Arab Saudi yang Salah Berhitung
Mereka bertemu secara rahasia di sebuah istana di tepi Laut Merah merancang 
serangan mematikan pada musuh bersama mereka2 Maret 2017Arab Saudi yang salah 
berhitung dan kini kehilangan pengaruh di Timur Tengah bahkan kalah dibanding 
Iran [Foto: Istimewa]Koran Sulindo – Bukan dengan, senjata, tank atau jet 
tempur. Pilihannya adalah senjata yang lebih kuat. Minyak. Pada tanggal 11 
September 2014 itu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry khusus terbang ke Arab 
Saudi menemui Raja Abdullah, penguasa negeri itu dan salah satu orang terkaya 
di dunia. Bertemu Kerry, Abdullah mengundang mantan kepala intelijen Saudi, 
Pangeran Bandar.Pengamat menyebut dalam pertemuan itu disusun rencana untuk 
menghancurkan musuh bersama mereka: Rusia dan Iran. Minyak adalah komoditas 
utama dunia dan Arab Saudi adalah eksportir minyak terbesar dan memiliki 
kontrol atas harga minyak dunia. Pertemuan itu menyepakati Arab Saudi bakal 
membanjiri pasar minyak sekaligus memangkas harga hingga separuh. Anjloknya 
harga minyak, diharapkan memukul ekonomi Rusia dan Iran yang sangat tergantung 
pada penjualan minyak.Rusia menjadi sasaran karena mendukung musuh regional 
mereka, Presiden Suriah Bashar al-Assad. Alasan yang sama berlaku untuk Iran, 
selain karena negara itu merupakan musuh abadi Saudi. Akhir tahun 2014 dunia 
menjadi saksi anomali pasar minyak. Dengan intentisitas konflik di kawasan 
Teluk yang tinggi, harga minyak justru anjlok. Minyak murah Saudi itu memicu 
perang harga di OPEC setelah Iran juga ikut menurunkan harga minyaknya. Saudi 
berpaling ke pasar Asia khususnya Cina dengan menawarkan diskon. Minyak mentah 
mereka ditawarkan hanya US$ 50-60 per barel, separuh dibanding harga pasar yang 
mencapai US$ 100.Dari Saudi, perang minyak itu dikoordinasikan dengan operasi 
peperangan Departemen Keuangan melalui Kantor Terrorism and Financial 
Intelligence. Mereka menggandeng beberapa pemain dalam di Wall Street yang 
mengontrol perdagangan derivatif minyak. Cina beruntung membeli minyak murah, 
namun Rusia dan Iran terpukul telak.Secara umum strategi ini berhasil. Harga 
minyak anjlok lebih dari 70 persen sejak pertemuan rahasia Kerry dan Abdullah 
bulan September 2014 itu. Masalahnya, perang ekonomi tidak selalu berjalan 
sesuai rencana.Cadangan Terkuras
Rusia jauh-jauh hari sudah mengambil langkah-langkah strategis menggandeng Cina 
dan beberapa negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada Barat. Perang 
minyak justru memacu Rusia makin fokus pada kepentingan nasional dengan 
mengurangi ketergantungannya pada dolar. Jika dolar berhenti digunakan sebagai 
mata uang perdagangan dunia khususnya minyak, Departemen Keuangan AS-lah yang 
justru menyongsong bencana.Untuk alasan ini, strategi perang minyak 
Kerry-Abdullah dianggap blunder. Dampak bagi Saudi tampaknya tak perlu menunggu 
terlalu lama. Mereka tertusuk pedangnya sendiri karena memainkannya dengan 
berlebihan. Dengan 90 persen kontribusi penjualan minyak sebagai pendapatan 
negara. Memangkas harga jelas bakal menyakiti diri sendiri. Satu-satunya jalan 
yang tersisa adalah menguras cadangan devisa.Di sisi lain lebih dari tiga 
dekade, negeri itu mematok mata uangnya di level 3,75 riyal per dolar AS. 
