Ahad , 19 February 2017, 09:39 WIB
 Lima Ikan Arab, Humor Pepo, dan Lucuan di Putaran Dua Pemilukada 
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/02/19/ollopz385-lima-ikan-arab-humor-pepo-dan-lucuan-di-putaran-dua-pemilukada
 
 Red: Muhammad Subarkah

 

 

 Warga yang tergabung dalam kelompok Bangga Jakarta melakukan aksi damai 
menggunakan topeng pasangan calon Gubernur DKI Jakarta saat menyampaikan Petisi 
Pilkada Damai di depan Kantor KPU DKI Jakarta,Jakarta Pusat, Kamis (13/10).

 

 Oleh: Abdullah Sammy*

Engkong Sanwani yang umurnya udah 80 tahun sakit keras di rumah sakit. Pas 
ditengokin sama anak bontotnya, si Mamat, napas engkong udah tinggal satu-dua.

Mamat lekas manggil Uztaz Naim buat lempengin jalan babenya. "Be, sabar ya be," 
kata si Mamat sambil mendekat ke arah engkong Sanwani yang semakin megap-megap.

Mendadak, si engkong kasih isyarat minta diambilkan bolpen. Si uztaz buru-buru 
rogoh bolpen plus robekan amplop di kantong celana.

"Nih Mat, kasih babe lo bolpen sama kertas kecil," kata si Uztaz Naim ke Mamat.

Mamat pun segera gerak cepat. Dalam hatinya, Mamat mikir soal warisan. Kebayang 
tanah waris di Rawa Belong di kepala Mamat. "Alhamdulillah, ada rezeki di 
tengah musibah," pikir Mamat dalam hati.

Si engkong buru-buru nulis dengan tangan yang bergetar. Abis selesai engkong 
nulis, uztaz minta Mamat untuk bacain itu surat.

"Mat, ente kagak bacain tuh surat dari babe?" tanya Uztaz.

"Kagak enak taz, nanti aja. Suasananya gak enak," kata Mamat sambil ngantongin 
surat yang ditulis engkong.

Gak lama dari situ lewat juga si engkong. Inalillahi wa innailaihi rojiun.

Akhirnya, jenazah engkong dibawa uztaz dan si Mamat pulang ke Rawa Belong untuk 
persiapan nguburin.

Sampe rumah, Mamat langsung ngumpulin adek dan mamangnya. Maksudnya mau bacain 
surat wasiat si engkong.

Pelan-pelan, dibuka deh itu surat. Bukannya ngebaca, Mamat malah pingsan. Dia 
semaput sampe jungkir balik.

"Buset, berat bener pasti isi wasiatnya," pikir Uztaz Naim.

Dengan langkah mantab, si uztaz akhirnya ngambil itu kertas sambil bacain pesan 
terakhir dari Engkong Sanwani. Ternyata pesannya bunyinya begini, "Mat minggir, 
selang oksigen babe elu injek!"

Kisah di atas hanya sekadar rekaan komedi populer di kalangan masyarakat 
Betawi. Banyak yang menyebutnya lawakan asal goblek. Asal goblek adalah ucapan 
celpas ceplos yang umumnya memiliki sisi humor yang tinggi.

Ya, memang Betawi adalah salah satu sutu suku yang memiliki budaya dan khazanah 
humor yang kaya.

Kalau disuruh memilih siapa pelawak terbaik sepanjang masa, rasanya dalam 10 
besar klasemen yang saya susun, nama seniman asal Betawi akan mendominasi.

Mulai Benyamin Sueb, Haji Bolot, dan Oppie Kumis menjadi salah satu contohnya. 
Jangankan pelawak, politikus atau pengamat asal Betawi saja punya sisi humor 
tinggi. Sebut saja Haji Lulung dan 'Babe' Ridwan Saidi.

Jadi tak heran, jika pentas Pemilukada DKI juga disikapi dengan banyak ragam 
humor. Entah yang disengaja ataupun tak disengaja. Entah humor itu disebabkan 
si calon atau ulah pendukungnya.

Yang jelas, menarik juga kita membedah aspek humor dalam Pemilukada DKI kali 
ini. Selain jadi hiburan tersendiri, humor nyatanya bisa meredakan tensi yang 
hingga kini tak juga turun.

Sejarah pun mencatat humor punya peran dalam politik. Bahkan peran humor bisa 
sampai menghancurkan sebuah bangsa.

Sebagai contoh adalah peran humor di masa Perang Dunia II. Kita tentu mengenal 
karakter tokoh pantomim legendaris, Charlie Chaplin.

Pada 1940, pria bernama lengkap Sir Charles Spencer Chaplin itu memproduksi, 
menulis, sekaligus membintangi film berjudul The Great Dictator. Ini adalah 
film komedi satire untuk mengkritisi sosok pemimpin Nazi Jerman Adolf Hitler.

Film itu tersebar luas sepanjang Perang Dunia II ke kalangan prajurit di garis 
depan. Ini demi meningkatkan moral prajurit sekaligus menghabisi karakter 
Hitler yang saat itu tampak begitu superior.

