Traveling to Kendeng: Menemui Para Penjaga Bumi
16 FEBRUARI 2017 / KIRANAMSSudah lama aku dan Mama merencanakan perjalanan ini. 
Sejak  kami bertemu ibu-ibu petani Kendeng di depan monas, mereka yang 
berpanas-panasan di bawah tenda selama seminggu demi menemui Bapak Presiden, 
kami langsung terpikir untuk mendatangi tempat tinggal mereka di Pegunungan 
Kendeng.Dalam bayanganku, perjalanan tersebut akan menjadi salah satu yang 
terbaik, karena sembari jalan-jalan, aku juga akan membuat film dokumenter dan 
menyerap inspirasi untuk novel remaja-dewasa pertamaku (setelah aku hiatus di 
dunia ke-novel-an selama bertahun-tahun hehe).Beberapa minggu sebelum 
keberangkatan, aku sudah membeli kamera dan segala peralatannya. Biayanya ga 
murah.  Maka papaku menalangi dulu, dan aku nyicil perbulan (dan sampai tulisan 
ini dibuat, utangku belum lunas hiks). Melihat biaya yang kukeluarkan untuk 
peralatan-peralatan ini, aku tahu aku harus menghasilkan uang agar utang 
tersebut tertutupi.Untuk tahapan pra-produksi film, aku seharusnya membuat 
konsep atau story line untuk film dokumenterku. Tapi saat itu pikiranku 
benar-benar blank. Satu-satunya yang terpikir adalah aku ingin fokus merekam 
kehidupan anak-anak Kendeng. Tapi tidak ada detil-detil yang disepakati, dan 
bahkan aku sama sekali tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan 
wawancara.Dengan persiapan yang kosong melompong seperti itu, tanggal 16 
Januari, aku, Mama, dan adikku Reza meluncur ke Semarang menggunakan kereta 
api. Kenapa Semarang? Karena di sana para petani Kendeng sedang menggelar demo 
di depan kantor gubernur Jawa Tengah dan aku memang mau menjadikan aksi ini 
sebagai salah satu scene dalam filmku.Pagi buta kami menjajakkan kaki di 
Semarang. Kami sarapan dahulu di depan lapangan Simpang Lima. Aku pun mulai 
mengambil gambar dan video sebagai pemanasan sebelum pengambilan gambar yang 
sebenarnya. Setelah itu, kami mendatangi Rumah Buku Simpul Semarang yang 
menjadi tempat kumpul aktivis-aktivis mahasiswa. Di sana aku menemui Mas Nicko 
dan mahasiswa lainnya yang akan bersama-sama dengan kami pergi ke lokasi 
demo.Sekitar jam 10-an, aku diboncengi oleh seorang mahasiswi dengan motor ke 
kantor gubernur. Suasana sudah sangat ramai di lokasi demo, orang-orang 
bercaping tani mengerubungi pagar kantor dan meneriakkan protes mereka kepada 
Pak Gandjar. Ada berbagai spanduk penolakan terhadap PT. Semen dipasang para 
petani. Suara orator bergema menyelimuti Jalan Pahlawan.“Salam Kendeng! 
Lestari!” teriak mereka sambil mengacungkan kepalan.Aku mengalungkan kameraku 
di leher dan mulai mengatur aperture, speed, ISO, white balance, focus, zoom 
dan bergerak ke sana kemari, mencoba mengambil angle yang bagus di bawah 
sengatan sinar matahari. Belum 10 menit, tanganku sudah pegal luar biasa dan 
keringatku bercucuran. Sementara itu aku tidak boleh banyak-banyak istirahat 
karena harus selalu mengejar momen-momen yang terus berputar di depanku. 
Begitulah rasanya menjadi videographer beneran haha…
Menonton demo ini, aku mulai mengerti mengapa penolakan penambangan semen di 
Kendeng  begitu penting. Perjuangan Kendeng memicu gerakan penolakan 
penambangan di daerah lain di seluruh Indonesia. Siapa yang menyangka 
perusahaan semen ternyata  sudah ada di mana-mana, mengurita dan merusak 
ekosistem Tanah Air. Agaknya hal ini sama saja seperti reklamasi di Jakarta. 
