http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mozaik/17/02/28/om3agw318-kisah-abdul-sattar-sang-pengumpul-dan-pemulia-jenazah-terbuang
Kisah Abdul Sattar, Sang Pengumpul
dan Pemulia Jenazah Terbuang
Rep: dyah ratna meta novia/ Red: Joko Sadewo
wonderfulengineering.com <http://wonderfulengineering.com>
Abdul Sattar Edhi
Abdul Sattar Edhi
REPUBLIKA.CO.ID <http://REPUBLIKA.CO.ID>, KARACHI -- Abdul Sattar Edhi
merupakan pendiri jaringan voluntir ambulans terbesar di Pakistan yang
bernama Edhi Foundation.
Seperti dilansir /Aljazirah,/ Senin, (28/2), tak seperti orang-orang
kaya yang mendanai amal dengan menggunakan nama mereka. Edhi
mendedikasikan hidupnya bagi orang-orang miskin sejak berusia 20 tahun.
Padahal saat itu, ia dalam keadaan miskin di Karachi.
Seperti dilansir /Telegraph,/ ia memiliki kisah menyedihkan. Ia dan
keluarganya dipaksa untuk pergi pada 1947, guna menyelamatkan diri
ketika India pecah dan mulai dibentuknya negara Pakistan. Ini
menimbulkan konflik komunal yang mengerikan. Bahkan menimbulkan
kekerasan dan penghapusan etnis.
Ini adalah momen di mana Edhi hidup dalam kemiskinan d jalanan di
Karachi. Saat itulah misi kemanusiaan Edhi terasah dan menjadi tujuan
hidupnya.
Hanya berusia 20 tahun. Ia belajar untuk mengasihi dan lebih memilih
membantu orang lain yang membutuhkan.
Bahkan saat itu dia melawan para majikannya dan mengatakan kepada
mereka, pekerjaan kemanusiaan kehilangan maknanya ketika anda membedakan
antara orang miskin dan orang berada.
Ia tak ingin ada diskriminasi antara antara orang berada dengan orang
miskin sehingga ia akhirnya membuat pusat pengobatan sendiri.
Dalam rangka mencari pengetahuan, Edhi pernah pergi ke Eropa. Dia
mengemis di sana sepanjang jalan. Suatu pagi ia terbangun dari tidurnya
di sebuah stasiun di Roma, Italia. Ia tak menemukan sandalnya. Rupanya
sandalnya hilang karena dicuri orang. Namun ia sama sekali tak marah
apalagi merasa terganggu. Baginya hal itu tak penting meskipun ia
sendiri hidup dalam kemiskinan.
Ia juga mengunjungi London. Di sana ia sangat mengagumi kemakmuran
Inggris. Meskipun kemakmuran Inggris juga menimbulkan budaya
ketergantungan karena pemerintah sudah menyediakan segalanya.
Saat di London, Edhie ditawari pekerjaan. Namun ia malah menolaknya. Ia
mengatakan, ia harus melakukan sesuatu untuk rakyat di Pakistan.
Pulang dari Eropa semakin menguatkan jiwanya untuk bekerja bagi
kemanusiaan. Tak ada kemakmuran di Pakistan. Ia akan mengisi kekurangan
yang dimiliki oleh negaranya tersebut.
Namun ini juga menjadi periode yang sangat sulit dalam hidupnya. Ia
sangat lusuh, berjenggot, dan tak memiliki prospek yang jelas. Bahkan
tujuh wanita menolak lamarannya. Tak ada yang mau menikah dengannya kala
itu.
Ia akhirnya memutuskan untuk mendedikasikan seluruh hidupnya bagi
kemanusiaan. Ia mencurahkan seluruh energinya bagi kerja kemanusiaan.
Hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang wanita yang juga berjiwa
kemanusiaan, sama seperti dirinya. Ia bertemu dengan Bilquise dan
menikah dengannya.
Ia dan istrinya mendirikan klinik bagi orang miskin, mendirikan tempat
penampungan anak-anak yatim. Ia menyediakan ambulans bagi orang-orang
miskin. Sebab Pakistan kurang memiliki sistem kesehatan publik yang bagus.
Ia sering berkeliling menyetir mobil ambulansnya sendiri di Provinsi
Sindh. Ia mengumpulkan jenazah dan membawanya ke stasiun polisi,
menunggu sertifikat kematiannya. Jika tak ada keluarga atau kerabat
jenazah tersebut menghubungi maka ia memakamkan sendiri jenazah tersebut.
Ia laki-laki berhati mulia. Dengan ikhlas ia mengumpulkan jenazah yang
membusuk dari sungai, dalam sumur, jalanan, tempat kecelakaan, dan rumah
sakit.
"Ketika keluarga jenazah meninggalkan mereka. Kemudian pemerintah
membuangnya, saya memandikan mereka dan merawat mereka selaiknya jenazah
yang harus dihormati," kata Edhie.