Lima tahun setelah itu, pasukan di garis depan sekutu bisa menembus wilayah 
Jerman hingga membuat Hitler dan Nazi luluh lantak.

Contoh lain adalah bagaimana cara Amerika memenangkan Perang Dingin melawan 
Soviet. Salah satu senjata ampuh Amerika justru bukan senjata, melainkan serial 
humor kartun The Simpson.

The Simpson garapan Matt Groening jadi salah satu tonggak penghancur moral 
Soviet. Sejak pertama kali diputar pada 1989 hingga awal 1990-an, the Simpson 
kerap menampilkan lelucon tentang Soviet.

Hal yang akhirnya membuat muda-mudi Soviet merasa malu akan negaranya sendiri. 
Serial itu pun lagi disebarkan Amerika ke wilayah Soviet, terutama ke wilayah 
perbatasan, yang masih bisa mengangkap sinyal antena dari negara lain. 
Nasionalisme mereka perlahan luntur.

Pada akhirnya serial humor itu sukses dengan propaganda politiknya. Muncul 
kemudian gerakan dari 12 Republik di Uni Soviet untuk memisahkan diri. 
Puncaknya Soviet bubar pada Desember 1991, atau dua tahun setelah serial The 
Simpson diputar perdana.

Apa yang terjadi di Jerman dan Soviet menggambarkan betapa kuatnya pengaruh 
humor dalam pertarungan dan perang politik dunia. Hal ini juga berlaku dalam 
pertarungan politik di Indonesia, khususnya Pemilukada DKI yang hingga ini 
'perangnya' masih membara.

 

 

 Warga Kampung Aquarium menuntun sepedanya usai mengikuti Pilkada DKI Jakarta 
di TPS 16, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (15/2).

 

 Dalam kontestasi Pemilukada DKI, sisi humor memang menjadi senjata. Ini 
utamanya jika kita berkaca pada pertarungan di ranah sosial media.

Sayangnya, lebih banyak humor yang sarkas ketimbang berkualitas. Ini utamanya 
menyasar pada karakter kandidat yang kerap dihabisi atau di-bully dengan 
strategi menyebar lelucon serta meme di dunia maya.

Karen Scubert lewat artikelnya di USA Today berjudul, “Bazar goes Bizarre”, 
mengartikan meme adalah kegiatan, konsep, atau slogan untuk memengaruhi satu 
orang ke orang lain. Biasanya dilakukan dengan mengunggah editan narasi foto 
atau video.

Strategi melepas lelucon meme aktif dilancarkan para pendukung Ahok pada lawan 
politiknya. Jika ditilik dari intensitas, kubu Agus Yudhoyono (AHY)-Sylviana 
Murni yang kerap jadi sasaran. Ini utamanya sebagai respons setelah SBY 
terlibat aktif dalam kampanye Agus.

Jadilah SBY selalu jadi sasaran bully dengan cara menjadikannya bahan meme. 
Meme disebar untuk mendeligitimasi setiap pernyataan SBY di sosial media. Mulai 
dari tema 'lebaran kuda, saya bertanya ke bapak presiden dan kapolri, Antasari, 
hingga terkait pribadi.

Agus pun tak ketinggalan di-bully dengan lelucon seputar pribadi. Tujuan 
serangan lelucon itu lebih pada penghabisan karakter. Ini juga untuk menutupi 
isu yang disampaikan SBY dan Agus, utamanya soal tekanan penguasa sepanjang 
pemilukada.

Pihak SBY dan Agus memang kerap melontarkan pandangannya yang kerap 'diganggu' 
penguasa. Ini tak terlepas dari laporan hukum yang mendadak menyerang Sylviana 
Murni.

Eskalasinya makin meningkat dengan munculnya demo di kediaman pribadi SBY yang 
disebut ada kekuatan besar yang menggerakkannya. Ditambah pula manuver Antasari 
24 jam sebelum pencoblosan yang menuding SBY sebagai dalang kriminalisasi kasus 
pembunuhan.

Semua protes dan reaksi balik kubu Agus atas serangan kepadanya itu, malah 
di-counter dengan strategi melempar lelucon dan meme. Jadilah humor strategi 
ampuh untuk menghabisi karakter dan mengaburkan substansi serangan balik SBY 
dan Agus kepada penguasa.

Sayangnya, kubu Agus memang tak membalas lelucon atau meme itu secara 
sistematis. Perlawanan balasan memang ada, tapi lebih secara sporadis.

Justru strategi yang lebih efektif dilakukan kubu Anies Baswedan untuk 
menghadapi bully dan serangan meme lelucon sarkas dari kubu pro Ahok. Secara 
sistematis, Anies mambalas lelucon dengan humor cerdas. Caranya degan 
mengunggah video respons jenaka Anies saat mengomentari bully-an terhadapnya di 
Twitter.

Anies dan Sandi juga menggunakan strategi jenaka sebagai bagian untuk 
memperkuat branding dan program kerjanya. Ini contohnya program Oke Oce. Dengan 
tarian jenaka, lagu, dan gaya tangan khas yang cukup lucu serta segar, Sandiaga 
Uno mampu membuat masyarakat tersedot perhatiannya. Sehingga branding Oke Oce 
benar-benar melekat kuat di kalangan pemilih.

