Sang Raja Menjajakan Saham Minyak


Saudi Aramco akan melepas sahamnya ke publik. IPO Saudi Aramco menjadi yang 
terbesar dalam sejarah, sekaligus sangat penting bagi perekonomian Saudi. 
Efeknya bisa sangat masif dari Tokyo hingga Toronto.

Reporter: Yan Chandra01 Maret, 2017
   
   - IPO Saudi Aramco diharapkan mampu menghasilkan 100 miliar dolar
   - Realisasi IPO Saudi Aramco akan memiliki dampak yang sangat luas bagi 
perekonomian
   270 SharesSaudi Aramco akan melepas sahamnya ke publik. IPO Saudi Aramco 
menjadi yang terbesar dalam sejarah, sekaligus sangat penting bagi perekonomian 
Saudi. Efeknya bisa sangat masif dari Tokyo hingga Toronto.tirto.id - Sejak 
Minggu (26/2), Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud dari Arab Saudi memulai 
lawatannya ke beberapa negara di kawasan Asia. Malaysia sudah menggelar karpet 
merah untuk kedatangan raja berusia 81 tahun tersebut. Selain Malaysia, Raja 
Salman juga mengunjungi Indonesia, Jepang, Cina, serta Maladewa dan Yordania. 

Salah satu tujuan dari lawatan ini mencari investor terkait penjualan saham 
perusahaan minyak milik negara, Saudi Arabian American Oil Company (Aramco). 
Saudi Aramco merupakan salah satu aset strategis milik Arab Saudi. Saudi Aramco 
pada mulanya perusahaan Amerika, dimiliki oleh ExxonMobil Corp dan Chevron 
Corp. Perusahaan asal Amerika itu bisa menguasainya setelah mendapatkan konsesi 
dari Raja Abdul Aziz, raja Saudi pertama, pada 1933. Aramco kemudian 
dinasionalisasi melalui negosiasi yang alot dari 1973 hingga 1980.

Penawaran saham kepada publik atau initial public offering (IPO) Saudi Aramco 
akan menjadi IPO terbesar yang pernah ada. Dana yang diharapkan dapat diraup 
sebesar 100 miliar dolar AS, mengalahkan IPO Alibaba dari Cina pada 2014 yang 
mengumpulkan 25 miliar dolar AS. Angka itu hampir setara dengan cadangan devisa 
Indonesia saat ini.

Penjualan saham Aramco ke publik ini seturut rencana pemerintah Saudi yang 
tertuang dalam Visi 2030. Salah satunya adalah diversifikasi perekonomian, 
melepas ketergantungan pendapatannya dari penjualan minyak semata.

Selain bank investasi asal Amerika Serikat, JPMorgan Chase & Co, beberapa bank 
Cina disebut-sebut ingin turut serta sebagai penjamin emisi saham Aramco. 
Tujuannya untuk menjembatani investor-investor Cina yang berminat pada 
perusahaan minyak tersebut. Selain investor swasta, pemerintah Cina juga 
memiliki kepentingan strategis dalam membeli saham Aramco karena perusahaan itu 
berperan penting atas ketersediaan sumber daya energi di Cina. 

Penjualan saham Aramco ini juga termasuk konsesi berupa cadangan persediaan 
minyak dan gas di kerajaan tersebut. Saat ini cadangan minyak di Saudi adalah 
yang terbesar kelima di dunia. “Jika memiliki konsesi, berarti memiliki minyak 
secara fisik,” kata CEO Saudi Aramco, Amin H. Nasser. IPO rencananya akan 
dilakukan pada semester kedua 2018 mendatang. 

share infografik


Efek Luas IPO
Para pejabat Saudi mengatakan valuasi Aramco sekitar 2 triliun dolar AS. Akan 
tetapi, tidak sedikit analis dan calon investor yang meragukan valuasi 
tersebut. Biasanya, perusahaan minyak negara lain yang menjual saham dinilai 
dengan valuasi rendah. Menurut perhitungan konsultan Wood Mackenzie Ltd, 
seperti dilansir Bloomberg, valuasi Aramco hanya sebesar 400 miliar dolar AS. 
Valuasi itu dibocorkan oleh seorang klien yang mengikuti pertemuan dengan 
Mackenzie di London bulan lalu.

