http://www.republika.gq/2017/02/pernyataan-menggegerkan-sri-mulyani.html?m=1

Pernyataan Menggegerkan Sri Mulyani!!! 
Ini Masalah Anies Diberhentikan Dari Jabatan Menteri, ...
Pak Anies Jangan Pura-pura Tidak Tahu
 0  Azizah Masda  Jumat, 17 Februari 2017
 


Kondisi Ekonomi yang bergejolak sepanjang tahun 2015 sampai tahun 2016, telah 
memaksa Presiden Jokowi untuk melakukan perombakan kabinet. Maka dengan sopan 
santun Presiden Jokowi menjelaskan kepada Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim 
bahwa Pemerintah Indonesia membutuhkan Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan 
menggantikan Bambang PS Brojonegoro.



APBN-P 2016



Tidak butuh lama bagi seorang Sri Mulyani untuk mengetahui postur anggaran 
dalam APBN baik dari sisi penerimaan dan pengeluaran. Salah satu yang cukup 
mencengangkan adalah kelebihan dana anggaran di Kementerian Pendidikan dan 
Kebudayaan tentang dana anggaran tunjangan profesi guru di APBN 2017 sebesar 
23.3 triliun, sebuah angka yang fantastis.



Beberapa komentar yang muncul dari dana over budget ini menurut Kompas.com :



“Jadi gurunya memang enggak ada atau gurunya ada, tetapi belum bersertifikat, 
itu tidak bisa kami berikan tunjangan profesi. Kan tunjangan profesi secara 
persyaratan (berlaku) bagi mereka yang memiliki sertifikat. Coba bayangkan 
sebesar itu, Rp 23,3 triliun sendiri,” kata Sri Mulyani.



“Ini barangkali pembelajaran untuk perencanaan (anggaran) yang lebih baik 
sehingga kita tidak membuat over budgeting yang membuat beban yang luar biasa 
besar,” kata Sri Mulyani.



“Saya belum tahu masalahnya, tetapi ya tentu salah hitung,” ucap Kalla



“Kalau kelebihan ya dipotong. Yang penting belum dibelanjakan,” kata Kalla



“Kami malah mempertanyakan bagaimana mungkin pengelola guru bisa salah hitung 
anggaran tunjangan profesi guru yang tidak sesuai dengan kenyataan yang 
dibayarkan,” kata Unifah (Pelaksana Tugas Ketua PGRI)



“Yang dibayar hanya setengahnya lebih sedikit karena hanya 1,2 juta guru yang 
disertifikasi. Bandingkan dengan data guru yang diakui 2,2 juta guru. Artinya 
masih 1 juta guru yang belum disertifikasi,” ucap Unifah



Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan



Sesuatu yang aneh muncul, karena penjelasan over budget ini disampaikan oleh 
Dirjen Guru dan tenaga Kependidikan Sumarna Suryapranata, hal ini terjadi 
karena perubahan data guru yang sudah disertifikasi dan berhak mendapatkan 
tunjangan profesi. Ada data lainnya bahwa guru pindah menjadi pejabat atau 
pensiun.



Data jumlah guru tersertifikasi di Kemenkeu sebanyak 1.221.947 orang, sedangkan 
data di Kemendikbud sebesar 1.638.240 orang, artinya terdapat perbedaan sebesar 
416.473 orang. Bandingkan dengan data dari PGRI, jumlah guru tersertifikasi 
sekitar 1.2 juta dan yang belum tersertifikasi ada sekitar 1 juta guru.



Pembaca Seword.com keganjilan dan keanehan ini memunculkan beberapa pertanyaan 
seperti :



Mengapa data bisa berbeda di kedua kementerian dan PGRI untuk jangka waktu yang 
cukup lama ?

Mengapa seorang Dirjen

yang harus melakukan penjelasan, bukan Menterinya ?

Sudah berapa lamakah over budget ini terjadi ?

Bila selalu over budget kemanakah larinya semua uang tersebut ?

Anies Baswedan



Penulis gagal paham dengan semua kejadian tersebut karena menyangkut uang 23.3 
triliun yang salah hitung, dan seorang Anies Baswedan tidak atau belum 
melakukan penjelasan yang masuk akal. Banyak sekali pertanyaan yang muncul 
terhadap Anies akibat situasi ini :



Apakah penjelasan yang dilakukan oleh Dirjen merupakan bentuk lepas tangan ?



Ataukah karena ini sebuah pencitraan, karena selama ini Anies dikesankan 
sebagai orang yang santun ?



Bagaimana apabila bapak menjadi seorang Gubernur ?



Apakah akan melemparkan kesalahan ke bawahan dan bla. . . bla . . . bla . . .?



Untung saja ada Sri Mulyani yang begitu teliti dan detail sehingga kesalahan 
yang ada dapat segera ditemukan. Sekali lagi sosok Sri Mulyani harus 
diapresiasi dengan secangkir kopiku. Ketidakcermatan ini, menjadi sangat 
mungkin bahwa ini sebagai salah satu bahan pertimbangan Pakde Jokowi pada 
akhirnya mengkartu merah Anies.



Gubernur DKI Jakarta



Menjadi Gubernur DKI Jakarta yang memiliki tingkat kompleksitas pekerjaan yang 
lebih banyak walaupun dalam skala Propinsi tetapi menyangkut semua bidang 
pemerintah. Kita ingat bagaimana problem yang dihadapi Pakde Jokowi dan Koh 
Ahok saat memimpin mulai dari perdebatan anggaran di DPRD yang sarat 
kepentingan, Staf Pemda yang masih memiliki sifat birokrat bukan pelayan 
masyarakat. Mulai dari isu sederhana ibu-ibu yang tidak bisa membeli buku untuk 
anaknya sampai reklamasi yang berskala nasional dengan segala kerumitannya.



Semua persoalan yang ada harus diselesaikan dengan teliti dan profesional, dan 
yang paling penting berani menanggung kesalahan anak buah, tampil di depan, 
bukan dengan beretorika. Level DKI Jakarta dibawah Pakde Jokowi dan Ahok sudah 
sedemikian tinggi, semua harus cepat, tepat dan teliti sehingga yang ada adalah 
kerja, kerja, kerja, kerja dan kerja.



Apakah seorang Anies mau dan mampu menjadi Gubernus DKI Jakarta ? Apabila 
melihat CV beliau sebagai seorang mantan Mendikbud dan track record nya, bagi 
penulis rasanya terlalu riskan dan berbahaya untuk seukuran DKI Jakarta. Ingat 
Pak Anies uang 23.3 triliun bukanlah uang yang sedikit dan perlu 
dipertanggungjawabkan secara hukum, bukan sekedar menghabiskan anggaran 100% 
untuk bagi-bagi proyek balas budi. Ah . . . Untungnya 23.3 triliun selamat.[sbr]


Kirim email ke