http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/20/07282331/pernyataan.ahok.saat.debat.dibantah.warga.rusun.rawa.bebek
 
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/20/07282331/pernyataan.ahok.saat.debat.dibantah.warga.rusun.rawa.bebek
 Pernyataan Ahok Saat Debat Dibantah Warga Rusun Rawa Bebek 
http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/20/07282331/pernyataan.ahok.saat.debat.dibantah.warga.rusun.rawa.bebek
 Senin, 20 Februari 2017 | 07:28 WIB

 

 Rusun Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur, Rabu (20/4/2016)

 

 JAKARTA http://indeks.kompas.com/tag/JAKARTA
 http://indeks.kompas.com/tag/JAKARTA
 , KOMPAS.com - Saat debat calon gubernur- wakil gubernur pada 27 Januari lalu, 
cagub DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, sempat mengatakan bahwa saat ini air 
bersih yang dijual ke warga sudah murah. Saat itu, Ahok (sapaan Basuki) 
menyebut harga air bersih yang dijual untuk warga miskin hanya Rp 1.050 per 
kubik. 

Namun, pernyataan Ahok itu dibantah sejumlah warga penghuni rumah susun 
sederhana sewa (rusunawa) Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur. Menurut warga, 
saat ini harga air bersih yang harus mereka bayar setiap bulannya mencapai Rp 
5.500 per kubik. 

"Kalau di media kayaknya enak bener, ngomong begini-begini, semuanya baik-baik. 
Itu yang kemarin warga komplain. Di debat dia ngomong pembayaran air Rp 1.200. 
Faktanya di sini kami bayar Rp 5.500. Jadi yang bohong siapa?" kata Ketua RW 
17, Muhammad Rais (44), saat ditemui Kompas.com, Kamis (16/2/2017). 

(Baca: Ahok Ingin Subsidi Air dan Gratiskan Biaya Pemasangan 
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2017/01/27/21161631/ahok.ingin.subsidi.air.dan.gratiskan.biaya.pemasangan)

RW 17 adalah RW yang membawahi enam RT di Rusunawa Rawa Bebek. Rusunawa Rawa 
Bebek saat ini menjadi tempat relokasi bagi warga yang digusur dari Pasar Ikan, 
Penjaringan, Jakarta Utara; dan bantaran Kali Ciliwung 
http://indeks.kompas.com/tag/kali.ciliwung di Bukit Duri 
http://indeks.kompas.com/tag/bukit.duri, Tebet, Jakarta Selatan. 

Rais menceritakan saat pertama kali tiba di Rusunawa Rawa Bebek, sumber air 
bersih yang dipasok untuk warga berasal dari sumur bor. Dia menyebut instalasi 
air PAM baru terpasang setelah warga mengeluhkan kondisi air dari sumur bor 
yang dinilai tidak layak pakai. 

Kepada pengelola, Rais menyatakan bahwa kondisi tersebut berbeda dengan saat 
mereka masih tinggal di Pasar Ikan. Karena di tempat tinggal yang lama, pasokan 
air bersih berasal dari air PAM. 

"Kami digusur dari Pasar Ikan karena dianggap sampah masyarakat, dianggap 
pembohong, menduduki tanah negara, terus dikasih air seperti ini, maaf-maaf 
kata, kami punya air PAM dan (airnya) tidak kuning begini," ujar Rais. 

Pernyataan Rais dibenarkan oleh warga. Menurut Effendi (69), setiap bulannya 
keluarganya bisa menghabiskan sekitar 14-15 kubik air bersih. 

"Setiap bulannya habis Rp 75.000," ujar pria yang juga berasal dari Pasar Ikan 
itu. 

Sementara itu, Nuraini (40) berharap tarif air bersih di Rusunawa Rawa Bebek 
bisa segera diturunkan sesuai yang diucapkan Ahok. 

"Saya dengar tuh Pak Basuki bilangnya Rp 1.200 waktu debat. Warga saya tahu 
nonton pas debat," ujar Nur. 

Saat dikonfirmasi, Kepala Satuan Pelayanan Rusunawa Rawa Bebek Ade Setyartini 
menyebut air bersih di lokasi tersebut dipasok oleh Aetra. Dia menyebut tarif 
Rp 5.500 per kubik mengacu pada harga yang ditentukan oleh Dinas Perumahan DKI 
Jakarta. 

"Airnya dibikin penampungan terus disebar ke tiap unit. Di tiap unit ada 
meteran tersendiri. Contohnya dia bulan ini pemakaiannya lima kubik. Nanti 
dikali Rp 5.500," ucap Ade. 

Saat debat kedua, Ahok sempat mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi DKI sudah 
membantu penyediaan air bersih bagi warga tidak mampu dengan memberikan subsidi 
melalui public service obligation (PSO). 

PSO membuat Pemprov DKI yang menanggung biaya dengan nilai tertentu yang tidak 
bisa dibayar oleh warga. 

“Ini yang kami namakan bagaimana mengadministrasi keadilan sosial yang mampu 
membayar lebih dan yang tidak mampu kami subsidi. Persoalan air kami sadar 
betul, orang tidak mampu membeli air Rp 20.000 sampai Rp 50.000 per kubik. 
Padahal air yang kami jual untuk orang miskin hanya Rp 1.050 per kubik. Ini 
tentu hal yang jauh sekali,” kata Ahok.


 
 
 Kompas TVGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, status 
bendung Katulampa yang sempat siaga II sudah turun. Begitu pula yang terjadi di 
pintu air Manggarai. Akibat status siaga II Bendung Katulampa, wilayah yang 
termasuk daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung terendam banjir. Atas hal ini, 
Ahok langsung menggelar rapat bersama Kepala Dinas Sumber Daya Air Teguh 
Hendarwan. Dia menegaskan Pemprov DKI Jakarta tetap akan melakukan normalisasi 
sungai.
 

 

Kirim email ke