Menolak reklamasi di Jakarta menjadi penting karena jika kita bisa berhasil 
melakukannya, maka ada harapan untuk menghentikan reklamasi-reklamasi lain di 
banyak daerah di Indoensia.Makanya di demo ini aku melihat aktivis-aktivis dari 
Papua, Kalimantan, Sulawesi dan daerah lainnya berdatangan dan ikut 
menyampaikan orasi. Mereka datang merepresentasikan masalah yang sama di daerah 
mereka.Di tengah aksi demo, tiba-tiba serombongan demonstran lain berdatangan 
mengerubungi pagar kantor gubernur. Mereka meneriakkan protes tentang masalah 
tembakau. Suara mereka begitu berisik, sehingga suara dari demonstran Kendeng 
terpecah. Aku bertanya-tanya, normalkah ada dua demonstrasi berbeda di waktu 
dan tempat yang sama?Demonstran tembakau semakin terdengar berisik. Mereka 
meneriakkan yel-yel tak jelas dan mengacung-acungkan bendera-bendera. Mereka 
mendekati demonstran Kendeng seakan hendak bercekcok. Untungnya polisi dan  
mahasiswa Semarang sigap membuat brikade di antara kedua massa sehingga tak ada 
kericuhan. Kehadiran demonstran tembakau ini terasa sangat 
mencurigakan.Akhirnya, aku mendapat penjelasan. Kata Mas Nicko, demo tembakau 
sengaja dibuat oleh pemerintah supaya media tidak fokus memberitakan demo 
Kendeng. Dan bukan hanya tembakau, di tempat yang berdekatan juga ada demo para 
nelayan dan demo lainnya.Acara sudah hampir selesai. Para petani mulai 
membubarkan diri. Saat aku hendak memasang kembali tutup lensa kameraku, 
seorang kakek bercaping tiba-tiba mendekatiku.“Makasih ya, mbak!” katanya 
sambil tersenyum.Aku tak mengerti maksudnya, tapi kujawab saja “iya” sambil 
balik tersenyum. Sampai aku kembali ke Rumah Buku untuk makan siang, kalimat 
kakek itu masih terngiang. Aku berpikir keras mengapa ia mengucapkan 
terimakasih padaku. Sehingga akhirnya kutafsirkan sendiri apa maksudnya, dan 
itu membuat hatiku hangat. Saat itu aku menyadari mengapa para jurnalis 
mencintai pekerjaan mereka.***Hari itu, kami menginap semalam di rumah pemilik 
Kedai Kopi ABG. Malam itu ceritanya aku dan Mama akan mengikuti diskusi tentang 
Kendeng di kedai tersebut, salah satu pembicaranya adalah tokoh NU bernama Gus 
Fayyadl.Pemiliki Kedai Kopi ABG ternyata seorang seniman dan penulis bernama 
Kang Putu (Gunawan Budi Susanto). Rumahnya benar-benar merefleksikan rumah 
seorang seniman. Dindingnya terbuat dari batu-batu yang artistik, kemudian ada 
berbagai lukisan-lukisan buatannya  terpajang di ruang tamu. Halaman rumahnya 
hijau segar dan terasnya didekorasi dengan botol-botol minuman kosong.Acara 
diskusi berlangsung agak telat. Seharusnya mulai jam 8, namun ternyata baru 
mulai jam 10-an. Seperti banyak acara-acara diskusi yang aku ikuti sebelumnya, 
acara ini dipenuhi dengan orang-orang yang menyeramkan (alias tatoan, merokok, 
dan bergaya punk). Di tulisanku sebelumnya, aku sempat bertanya-tanya mengapa 
acara-acara pergerakan seperti ini  cenderung didatangi oleh orang-orang yang 
bukan tipikal peduli dengan masalah sosial? Setelah berbicara dengan Papaku, 
aku baru mendapat jawabannya.Mereka-mereka ini adalah aktivis. Para aktivis 
lahir dari pribadi-pribadi yang berani melakukan pemberontakan terhadap sistem 
yang mereka pikir salah. Nah, sifat pemberontak ini akhirnya meluas ke cara 
hidup dan cara tampil mereka di depan publik. Mereka cenderung memberontak atas 
gaya hidup yang dianggap ‘normal’ –dan akhirnya merokok, bertato, dan bergaya 
aneh-aneh. Tentu saja tidak semua aktivis seperti itu, aku tidak 
mengeneralisasi.Karena acara diskusi ini dimulai sangat malam, aku tidak 
konsentrasi mendengarkan karena sudah sangat ngantuk. Namun sejak awal aku 
sudah memasang kameraku di depan para narasumber sehingga pembicaraan mereka 
tersimpan di kamera.***Perjalanan di bis terasa lama sekali. Pemandangan 
kanan-kiri kebanyakan hanyalah hamparan sawah yang tak bisa kunikmati akibat 
hawa panas di bis serta berisiknya para pedagang dan pengamen. Akhirnya, 