Valuasi Aramco memang masih menjadi perdebatan. Meski demikian, IPO ini 
diprediksi akan memberikan efek yang sangat luas. Penjualan saham ini akan 
mendorong reformasi ekonomi di Saudi, juga membuka pasar lokal lebih lebar lagi 
untuk para investor asing. Tidak hanya berdampak dengan pasar saham setempat, 
IPO raksasa ini juga akan mempengaruhi pasar saham dari Tokyo hingga Toronto. 

Bursa saham Saudi yang disebut Tadawul memiliki total kapitalisasi pasar 
sebesar 440 miliar dolar AS. Tadawul adalah pasar saham terbesar di kawasan 
Timur Tengah. Dengan penjualan saham hanya 5% saja, Aramco akan mendapatkan 
dana segar sebesar 100 miliar dolar AS. Pasar saham lokal jelas tidak dapat 
menyerap penjualan itu sendirian. 

Investor asing di Tadawul hanya berjumlah 4 persen. Sehingga Saudi memerlukan 
pasar lain untuk melepaskan saham Aramco. Singapura, pasar perdagangan minyak 
terbesar di kawasan Asia, sangat mengharapkan kue dari IPO Aramco ini. Sumber 
Bloomberg di Singapura mengatakan, perusahaan investasi pemerintah Singapura 
siap menjadi salah satu investor dalam IPO Aramco. Selain itu, pemerintah 
Singapura juga mencari kesempatan bekerja sama dengan pemerintah Saudi.

Pejabat Aramco juga melirik bursa Hong Kong untuk mencatatkan saham Aramco. 
Hong Kong merupakan pasar potensial yang dapat menggerakkan orang-orang Cina 
untuk membeli saham Aramco. Selain Hong Kong, ada kemungkinan juga saham Aramco 
dicatatkan di bursa New York, London atau Toronto. 

IPO Aramco juga berdampak terhadap harga minyak. Arab Saudi adalah negara 
penghasil minyak mentah terbesar di dunia. Pada awal bulan ini, Organisasi 
Negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan memangkas produksinya. Nah, harga saham 
IPO Aramco, juga keberhasilan penawaran saham ini, akan ditentukan oleh harga 
minyak. Cadangan minyak Aramco yang menentukan valuasi Aramco dipengaruhi oleh 
harga minyak mentah. Pemangkasan produksi akan membuat pasokan minyak berkurang 
dan ada kemungkinan harga minyak akan naik. 

Transaksi raksasa itu juga akan mempengaruhi riyal, kurs mata uang Saudi. Riyal 
dijangkarkan terhadap dolar AS. Karena penurunan penghasilan, cadangan devisa 
Saudi melorot lebih dari 200 miliar dolar AS sejak Agustus 2014, menjadi hanya 
528 miliar dolar AS pada akhir Desember lalu. Masuknya dana segar akan menambah 
cadangan devisa dan memperkuat posisi riyal. 

Dalam konteks lebih besar, saham Aramco juga dapat menjadi filter bagi sistem 
finansial Saudi. Tingkat suku bunga antarbank bertenor tiga bulan, yang 
digunakan perbankan untuk menentukan suku bunga kredit, naik hingga posisi 
tertinggi sejak krisis finansial global pada Oktober lalu. Setelah pemerintah 
Saudi menerbitkan obligasi, suku bunga itu menurun. Penjualan saham Aramco 
tampaknya juga akan membanjiri perbankan Saudi dengan likuiditas segar sehingga 
dapat menekan turun tingkat suku bunga. 

Hambatan Menjajakan IPO Aramco
IPO Aramco sudah diduga tidak akan berjalan terlalu mulus. Ada beberapa hal 
yang menjadi tantangannya. 

