Jaman sekarang itu yang jalan kan duitnya, bisa saja ada di beberapa perusahaan di berbagai negeri yang sulit ditelusuri modal besarnya dari Arab atau Jahudi.
2017-03-02 10:07 GMT+01:00 ajeg [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Beberapa analisis menyebut Raja Salman sedang merintis Jalur Sutra > milenium III. > > Kalau betul begitu barangkali Indonesia (bersama Malaysia & Thailand) cuma > diposisikan sebagai oase transit bagi para saudagar kapitalis, macam > desa-desa di Asia Tengah itoe, tapi mestinya bukan sutra lagi yang diangkut. > > --- jetaimemucho1@... wrote: > > > > Tulisan yang menarik. Ada beberapa point yang sesuai dengan kenyataan > (sudah tentu menurut pandangan saya). Misalnya: > duit gak akan keluar dari sarangnya kecuali hanya untuk membawa pulang > temannya lagi (sesama duit). Ini sama dengan mengatakan kapital > dikeluarkan oleh pemiliknya dan ditanam untuk melahirkan profit. Kapital > selalu cari tempat di mana bisa menghasilkan keuntungan. > > Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara sebagai saudara > seagama. Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di > Mesir, Libya, Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam > lingkungan terdekatnya? Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi, > tak ada tindakan berarti yg > · dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" itu. > Benar sekali!! Bagi kaum kapitalis, yang utama adalah keuntungan ekonomi. > Soal agama sama sekali tidak penting. > > Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn sesama orang kaya... > Benar sekali. Mana ada orang kaya bergaul dengan orang miskin. Orang > miskin dijadikan jongosnya, nah itu baru mungkin! > > Saudi dan RRT adalah dua kekuatan Kapitalisme yg didukung oleh Kekuasaan > Otoriter > (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan memperkuat > demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan Saudi, yg mereka harapkan > terjadi di Indonesia adalah *stabilitas politik* untuk mengamankan > uang2 mereka di sini, tidak peduli apa agama penguasa di Indonesia, dan > bagaimana > kekuasaan itu diraih dan dikelola, yg penting mantap dan stabil. > Penulis tidak mencantumkan RRT sebagai pemerintah "Komunis". Tepat!! > Mendefinisikan sebagai Kekuasaan Otoriter yang anti demokrasi!! Dan memang > betul yang penting bagi mereka adalah "stabilitas politik". Ha...ha.. > seperti kata Paus Fransiskus, kapitalisme yang mendewakan uang. > > Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap kapitalis. > Fokus utamanya cuma satu, uang. > Ha...ha.. seperti kata Paus Fransiskus, kapitalisme yang mendewakan uang. > > Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi, serta jadi kuli dan jongos > China di Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli dan jongos Saudi dan > China di negeri sendiri, NKRI. > Betul, memang ada gejala ke arah itu. Tergantung pada perjuangan rakyat. > Hanya gerakan rakyat yang bisa menghentikan arus mengorbankan rakyat > sendiri untuk dijadikan sapi perahan murah kaum pemodal asing, tak perduli > dari negeri manapun datangnya. > > Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa, > berputar-putar > mencari mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka mendarat. Mereka > tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama... > Betul