mendekati tengah hari,  di bawah sinar matahari terik, kami turun di Kota 
Rembang dan segera mencari hotel.Daerah perkotaan di Jawa itu memang nyaman 
sekali. Tak seperti di Jawa Barat, di sini jalanan begitu lebar, bersih, dan 
sepi. Pada sore hari, alun-alun Kota Rembang mulai ramai dikelilingi pedangang 
makanan. Menariknya, semua yang berjualan di sana memakai tenda yang diberi 
nama PT. Semen Indonesia.Malamnya, aku dan Reza kembali mendatangi alun-alun 
yang letaknya dekat sekali dengan hotel. Ternyata di sana sedang ada acara 
roadshow Pak Gandjar. Bapak yang baru kemarin diprotes oleh para petani Kendeng 
itu kini berada di depanku, berbicara dan tertawa bersama penduduk Rembang. 
Satu persatu warga menyampaikan aspirasinya, dan Pak Gandjar menjawabnya dengan 
ceria. Tapi yang dibicarakan bukan tentang semen.Pembicaraan  tersebut semuanya 
dalam berbahasa Jawa, jadi aku tak bertahan lama menonton acara itu dan memilih 
pergi membeli jajanan di sekeliling alun-alun. Aku juga bermain baling-baling 
bersama adikku.Jam 9, kami pun beristirahat, mempersiapkan tenaga untuk 
perjalanan inti di hari esok.***Kami memakai mobil carteran untuk pergi ke 
Pegunungan Kendeng. Kami check out dari hotel jam tujuh pagi. Kami membawa 
semua barang karena sehabis dari Kendeng, kami akan langsung ke Jepara ke rumah 
teman mamaku.Untuk mencapai ke lokasi, kami menelusuri jalan raya dahulu, lalu 
melewati persawahan, kemudian perkebunan jati dan jagung. Matahari pagi yang 
menelisik lewat daun-daun jagung menyinari kami yang melesat di jalnan 
menanjak. Sampai saat itu, aku masih belum melihat ada penggalian semen. 
Semuanya masih terlihat sempurna.Dalam waktu dua jam, kami akhirnya sampai di 
Desa Tegaldowo, desa yang ditempati oleh Yu Sukinah—salah satu pejuang Kendeng 
yang kami temui di Jakarta. Yu Sukinah akan menjadi narasumber wawancaraku.Desa 
Tegaldowo terlihat ramai di pagi hari. Orang-orang sibuk jual-beli di pasar, 
ada yang membawa hasil tani mereka, ada yang membawa sapi-sapi. Kami melewati 
sekolah yang bangunannya terlihat bagus—tak seperti yang kubayangkan 
sebelumnya. Aku kira sekolah di sana akan seperti sekolah di Laskar 
Pelangi.Meski rumah-rumah di sana kebanyakan tipikal rumah desa, aku juga 
melihat beberapa rumah mewah yang menjulang tinggi. Kata bapak supir, rumah 
mewah tersebut dimiliki oleh orang-orang yang berhasil menjual tanahnya ke 
perusahaan semen dengan harga super mahal.Banyak orang-orang Kendeng yang 
memasang spanduk dan bendera di depan rumah mereka. Ada yang berisi kalimat 
dukungan terhadap pabrik semen, ada yang menolak.Kami kesulitan mencari rumah 
Yu Sukinah karena tidak ada nomor rumahnya. Saat kami telepon, Yu Sukinah 
bilang tanya saja ke penduduk sekitar. Maka kami pun bertanya satu-persatu ke 
orang-orang. Salah satu warga yang kami tanyai adalah seorang bapak-bapak 
bercaping. Saat ditanyai, bapak itu memandang kami dengan curiga. Mungkin lebih 
tepatnya memandangiku  karena aku memegang kamera dan tripod di kursi depan. Ia 
bertanya apa alasan kami bertemu Yu Sukinah. Bapak sopir langsung menjawab 
dalam Bahasa Jawa, “Ini keponakannya Bu Sukinah. Mau ketemu.”Bapak itu kemudian 
meninggalkan kami dengan senyum dingin–dia tahu kami berbohong. Huft…!Akhirnya 
kami sampai di rumah Yu Sukinah. Seperti rumah-rumah lainnya, rumahnya itu 
terbuat dari kayu berwarna coklat tua. Yu Sukinah sedang duduk di teras 
mengenakan baju batik hitam bersama ibu-ibu lain yang tenyata datang dari 
Kalimantan dan daerah lain. Mereka sebelumnya mengikuti demo di depan kantor 
gubernur, dan kini sedang bersiap-siap menuju Tenda Perjuangan di tapal 
pembangunan tambang Semen. Tenda tersebut telah digunakan oleh warga Kendeng 
untuk menghalangi truk-truk masuk ke daerah galian. Yu Sukinah pun mengajak 
kami bersama-sama menuju tenda.“Jalan kaki?”“Bukan, Naik truk.” katanya. 
