https://m.tempo.co/read/news/2017/02/19/078848128/fpi-dan-gnpf-mui-tak-ikut-aksi-212-jilid-2-di-dpr
 FPI dan GNPF-MUI Tak Ikut Aksi 212 Jilid 2 di DPR   
https://m.tempo.co/read/news/2017/02/19/078848128/fpi-dan-gnpf-mui-tak-ikut-aksi-212-jilid-2-di-dpr
 MINGGU, 19 FEBRUARI 2017 | 21:51 WIB
 
 Juru bicara Front Pembela Islam Munarman bersama Kuasa Hukum Gerakan Nasional 
Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Kapitra Ampera, saat 
memberikan pernyataan terkait aksi 21 Februari 2017, di Masjid Al Ittihad, 
Tebet, Jakarta Selatan, 19 Februari 2017. Tempo/Egi Adyatama
 
 TEMPO.CO, Jakarta - Front Pembela Islam dan Gerakan Nasional Pembela Fatwa 
Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) menyatakan tak akan ikut aksi demonstrasi 
pada 21 Februari 2017 (212) di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat.

"GNPF tidak terlibat dan juga tidak ikut aksi, khususnya GNPF tidak akan ikut 
aksi 212. Habib Rizieq selaku dewan pembina dan UBN (Ustadz Bachtiar Nasir) 
sebagai ketua, termasuk pak Munarman tidak ikut turun," ujar Kuasa Hukum 
GNPF-MUI, Kapitra Ampera saat ditemui di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta 
Selatan, Ahad malam, 19 Februari 2017.

Juru bicara FPI Munarman juga ikut mendampingi Kapitra saat memberikan 
pernyataan. Kapitra mengatakan alasan utama FPI dan GNPF tak ikut dalam aksi, 
karena mereka tak ikut merencanakan aksi itu. Ia mengatakan aksi itu adalah 
bagian dari domain umat.

"Ini kan umat membela ulamanya. Kami tak punya inisiatif ke situ. Biarkan umat 
berfikir sendiri atas ulamanya. Kita hanya menjaga agar mereka tidak 
distruktif," kata Kapitra.

 Ia juga mengatakan agar aksi ini tidak membawa atribut apa pun yang terkait 
dengan FPI dan GNPF-MUI. Meski begitu, Kapitra mengatakan FPI dan GNPF-MUI akan 
tetap memantau jalannya aksi ini.

"Kami hanya memonitor, kalau istilah Habib Rizieq itu, agar aksi ini tidak 
kontraproduktif," kata Kapitra. Ia bahkan tak menutup kemungkinan Rizieq dan 
pimpinan FPI dan GNPF-MUI lainnya untuk turun, jika kondisi mereka nilai 
darurat.

"Umpamanya ada orang-orang yang ikut nebeng di dalamnya, sehingga aksi yang 
tadi dengan niat menyampaikan aspirasi begitu ke Komisi 3 DPR, ketika ada yang 
menunggangi, maka jika diperlukan Insya Allah pimpinan GNPF dan dewan pembina 
membantu untuk menengahi, atau menyelesaikannya," kata dia.

Adapun dalam aksi nanti, Kapitra meminta agar massa aksi tetap pada identitas 
aksi muslim. Selama ini, menurut dia, beberapa aksi bela islam telah 
membuktikan aksi bisa berjalan damai, bersih, juga aspiratif.

Ia pun meminta penyampaian aspirasi tidak dilakukan dengan kekerasan. "Jadi 
kalau ada yang tak damai, itu bukan dari umat islam. Minta aparat tindak tegas 
saja," kata dia.

Aksi 212, rencananya digelar di gedung Dewan Perwakilan Rakyat pada 21 Februari 
2017. Demonstrasi itu dikabarkan akan dipimpin oleh Sekretaris Jenderal Forum 
Umat Islam (FUI), Muhammad Al Khaththath.

Untuk aksi 21 Februari itu, rencananya bakal diikuti ratusan ribu massa dari 
berbagai daerah. Mereka menuntut agar Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja 
Purnama, dicopot dari jabatannya. Mereka juga menuntut untuk menghentikan 
kriminalisasi terhadap ulama, stop penangkapan mahasiswa, dan mendesak aparat 
hukum memenjarakan penista agama. Penista agama yang mereka maksud adalah Ahok 
yang saat ini tengah menjalani persidangan dalam perkara penistaan agama.

Jika tuntutan tak diakomodir, mereka siap menduduki Gedung Parlemen. Mereka 
juga merencanakan aksi lempar jumroh, atau melempar kerikil di DPR.

EGI ADYATAMA

 

 

 

 

Kirim email ke