http://sp.beritasatu.com/home/bentrok-di-perbatasan-myanmar-tiongkok-160-tewas/118482
*Bentrok di Perbatasan Myanmar-Tiongkok, 160 Tewas*
*U-5* | Rabu, 1 Maret 2017 | 11:31
Tentara Kemerdekaan Kachin berlatih dekat markas besar kelompok di
Laiza, Kachin, Myanmar, beberapa waktu lalu. [Istimewa] Tentara
Kemerdekaan Kachin berlatih dekat markas besar kelompok di Laiza,
Kachin, Myanmar, beberapa waktu lalu. [Istimewa]
[NAYPYIDAW] Sebanyak 160 orang tewas dalam tiga bulan bentrokan antara
militer dan kelompok etnis bersenjata di negara bagian Shan, Myanmar.
Menurut pejabat senior Myanmar, pada Selasa (28/2), bentrokan terjadi di
tengah upaya untuk memulai kembali perundingan perdamaian.
Lebih dari 20.000 orang telah mengungsi sejak pertempuran antara tentara
dan beberapa kelompok etnis bersenjata meletus di dekat perbatasan
Tiongkok pada akhir November.
Kerusuhan telah merebak di seluruh negara bagian Shan dan negara bagian
Kachin. Kondisi ini menghambat upaya pemerintah Aung San Suu Kyi untuk
mengakhiri dekade panjang konflik di perbatasan negara.
Serangan militer yang telah berlangsung sejak pertengahan 2016, semakin
meningkat setelah beberapa kelompok bersenjata, yang dikenal sebagai
Aliansi Utara, melancarkan serangan besar di Shan utara. Militer Myanmar
lalu meresponsnya dengan artileri berat dan serangan udara.
Para ahli mengatakan pertempuran di daerah perbatasan menjadi sangat
intens sejak 1980-an. Situasi itu telah mendorong PBB untuk
memperingatkan terjadinya krisis kemanusiaan di daerah konflik,
khususnya di Kachin, tempat sekitar 100.000 orang mengungsi sejak 2011.
Lebih jauh, kepala staf umum militer Myanmar memaparkan jumlah korban
tewas akibat bentrokan. Paling tidak, ada 74 tentara, 15 polisi, 13
pejuang milisi pemerintah dan, 13 warga sipil dinyatakan tewas.
“Kami menemukan 45 mayat musuh dan menangkap empat orang,” kata Jenderal
Mya Tun Oo di Naypyidaw, seraya berspekulasi bahwa ratusan pemberontak
mungkin telah tewas dalam kekerasan itu.
Informasi tentang jumlah korban tewas muncul saat pemerintah Myanmar
mempersiapkan untuk putaran kedua pembicaraan damai pada Maret.
Negosiasi telah berulang kali dilakukan karena kebuntuan politik dengan
kelompok-kelompok bersenjata.
Suu Kyi ingin memperluas gencatan senjata ditandatangani dengan beberapa
kelompok pemberontak etnis Myanmar pada 2015 dan dikenal sebagai NCA.
Namun negosiasi terbaru tertunda setelah milisi kuat Tiongkok yang
didukung Tentara Negara Wa (UWSA) mengadakan pertemuan puncak sendiri
dengan non-penandatanganan kesepakatan. Setelah pertemuan itu, para
peserta menandatangani pernyataan menolak NCA.
Sebaliknya mereka menyerukan penghentian segera serangan militer di
daerah etnis dan meminta PBB dan Tiongkok untuk terlibat dalam
pembicaraan baru. Mereka juga telah mendukung seruan UWSA untuk kelompok
etnis utama Myanmar diberikan lebih banyak kontrol atas wilayah dan
sumber daya mereka.
“NCA tidak adil. Visi militer bukan apa yang kelompok etnis inginkan,”
kata juru bicara Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), yang menghadiri
pembicaraan. [AFP/U-5]