sekali!! Kapital tidak kenal bangsa, warna kulit, atau agama. Hanya > Chan yang percaya modal Tkk lebih baik dan menguntungkan dari pada modal > Jepang atau AS!!! > > Dengan GDP terbesar *kedua di dunia*, dan Cadangan Devisa terbesar *nomor > satu di dunia*, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak > menjadi 1,5 milyar orang, kemana Kapitalis RRT akan mengarahkan investasi > luar negerinya? > *Indonesia*... letak geopolitisnya strategis, penduduknya banyak (sbg > konsumer/market > yg kuat), sumber daya alamnya luas dan bervariasi, para pemimpinnya > *mudah dibeli*, mental kuli dan jongos rakyatnya cocok untuk jadi bahan > *tenaga kerja berbiaya murah*. > Betul sekali! Hanya beberapa kata yang tidak setuju,* "mental kuli dan > jongos rakyatnya..*.". Rakyat Indonesia tidak bermentalitas kuli atau > jongos!!! Sistim semi feodal dan semi kolonial dengan pemerintahnya yang > mengabdi tuan tanah besar, kabir dan komprador yang memaksa mereka bekerja > sebagai kuli dan jongos dan buruh dengan upah murah. > > Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro... Untuk > investasi, > ya Akhii al-kiraam... > Betul sekali!! Dan ingat bukan Indonesia yang butuh Saudi, tapi Saudi yang > butuh Indonesia karena harga emas hitamnya sudah tidak memungkinkan mereka > mandi duit. Dan siapa yang memfasilitasi dan mengabdi kepada kepentingan > Arab Saudi??? Pemerintah Jokowi yang memang kerjanya ngemis modal!!! Masih > kurang jelas kepada siapa Jokowi mengabdi?? Masih ingat lumbung padi di > Papua yang pernah dibanggakan oleh salah seorang anggota milis ini??? > Berasnya termasuk beras organik untuk diekspor ke Arab Saudi! Rakyatnya > sendiri makan raskin!!! > > Tidak percuma penulis ini menyandang gelar Dr.!!! Matanya jeli! Logikanya > jalan dengan baik. > > On Tuesday, February 28, 2017 8:44 PM, ajeg wrote: > > > Setelah dihantam berbagai kritik akibat kecondongannya pada RRC, barulah > Jokowi teringat citra Indonesia sebagai negara dg politik bebas-aktif. > > Sayangnya, politik luarnegeri yang luhur itu disalahartikan sebagai bebas > bergaul di dunia yang semakin multipolar ini untuk berutang sana-sini. > > Artinya, hanya membawa Indonesia tetap sebagai jajahan nekolim. > > --- arif.harsana@... wrote: > > *Berikut ini, saya forward salah satu tanggapan ttg. kunjungan Raja Salman > ke Indonesia,* > *yg isinya saya kira cukup kritis dan pantas dicermati.* > > *A.H.* > *------------------- * > > ARTIKEL_Dr.KH.Wahfiudin Sakam M.A. > > Sumber: https://www.facebook.com/eva.sundariii.5/posts/1946099205618577 > > ENTREPRENEURS kunci Kemandirian Ekonomi > > Tulisan menarik Dr. KH. Wahfiudin Sakam, M.A. > (Wakil Talqin Abah Anom, TQN Suryalaya). Sahabat Ust Saad,, [image: > alt]?[image: > alt]?[image: alt]? > > Umat Islam Indonesia memang bakal gigit jari... terserah,y mau satu jari, > dua jari, atau tiga jari... > > Sy tdk percaya kedatangan Raja Salman krn memikirkan umat Islam Indonesia. > Dia datang lebih krn kepentingan negaranya sendiri, bahkan lebih sempit > lagi, krn kepentingan Dinasti Saud, demi diri dan keluarganya sendiri. > > Tak ada itu dana (solidaritas) Islam. > Dia arahkan kebijakan luar negerinya ke Timur (India, Malaysia, Indonesia, > Jepang, bahkan RRT) krn gerak invèstasinya di Barat semakin sulit. > > Ekonomi USA