What?Truk tersebut besar sekali, menjulang di atas kepalaku. Satu-persatu orang 
naik ke atas, dan kami berdiri berdesak-desakan. Ketika truk berjalan, kami 
seringkali kehilangan keseimbangan, apalagi saat melewati jalan bergelombang 
atau belokan curam. Ketika melewati pepohonan, orang-orang berteriak, “Awas 
kepala! Awas kepala!” dan semua orang menunduk bersamaan. Suasana seru 
sekali.Kami pun sampai di tenda perjuangan yang terletak di pinggir jalan. 
Ukuran tenda itu relatif kecil. Di atasnya terpasang spanduk bertuliskan “Tenda 
Perjuang Tolak Pabrik Semen.” Kami semua masuk ke dalam tenda yang bercahaya 
remang-remang. Di dalamnya ada bantal-bantal dan makanan. Yu Sukinah mulai 
berbicara menceritakan perjuangan yang dialaminya bersama ibu-ibu lain di tenda 
ini. Katanya, tenda ini didirikan sejak tahun 2014 oleh puluhan ibu-ibu Kendeng 
dalam rangka menghalangi truk-truk semen yang hendak masuk ke area 
penambangan.Dulu, tenda ini keadaannya buruk. Tak ada listrik, dan ibu-ibu ini 
harus tidur hanya beralaskan kardus, melewatkan malam gelap gulita dan 
kadang-kadang kebanjiran. Kiriman makanan dari luar dilarang oleh aparat 
kepolisian. Mereka juga mengalami kekerasan, seperti dilempar ke semak-semak 
dan bercekcok dengan aparat sampai pingsan. Yu Sukinah bilang, meski mengalami 
hal-hal menyakitkan, mereka masih bertahan sampai detik ini.Setelah beberapa 
lama di tenda mendengarkan sejumlah aktivis berbicara, kami pun pulang menaiki 
truk lagi.Rencananya, aku mau mewawancarai narasumber Kendeng berusia remaja. 
Tapi ternyata, tidak ada anak remaja di sana. Cewek-ceweknya nikah muda dan 
sudah dibawa oleh suami mereka, sedangkan cowok-cowoknya juga karena suatu 
alasan tidak ada di sana. Dan… hancur sudah rencanaku. Film ini awalnya ingin 
dibuat untuk anak-anak muda, tapi tidak ada tokoh anak muda yang bisa 
kutayangkan. Akhirnya, aku hanya mewawancarai Yu Sukinah di halaman 
rumahnya.Setelah itu, aku minta diantarkan ke sumber air yang katanya menurun 
debit airnya akibat adanya pabrik semen. Seorang petani jagung bernama Pak 
Dulah ternyata mau mengantarku dengan motornya.Lokasi sumber air ada di puncak 
gunung. Kata Pak Dulah, kami juga akan melewati tempat pengerukan semen. Aku 
disarankan memakai masker agar tak terhirup debu-debu berbahaya di lokasi 
pengerukan. Karena aku tak bawa masker, maka kututup saja wajahku dengan 
jilbabku.Baru kali ini aku melewati jalanan off-road menaiki motor bebek. 
