Rabu, 01 Maret 2017 | 18:20      
Opini: Politik Jabat Tangan Rizieq, Ahok dan Raja Salman


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Opini: Politik Jabat Tangan Rizieq, Ahok dan Raja Salman
 Rizieq menolak salaman, tetapi Raja Arab mengulurkan tangan ke Ahok.  |   |

  |

  |

 
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyalami Raja Arab Saudi, 
Salman bin Abdulaziz Al Saudi didampingi Presiden Joko Widodo di Bandar Udara 
Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta, 1 Maret 2017. (Setpres/Agus 
Suparto)Jakarta - Dalam dua hari terakhir soal jabat tangan menjadi topik 
berita. Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) bersalaman dengan raja 
Arab Saudi, Rabu (1/3), sehari setelah Rizieq Syihab tak mau mengulurkan tangan 
padanya di ruang sidang.Jabat tangan merupakan gestur persahabatan yang berlaku 
global. Meskipun warga Jepang melakukannya dengan membungkukkan badan, setelah 
itu mereka tetap mengulurkan tangan ketika bertemu dengan orang dari negara 
lain.Berita dan foto Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saudi bersalaman 
dengan Ahok ramai menghiasi berbagai media Indonesia hari ini, tertama karena 
kondisi politik yang melingkupinya.Ketika peristiwa itu terjadi, Ahok berstatus 
terdakwa penistaan agama Islam karena laporan yang dimotori terutama oleh Front 
Pembela Islam, organisasi kemasyarakatan yang dipimpin Rizieq. Ahok diadili 
ketika sedang mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, dan sekarang melawan 
Anies Baswedan yang sudah "meminta restu" Rizieq dalam sebuah pertemuan.Jabat 
tangan Ahok dengan Raja Salman menjadi menarik karena Arab adalah tempat kota 
suci yang menjadi kiblat Muslim seluruh dunia, dan kebetulan Indonesia dan Arab 
sama-sama memiliki umat Muslim Suni terbesar di dunia.Tanpa politik yang 
melingkupi, jabat tangan itu betul sebuah momen tanpa nilai berita. Raja Salman 
hanya menjalani prosedur protokoler, sementara seorang gubernur memang 
sepantasnya menyambut tamu negara di bandara yang berada dalam wilayah 
administratifnya.Tapi bisakah Raja memilih siapa yang akan dia salami? Itu 
bukan hal yang lazim dalam tata krama diplomatik, namun ya, beliau bisa kalau 
menghendaki.Informasi siapa yang akan menyambut kehadiran Raja Salman dan siapa 
saja rombongan sang tamu tentu telah saling dibagikan lewat saluran diplomatik. 
Duta Besar Kerajaan Arab Saudi Osamah Mohammed Alshuibi yang bermukim di 
Jakarta tentu juga kenal siapa Ahok, dan apa kasus yang menjeratnya.Kalau Raja 
Salman tidak berkehendak untuk menyalami Ahok, dia tinggal bertitah dan para 
diplomatnya akan menyampaikan dengan cara sehalus mungkin ke pemerintah 
Indonesia agar gubernur tidak ada di antara para penyambut di samping pesawat 
kerajaan. Itu tidak terjadi.Politik jabat tangan ini menjadi tambah menarik 
karena sehari sebelumnya, di dalam ruang sidang, Rizieq menyalami semua hakim 
dan jaksa, namun langsung memunggungi terdakwa Ahok dan tim penasihat 
hukumnya.Meskipun penasihat hukum Ahok, Humphrey Djemat, tidak mempermasalahkan 
sikap Rizieq tersebut, namun ia menyebutnya sebagai sikap kebencian."Rasa 
kebenciannya ditunjukkan, bagian kubu Ahok nggak disalamin. Nggak apa-apa. 
Sikap itu sudah menunjukkan apa yang ada di hatinya. Padahal dia sebagai ahli. 
Kalau bukan sebagai ahli nggak masalah, benci bagaimana pun silakan. Ahli kan 
bagaimana menerangkan sesuai keilmuannya," kata Humphrey.Peristiwa dua hari ini 
tampaknya bisa memberi sudut pandang menyenangkan bagi para pendukung Ahok: 
Rizieq menolak salaman, tetapi Raja Arab mengulurkan tangan.Jabat Tangan Ala 
Trump
Politik jabat tangan juga ditunjukkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald 
Trump dalam pekan-pekan pertamanya di Gedung Putih. Setiap kali menyambut 
kepala negara lain, dia menggenggam erat tangan tamunya, kemudian menarik dan 
mengguncangnya, seperti untuk menunjukkan who is in charge, siapa yang lebih 
berkuasa.Sempat viral video Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dengan wajah yang 
tampak kesakitan akibat tak mampu melepaskan tangannya dari Trump, setelah 
jabat tangan yang berlangsung hingga 19 detik.Bahkan sampai ada artikel media 
terkemuka The Washington Post membahas masalah jabat tangan Trump ini, dengan 
judul "Trump and the art of the super-awkward handshake" (Trump dan seni jabat 
tangan super aneh)."Apakah ini cuma kebiasaan saja, atau memang cara untuk 
menunjukkan kekuasaannya, Trump memang punya kebiasaan menarik paksa tangan 
yang dia jabat," tulis The Washington Post.Jadi, jabat tangan memang kadang 
bisa menjadi berita.









Heru Andriyanto/HABeritaSatu.com


Kirim email ke