Senin 20 Feb 2017, 00:17 WIB
 Sempat Ada Penolakan, Acara Cap Go Meh Lintas Agama Berhasil Digelar 
https://news.detik.com/berita/d-3426517/sempat-ada-penolakan-acara-cap-go-meh-lintas-agama-berhasil-digelar
 
 Angling Adhitya Purbaya - detikNews
 

 Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

 

 Semarang - Perayaan Cap Go Meh dengan menghadirkan sejumlah tokoh agama serta 
ribuan warga Kota Semarang berlangsung lancar meski sebelumnya ada penolakan. 
Pemecahan rekor makan lontong Cap Go Meh terbanyak pun terpecahkan.

Warga berkumpul di halaman Balai Kota Semarang dan duduk lesehan termasuk Wali 
Kota Semarang, Hendrar Prihadi dan sejumlah tamu lainnya. Bersamaan, makanan 
khas lontong Cap Go Meh disantap dan berhasil memecahkan rekor Muri dari Berau 
Kalimantan Timur. Kali ini ada sekitar 11.700 warga yang menyantap kuliner 
tersebut bersamaan.

Acara bertajuk "Semarak Cap Go Meh 2017 Pelangi Budaya Merajut Nusantara" itu 
direncanakan digelar di halaman parkir Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), namun 
karena ada pihak yang bersikeras menolak, dengan terpaksa pihak panitia dan 
MAJT memindahkan lokasi karena khawatir terjadi pengerahan massa yang menolak.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi atau yang akrab disapa Hendi mengatakan Cap 
Go Meh sebenarnya bukan ritual agama melainkan budaya layaknya budaya Suronan 
di Kota Semarang. Menurutnya perlu ada diskusi agar pemahaman tidak keliru.

"Kita majemuk dan perbedaan jadi kekuatan bagi Kota Semarang. Kalau ilmunya 
belum segitu, kita ajak diskusi terus, kita ajak mereka berbicara terus supaya 
pemahaman seimbang dan tidak menduga sesuatu yang keliru," kata Hendrar di 
Balai Kota Semarang, Minggu (19/2/2017).

Sementara itu Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji mengatakan 
pihaknya secara pribadi menyatakan salut kepada Ketua Paguyuban Sosial Marga 
Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah Dewi Susilo Budiharjo yang memprakarsai 
acara. Ia menyayangkan adanya penolakan acara yang berniat menunjukkan 
persatuan antar umat beragama itu.

"Saling hormat menghargai, bukan sedikit-sedikit di Semarang akan ada agenda 
kegiatan berbau agama, disertai penolakan. Amat saya sayangkan. Kegiatan ini 
resmi dilindungi Undang-undang. Saya terimakasih kepada pak wali dengan sigap 
kegiatan dialihkan di kantor Balai Kota. Mudah-mudahan kawan-kawan kita yang 
menolak itu bisa ikut hadir sehingga menyaksikan langsung, melanggar kaidah 
agama atau tidak," terang Abiyoso.

Penyelenggaraan acara tersebut tidak hanya diterpa penolakan, namun juga hoax 
di media sosial. Dalam hoax yang tersebar, acara disebutkan akan menyuguhkan 
makanan dengan bahan babi.

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah Dewi Susilo 
Budiharjo menjelaskan lontong Cap Go Meh tidak mungkin dicampur dengan babi dan 
tentu saja dengan mengundang berbagai elemen agama, panitia tidak mungkin 
menyuguhkan makanan berbahan babi.

"Kenapa lontong Cap Go Meh? Karena dikenal di seluruh Indonesia dan berasal 
dari dari Jawa Tengah. Ini dari Semarang untuk Indonesia, saya ingin ajak 
seluruh warga Kota Semarang mari serukan kebhinekatunggalikaan," kata Dewi.



 Festival cap go meh di Semarang. Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom

 


Acara yang berlangsung hingga malam hari itu pun berjalan lancar. Berbagai 
hiburan ditampilkan antara lain barongsai dan tari Sufi. Pemecahan rekor pun 
berlangsung semarak karena warga bisa makan gratis lontong Cap Go Meh.


(alg/nkn)
 
 

Kirim email ke