya kebakaran, yg benar2 punya
> jenggot panjang juga seumur hidup jenggotnya nggak kebakaran tapi
> bukan berarti tidak pernah kebakaran jenggot. Saya cuman kasih
> contoh2 pemakaian kata kapitalis sejati se-hari2 dan umum bukan
> berarti pemakaian arti dalam berita itu bagi anda, juga nggak niru2
> istilah lha waktu nulis masa mesti searching dulu kata2 apa yg mau
> dipakai ngapain juga. Hanya orang2 yg hidup di-awang2 dan narsis yg
> sensitive banget yg sebentar2 offended tersinggung nggak karu2an
> kebakaran jenggot mempermasalahkan kata2 yg sebenarnya umum saja..
> 
> Kapitalisme dan sosialisme dew asa ini memang sudah campur baur
> bahkan sudah sedemikian menyatunya sehingga orang seringkali tidak
> sadar atau tidak ngeh lagi, orang2 yg teriak2 anti kiri anti
> progressive menyatakan diri sebagai kapitalis sejati juga nggak ngeh
> kalau dirinya bisa baca tulis sekolah gratis itu ya hasil dari
> sosialisme. Ngobrol2 sama teman yg menyuarakan ketidak setujuan
> program college gratis yg diajukan demokrat, menurut beliau itu tidak
> ada artinya karena mereka yg niat sekolah biarpun bayar ya tetap
> sekolah, itu tergantung kemauan katanya sambil juga berdalih ada
> financial aid sambil kasih contoh dirinya yg dapat financial aid
> sehingga bisa sekolah tanpa bayar. Saya ketawa sambil bilang anda
> beruntung tinggal di California yg dikuasai demokrat dgn banyak
> program2 progressive, California memang menyediakan financial aid
> sampai tingkat college bagi mereka yg eligible, lha gimana dgn mereka
> yg tinggal diluar California di state2 yg tidak progressive, program
> college gratis itu khan buat semuanya se luruh US. Saya katakan saya
> juga dapat financial aid jadi ngerti betapa pentingnya dan sangat
> bermanfaat, ketiadaan biaya merupakan obstacle besar dan bisa jadi
> batu sandungan.
> 
> Sekarang ini kalau bicara ekonomi politik adalah sebagaimana
> keterlibatan atau peranan negara didalamnya, orang2 progressive lebih
> cenderung peranan negara yg tinggi/besar sedang orang2 kapitalis
> sejati lebih menyerahkan pada peran serta masyarakat sendiri dengan
> meminimalkan peranan negara.
> 
> Dalam diskusi pementasan kemiskinan ini saya katakan anda kapitalis
> sejati karena kecenderungan anda dalam mengandalkan peranan
> konglomerat atawa taipan seperti Wang Jianling misalnya. Tentu
> philantropis seperti ini sangat bagus sekali tetapi dalam hal ini
> biarpun sangat kaya sekali juga jangkauann ya terbatas tidak bisa
> menyeluruh.
> 
>  
> 
> 
> 

Kirim email ke