belum sembuh dari kehancuran akibat krisis mortgage 2007, > ditambah kebijakan Trump yg "America first", self protective, dan > anti-Islam. > > Eropa, dengan bbrp negara spt Yunani, Portugal, Spanyol terus mengalami > krisis ekonomi; dan keluarnya Inggris dari UE, semakin memberi ketidak > pastian masa depan untuk investasi. > > RRT, INDIA, INDONESIA... tiga negara dgn pertumbuhan ekonomi yg terbaik > (relatif dari semua negara di dunia), tiga negara berpenduduk terbesar yg > siap menjadi market besar dunia, lebih menjanjikan untuk investasi uang > Dinasti Saud. > > Benarkah Raja Salman bawa uang 325T untuk menutup hutang RI kpd RRT? > Hahaha... nonsense... omong kosong... > > Duit gak kenal saudara pemiliknya (manusia)... duit gak akan keluar dari > sarangnya kecuali hanya untuk membawa pulang temannya lagi (sesama duit). > > Bagaimana Raja Salman mau nebar duit untuk umat Islam Indonesia, kalau > uang kematian korban robohnya crane di Masjidil Haram yg dijanjikannya > sendiri sudah bertahun-tahun belum bisa dia bayarkan. Belum lagi janji > untuk menghajikan keluarga korban "tragedi Mina 2". > > Bagaimana mau menebar uang untuk umat Islam, kalau Saudi sendiri sdg > berusaha "memeras" umat Islam dunia dgn menaikkan harga visa Haji dan > Umrah, menjadikan Haji dan Umrah sbg "komoditi eksklusif" dgn "market yg > captive", padahal tebar pesona sebagai "Khadimul Haramain (pelayan dua > Tanah Suci)". > > Bagaimana Saudi mau membebaskan umat Islam Indonesia dari terkaman RRT, > kalau RRT pemegang dana cadangan devisa terbesar di dunia (sekitar 3,5T US > $), kontraktor pembangunan jaringan kereta api di Saudi, juga kontraktor > dan investor besar pembangunan proyek2 infrastruktur di negara-negara Teluk > Arab. > > Harga minyak dunia sdg turun, Saudi tak mau menurunkan produksinya walau > sdh ditekan OPEC, maka satu2nya cara meningkatkan harganya dgn meningkatkan > penjualannya, dan potensi pembeli terbesarnya adalah RRT yg sdg haus enerji > untuk pembangunan sektor industrinya. > > Itu sebabnya setelah dari Indonesia Raja Salman akan ke RRT, untuk > memperkuat kerjasama ekonomi dgn RRT. Dalam "The Clash of Civilizations" S > Huntington juga meramalkan, benturan peradaban yang akan terjadi adalah > antara Peradaban Barat dgn Peradaban Islam (Arab?) Yg bersatu dgn Perdaban > Konfusianisme (Cina?). > > Kapitalis Saudi tdk melihat umat Islam suatu negara sebagai saudara > seagama. Apa yg telah dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" di > Mesir, Libya, Palestina, Suriah, Iraq, dan Yaman yg berada dalam lingkungan > terdekatnya? Sepanjang tdk mendatangkan keuntungan ekonomi, tak ada > tindakan berarti yg dibuatnya untuk "saudara-saudara seagamanya" itu. > > Kedatangannya ke Indonesia, dengan siapa pertemuan-pertemuan pendahuluan > dilakukan untuk mempersiapkannya? Apakah dgn MUI, NU, Muhammadiyah, atau > Parpol-parpol Islam spt PKS, PAN, PPP, PKB? No, ini bukan kunjungan > keagamaan... ini kunjungan bisnis Kapitalis Saudi yg sdg mencari saudaranya > sesama kapitalis... Dan siapa kapitalis-kapitalis besar di Indonesia? > Lihatlah para pangeran Saudi itu, dengan siapa pertemuan2 bisnis mrk sdh > diagendakan, di saat sang Raja melakukan acara seremonial diplomasi > kenegaraan? Pepatah tua mengatakan, orang kaya hanya bergaul dgn sesama > orang