Misalnya saja soal valuasi. Aramco tidak memiliki cadangan sendiri. Aramco 
memonopoli sumber produksi dari berbagai sumur. Sehingga, valuasi untuk 
menentukan berapa harga jual Aramco yang pantas bukan berdasarkan dari 
cadangannya, melainkan dari arus kas yang didiskon dan diperhitungkan di masa 
mendatang. Arus kas ini akan tergantung pada laba per barel dan berapa volume 
yang dihasilkan. Laba tergantung pada tarif pajak dan royalti yang harus 
dibayarkan Aramco kepada pemerintah. Jika pajak dan royalti yang diberikan 
kepada kementerian keuangan tinggi, jelas valuasinya akan menjadi rendah.

Selain itu, jika pemerintah Saudi menaikkan pajak, berarti juga menambah 
risiko. Jika Aramco dibandingkan dengan perusahaan swasta lain seperti 
ExxonMobil yang tidak memiliki kewajiban tersebut, tentu saja tingkat diskon 
yang dikenakan terhadap arus kas Aramco tidak sama dengan ExxonMobil, karena 
arus kas Aramco mengandung risiko lebih tinggi.

Untuk menarik minat para investor, pemerintah Saudi berjanji akan mengurangi 
pajak yang harus dibayarkan oleh Aramco. Dengan pengurangan pajak tersebut, 
laba Aramco tentu saja akan bertambah. Sayangnya, masih belum jelas sampai di 
level berapa persen penurunan tersebut. CEO Aramco Amin H. Nasser dalam 
wawancara dengan Televisi Bloomberg mengatakan, saat ini Aramco membayar 20 
persen royalti dari pendapatannya, masih ditambah lagi pajak pendapatan sebesar 
 85 persen. Semua uang itu mengalir ke pemerintah Saudi. Ketika dijual kepada 
publik, skema itu menjadi tidak menarik. Investor publik juga menginginkan 
bagian keuntungan berupa dividen. Usulan pemangkasan pajak itu merupakan 
nasihat dari beberapa bank yang terlibat dalam proses awal rencana IPO tersebut.

Namun demikian, para pejabat di Saudi mengatakan, sebenarnya pemerintah tidak 
perlu memangkas pajak Aramco karena perusahaan minyak itu masih dapat 
menghasilkan laba bahkan ketika harga minyak jatuh. Misalnya saja pada 2016 
lalu, ketika harga minyak mencapai titik nadir dalam 12 tahun terakhir, Aramco 
masih dapat memberikan dividen dan mendanai program investasi terbesarnya. 
Pemasukan pemerintah Kerajaan Saudi dari Aramco ini digunakan untuk mendanai 
sebagian besar biaya operasional negara. 

IPO ini juga diperkirakan tidak akan mampu diserap oleh bursa lokal. Jika 
Aramco harus tercatat di luar negeri, banyak persyaratan yang masih harus 
dipenuhi. Misalnya mengonfirmasi aturan Pengawas Pasar Modal AS mengenai 
perhitungan cadangan minyak walaupun cadangan itu milik pemerintah. 

Mencatatkan saham di bursa luar Saudi juga berpotensi membuat Aramco melanggar 
aturan. Jika sampai kehilangan statusnya sebagai perusahaan negara, Aramco 
dapat berhadapan dengan hukum antimonopoli. 

Persoalan ini masih ditambah dengan apakah ada perubahan fundamental pada 
manajemen di sektor minyak. Misalnya, peralihan saham Aramco ke publik akan 
berakibat perubahan pada struktur manajemen Aramco. 

Jalan Aramco untuk IPO masih panjang dan akan menemui banyak hambatan. Arab 
Saudi diperkirakan tidak akan berhenti di tengah jalan dan terus berupaya 
menjajakan saham Aramco agar laku keras. Itulah yang kini sedang diperjuangkan 
oleh Raja Salman dalam turnya ke Asia, termasuk kunjungannya ke Indonesia. 

Baca juga artikel terkait KUNJUNGAN RAJA SALMAN atau tulisan menarik lainnya 
Yan Chandra 
(tirto.id - cha/nqm)

Kirim email ke