Jalanan rusak parah. Kupegang kameraku erat-erat supaya tak terjatuh. 10 menit 
kemudian, pemandangan yang awalnya dipenuhi dengan rumah-rumah desa dan 
perkebunan jagung, mulai berubah menjadi pemandangan tanah kapur yang putih 
tandus. Debu-debu beterbangan seperti lalat. Kata Pak Dulah, jika musim 
kemarau, daun-daun jagung berubah berwarna putih karena tertutupi debu-debu 
kapur yang berbahaya bagi kesehatan para petani. Kami juga bertemu dengan 
banyak truk-truk, bulldozer, dan kendaraan konstruksi lainnya yang naik-turun 
gunung. Setiap kali berpapasan dengan kendaraan-kendaraan tersebut, debu 
semakin banyak menerkam wajahku.Setibanya di puncak, terlihat semakin jelas 
bagaimana pegunungan Kendeng semakin habis diurug. Suara-suara dinamit 
terdengar beberapa kali, meledakkan tanah dan bebatuan. Ekosistem di sini 
semakin lumpuh, bangkai ada di mana-mana selagi tanah semakin digerus dan 
dilahap isinya. Perusakan seperti ini tentu saja  menyakitkan bagi para petani.
Setelah perjalanan yang terasa begitu lama, akhirnya kami sampai di sumber air 
(yang aku lupa namanya). Bentuknya seperti kolam ikan berbentuk kotak. Terlihat 
sejumlah kakek-kakek sedang memandikan sapi-sapi mereka di sana. Dulu, air di 
sini begitu berlimpah sampai tumpah ruah dari kolam. Namun, sejak perusahaan 
semen masuk, debit air menjadi berkurang sehingga para petani makin kesusahan 
mengaliri sawah mereka. Tak ada yang lebih suram daripada kematian sebuah mata 
air.Tiba-tiba hujan turun. Kami terpaksa bernaung di bawah semacam shelter di 
dekat sumber air dan mengobrol banyak tentang masalah Kendeng. Pak Dulah sempat 
bercerita, betapa kehadiran pabrik semen ini telah mengakibatkan perpecahan 
sosial di Desa Tegaldowo. Dia mengenang saat-saat ketika masyarakat Kendeng 
begitu rukun. Kini, ketika orang-orang terpecah antara pro dan kontra pabrik 
semen, tidak ada lagi kerukunan hangat itu di Kendeng.Saat hujan berhenti, kami 
langsung pulang ke rumah Yu Sukinah.Mamaku terlihat khawatir ketika aku sampai 
ke rumah. Karena sudah tengah hari, aku dan lainnya makan lontong sayur yang 
disediakan Yu Sukinah. Setelah itu, aku masih sempat merekam pembicaraan mamaku 
dengan Yu Sukinah tentang anak-anak dari keluarga penolak semen yang 
didiskriminasi di sekolah mereka. Anak-anak TK yang seharusnya diajarkan oleh 
guru mereka menggambar gunung, pohon, atau rumah, malah diajari menggambar 
pabrik semen.Sekitar jam 3, kami berpamitan dengan Yu Sukinah karena harus 
segera meneruskan perjalanan. Yu Sukinah tersenyum dan berterimakasih kepada 
kami karena sudah berkunjung.Di mobil, aku terus memikirkan penghancuran 
Kendeng ini. Sejak lama, nenek moyang kita  melihat alam Indonesia sebagai 
sosok perempuan—maka dari itulah muncul yang dinamakan Dewi Bumi, Dewi Sri. 
Ketika Tuan Kapitalis datang mengeksploitasi alam Indonesia, dalam hal ini alam 
Kendeng, itu sama saja seperti menghinakan tubuh perempuan—meludahinya, 
kemudian mencampakkannya ketika sudah tak lagi digunakan.Sungguh miris melihat 
bagaimana manusia-manusia sibuk menguangkan segala sesuatu. Di sebuah reklame 
yang dipasang di Bhutan (kubaca di buku Bliss), tertulis kalimat ini; “Ketika 
pohon terakhir habis dibabat, sungai terakhir habis dikosongkan, ikan terakhir 
habis terbunuh, manusia baru menyadari mereka tidak dapat memakan uang.”

Kirim email ke