kaya... > > Saudi dan RRT adalah dua ,kekuatan Kapitalisme yg didukung oleh Kekuasaan > Otoriter (diktator?) yg anti demokrasi. Apakah kunjungan Raja Salman akan > memperkuat demokrasi di Indonesia? No, bagi investor RRT dan Saudi, yg > mereka harapkan terjadi di Indonesia adalah stabilitas politik untuk > mengamankan uang2 mereka di sini, tidak peduli apa agama penguasa di > Indonesia, dan bagaimana kekuasaan itu diraih dan dikelola, yg penting > mantap dan stabil. > > Apakah kunjungan Raja Salman itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi > keIslaman di Indonesia? Pasti ada dong, walau serpihan-serpihan saja. Yg > jelas kelompok dakwah Salafi Wahabi (SaWah) akan makin kebanjiran dana. > Bukan SaWah yg radikal, tapi SaWah yg anti demokrasi, bahkan yg apolitis. > Paling-paling hanya akan menambah keributan soal syirik, bid'ah, dhalalah, > kafir... dan enerji dakwah hanya akan tersita di keributan soal itu, > sebagaimana terjadi di Makkah dan Madinah, lalu umat Islam terlalaikan dari > pergulatan yg sesungguhnya di pucuk-pucuk Kekuasaan dan Ekonomi negeri ini. > Kapitalis Arab, Kapitalis China, keduanya sama saja, tetap kapitalis. Fokus > utamanya cuma satu, uang. > Jalan menuju uang, yg harus dibangun oleh umat Islam Indonesia adalah: > ENTREPRENEURSHIP !!! > Kalau jalan itu tak dikembangkan, silahkan jadi kuli dan jongos saja. > > SELAMAT DATANG KAPITALIS RRT DAN KAPITALIS SAUDI. > > Kemarin jadi kuli dan jongos Arab di Saudi, serta jadi kuli dan jongos > China di Hongkong, sekarang bersiaplah jadi kuli dan jongos Saudi dan China > di negeri sendiri, NKRI. > > Uang bagaikan kawanan burung bangkai yg terbang berkelompok di angkasa, > berputar-putar mencari mangsa. Di situ ada bangkai, di situlah mereka > mendarat. Mereka tak kenal kewarhanegaraan, ras/etnis, maupun agama... > > Setelah pelemahan ekonomi di Eropa, juga Amerika, terlebih dgn kebijakan > Donald Trump yg self-protection dan anti-Islam, kemana para Kapitalis Saudi > akan mengarahkan investasinya? Afrika yg dekat dgn Saudi, dari dulu tak > pernah menjanjikan. > > Dengan GDP terbesar kedua di dunia, dan Cadangan Devisa terbesar nomor > satu di dunia, apalagi dengan tekanan jumlah penduduk yg terus mendesak > menjadi 1,5 milyar orang, kemana Kapitalis RRT akan mengarahkan investasi > luar negerinya? > > India... paling banyak punya ahli IT dan Manajer. > > Vietnam... paling kuat jaringan internetnya. > > Malaysia... kuat entrepreneur-nya. > > Indonesia... letak geopolitisnya strategis, penduduknya banyak (sbg > konsumer/market yg kuat), sumber daya alamnya luas dan bervariasi, para > pemimpinnya mudah dibeli, mental kuli dan jongos rakyatnya cocok untuk jadi > bahan tenaga kerja berbiaya murah. > > Ke Indonesia-lah, para Kapitalis Saudi dan Kapitalis RRT datang... > > Memangnya Raja Salman datang ke Indonesia mau menyelesaikan urusan Islam > dan umat Islam di Indonesia? > No... ini urusan investasi keluarga Saud, ya akhii... > > Bagaimana Raja Salman mau mengurus Islam di Indonesia, kalau: > > 1. Raja Salman tak punya pengalaman mengurus umat sebanyak ini. Di Saudi > cuma ada sekitar 22 juta muslim, di Indonesia 220 juta muslim. > > 2. Di Indonesia ada lebih banyak Perguruan Tinggi Agama Islam yg > menghasilkan Sarjana-sarjana ahli Ilmu Agama Islam daripada di Saudi. Coba > hitung, betapa banyak Indonesia punya pesantren, madrasah diniyah, > ibtidaiyah hingga aliyah, UIN, IAIN, STAIN, STAI Swasta, Universitas Islam, > kursus-kursus muballigh. > > Saya tdk tahu, para sarjana S1 hingga S3 Ilmu Agama Islam yg > dihasilkannya, malah membawa kemajuan bagi umat atau malah menjadi beban... > karena kalau sdh sarjana, lalu jadi pegawai atau pengajar, gaji dan > fasilitas yg ditunutunya pun semakin mahal... jadi muballigh pun tarifnya > semakin tinggi... tapi apa dampaknya bagi perkembangan dakwah? Entahlah... > > Yg jelas, kerja "semut-semut pekerja dakwah" dari Jamaah Tabligh, yg door > to door menjemput orang ke jalan iman, lebih banyak "mengIslamkan" orang > daripada apa yg dilakukan oleh para sajana Perguruan Tinggi Agama Islam, > karena mereka lebih sibuk antri jadi PNS (sekarang ASN) di Kemenag dgn > menenteng ijasah-ijasah mereka. > > 3. Di Indonesia lebih banyak organisasi dakwah dan harakah Islamiyah > daripada di Arab Saudi, dengan variasi mazhab fiqih, firqah aqidah, dan > aliran thariqah yg beragam, dengan corak yg fundamental, radikal, liberal, > dan sinkretis, lengkap dgn garis keras, garis lurus, dan garis lucu... Gak > akan sanggup Raja Salman memahami semua itu, apalagi memikirkan dan > menyelesaikannya... > > 4. Di Indonesia banyak terdapat parpol-parpol Islam yg mengusung "politik > demokrasi liberal", padahal itu yg paling ditakuti oleh Dinasti Saud. Kalau > semangat demokrasi menular ke rakyat Arab Saudi, hancur itu kerajaan, dan > anggota Dinasti Saud akan dibunuhi seperti Saddam Husein dan Moammar > Khadafi... Maka Arab Springs berhenti di depan pintu Arab Saudi. > > 5. Di Indonesia ada Ahok dan Sembilan Naga, justeru orang-orang spt itu yg > disukai para Kapitalis Saudi. Mrk pekerja keras, pebisnis ulung, pandai > membuat perkongsian... > Industri pabrikasi, konstruksi dan perdagangan di Arab Saudi sangat maju > karena bekerjasama dgn para pebisnis China. Di pasar Ternate (pelosok Utara > Maluku) toko-toko Arab dan China berdampingan sejak lama, begitu juga di > Ambon. > Di Surabaya, Malang, Gresik, Pekalongan (pusat industri batik), Bogor > (Empang), Palembang, Makassar... pebisnis Arab dan pebisnis China, dgn gaya > berkongsi masing-masing, mereka berdagang bersama-sama di pasar, membangun > pabrik, klinik, apotik, toko kelontong... gak pernah mereka konflik... > Travel Haji/Umrah di Indonesia pun banyak dikelola bersama oleh pebisnis > Arab/Saudi dgn China. > > 6. Raja Salman datang bukan untuk memberesi banjir Jakarta... justeru mrk > sangat menyukai hujan lebat, krn capek hidup di gurun kering. Juga bukan > untuk menyelesaikan macet Jakarta, krn orang Saudi tidak banyak tinggal di > Jakarta, senangnya di kawasan Puncak, Batu/Malang, daerah yg sejuk-sejuk > tapi banyak hidangan hangatnya... > > 6. Jadi untuk apa Raja Salman datang ke Indonesia? Untuk dagang, Bro... > Untuk investasi, ya Akhii al-kiraam... > > Pokoknya, kalau umat Islam Indonesia tidak punya semangat kemandirian, > sibuk mengagungkan Turki dan Erdogan, sibuk berteriak soal Palestina dan > Suriah, bergantung pada duit Kapitalis Saudi dan RRT... serta tidak > membangun ENTREPRENEURSHIP yg kuat, maka kita hanya sebagai penonton. > > > Eva Kusuma Sundari <https://www.facebook.com/evakusuma.sundari.9> > > *** > > > __ > > _ > > >