Strategi jenaka juga dilakukan Anies-Sandi dengan menggandeng artis seperti 
Raffi Ahmad. Sebuah acara dialog ringan yang disisipi humor jadi jualan 
kampanye pasangan ini pada hari-hari terakhir menjelang pencoblosan.

Masih ada pula aksi Anies-Sandi yang memarodikan video "Om Telolet Om". Segala 
strategi ini menyedot atensi publik. Sehingga akhirnya, kesan segar dan jenaka 
lebih dimiliki pasangan Anies-Sandi ketimbang yang lain.

Humor cerdas inilah yang akhirnya membuat strategi bully dengan lelucon sarkas 
tidak terlalu mempan pada Anies-Sandi. Strategi lelucon sarkas malah ampuh 
menimpa Agus-Sylvi yang terkesan lebih formal dan kaku.

 

 

 Sosialisasi Pilkada DKI

 

 Kini memasuki putaran kedua, sisi humor agaknya masih akan menjadi senjata 
masing-masing kubu, baik Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi.

Kubu Ahok sepertinya masih mengandalkan serangan lelucon dan meme untuk 
mem-bully lawan di media sosial. Di sisi lain, Anies-Sandi dengan strategi 
humor cerdas yang lebih fokus pada penguatan karakter dan program.

Tapi di sisi lain, lelucon yang pada awalnya menimpa AHY yang sudah tersingkir 
malah akan menentukan hasil putaran dua. Pendukung Agus-Sylvi yang pada putaran 
pertama jadi korban bully, kini berbalik memegang kendali.

Menyerang lawan yang suaranya paling rendah memang sejatinya malah menjadi 
bumerang dalam sistem pemilihan seperti Pemilukada DKI ini. Kebijakan sejumlah 
tokoh politik, timses, hingga Ahok yang dalam sejumlah kesempatan menyerang 
Agus, Partai Demokrat, dan SBY kini jadi senjata yang terancam membunuh balik 
mereka pada putaran kedua.

Karena itu wajar jika kini buzzer Ahok sedang sibuk-sibuknya meredam dan 
menghapus unggahan meme mem-bully SBY dan Agus. Mereka malah berbalik sibuk 
memuji setinggi langit Agus demi meraih simpati pemilihnya.

Di sisi lain, kini saatnya kubu Agus yang bisa balas 'mem-bully' lawannya di 
kotak suara. Karena dengan 900 ribu suara yang mereka miliki, suara Agus akan 
sangat berpengaruh menentukan siapa pemenang Pemilukada DKI pada putaran kedua. 
Sebab, di sisi lain, Ahok cuma unggul sekitar 150 ribu suara pada putaran 
pertama atas Anies.

Melihat kondisi ini, sejenak saya bekhayal membayangkan kubu Agus sedang 
memutar kembali bully-an dari pendukung Ahok. Dari mulai lelucon soal pepo, si 
mantan, lebaran kuda, demo nasi bungkus, maupun soal Antasari.

Tentu semua kini sedang sibuk merayu kubu SBY dan Agus. Imbalannya bisa dengan 
mahar politik. Maharnya tentu bukan seperangkat mobil berisi nasi bungkus. 
Bukan pula dengan sepeda atau ikan tongkol.

Tapi, tokoh sekelas SBY sulit diprediksi. Sulit untuk menerka apa langkah 
pemimpin yang dikenal sebagai ahli taktik ini pada putaran kedua.

Tapi menjadi seorang SBY saat ini sungguh nyaman. Dia mungkin saja sedang 
tertawa melihat bagaimana musuh politiknya, kini berbalik menjilatnya.

SBY bisa memetik gitar sambil bernyanyi lagu melankolis kepada para lawan 
politiknya. Tembang yang pas untuk dibawakan mungkin adalah lagu populer Tetty 
Kadi berjudul "Balada Seorang Minta-Minta".

Namun, belum juga lagu koalisi terdengar dari SBY, sebuah fiksi humor sudah 
ramai menghiasi sosial media.

Kisah fiksinya seperti ini. Singkat cerita, SBY akhirnya diajak bertemu untuk 
membahas koalisi di Istana.

SBY pun sepakat akan memberi hadiah dukungan pada putaran kedua pemilukada. 
"Syaratnya penghuni istana bisa menyebut lima nama ikan dalam bahasa Arab!"

Si empunya istana pun menjawab. "Ikan kakaf, ikan fatin, ikan fari, ikan faus, 
dan ikan fefes."

SBY pun menjawab, "Ya udah, sana ambil sepedanya."

Duh, Pepo jahat....

Kisah di atas tentunya hanya rekaan. Jangan terlalu serius pula menanggapinya. 
Cukup tersenyum saja sambil menunggu betapa lucunya putaran kedua pemilukada.

Apa pun itu, putaran pertama Pemilukada DKI telah berlalu. Kini saatnya 
mengendurkan tensi dengan tertawa. Dan mari kita tertawa sebelum tertawa itu 
dikriminalisasi!
  
 
 *Abdullah Sammya, Jurnalis Republika
 

 

Kirim email ke