Mempertahankan mata uang di level itu terus menerus Saudi perlu tumpukan besar 
dolar AS di tangan. Selama ini dengan cadangan dolarnya, Saudi tak pernah 
mendapat masalah. Namun, ketika anggaran berada di bawah tekanan serius dan 
pemerintah hanya bertahan dengan cadangan devisa, kemampuan negeri itu menopang 
nilai mata uangnya terancam.Jika Saudi terpaksa melepas patokan mata uangnya, 
devaluasi riyal akan meningkatkan biaya hidup seluruh kalangan di Saudi dan ini 
meningkatkan potensi kerusuhan sosial. Di sisi lain, negara itu juga terus 
kehilangan miliaran dolar akibat perang mereka di Yaman dan Suriah. Dalam 
perang sipil di Suriah, dengan mendukung pemberontak bersenjata Saudi berpikir 
bisa menggulingkan Presiden Bashar al Assad dalam hitungan bulan. Mereka 
berasumsi, Assad jatuh semudah Gadhafi di Libya tahun 2011. Kalkulasi Saudi 
meleset total.Di Yaman, Saudi meluncurkan mesin perang menyerbu tetangganya 
yang miskin itu Maret 2015. Saudi ingin mengembalikan pemerintahan yang ramah 
kepada Riyadh. Skenarionya, intervensi hanya berlangsung beberapa bulan dan 
segera mengumumkan “misi selesai” dan pulang. Bukan itu yang kemuIan 
terjadi.Mesin perang Saudi terjebak gerilya Houthi dan intervensi 
berkepanjangan negara terkaya di Arab itu hanya menciptakan bencana 
kemanusiaan. Setidaknya 6.000 orang tewas termasuk 3.000 warga sipil. Di sisi 
lain, intervensi itu menciptakan kekosongan yang membuka jalan Al Qaeda atau 
ISIS membangun basis-basis pertahanan di Yaman. Faktanya, hampir sebagian besar 
senjata Saudi itu berakhir di gudang-gudang Al Qaeda dan ISIS.Jebakan Suriah
Setelah setengah abad membangun diri sebagai kekuatan utama di Timur Tengah, 
dalam tahun-tahun terakhir Saudi justru menemukan dirinya frustasi hampir di 
semua front. Mereka tertinggal jauh dibanding Iran yang tampil sebagai pemain 
kunci di Timur Tengah. Dukungan Saudi pada pemberontak dan meningkatnya tekanan 
militer, justru membuat Assad mencari lebih banyak bantuan ke Rusia dan Iran. 
Dan kedua negara itu tak mau setengah-setengah membantu. Total.Ketika jet-jet 
tempur Rusia masuk ke Suriah September 2015, sekutu utama Saudi yakni AS tak 
siap untuk menentang aksi itu. Kekalahan makin telak ketika sekutu Saudi di 
Suriah gagal mempertahankan basis terakhir mereka di Aleppo. Direbutnya Aleppo 
oleh Tentara Suriah dan kemungkinan jatuhnya Mosul oleh Tentara Irak hanya 
berarti kemenangan Iran di wilayah yang membentang dari Asia Tengah hingga 
Mediterania sekaligus menjepit posisi Saudi. Dan tentu saja, Suriah bakal 
menyiapkan pembalasan. Ini yang ditakuti Saudi sejak awal.Bocoran memo 
diplomatik WikiLeaks tahun 2012 yang dimuat Albawabanews yang berbasis di Amman 
mengungkapkan Presiden Bashar al Assad harus diturunkan sebelum ia menuntut 
balas dendam ke Saudi. Memo itu juga menyarankan Saudi harus ‘berbaik-baik’ 
dengan Rusia sekaligus mengarahkan media agar tak menentang tokoh Rusia. 
“…dalam kasus di mana rezim Suriah mampu melewati krisis, mereka akan mengejar 
balas dendam pada negara-negara yang menentangnya dengan Kerajaan dan beberapa 
dari negara-negara Teluk berada di daftar teratas.”Pejabat Saudi menghitung 
Assad bakal menggunakan segala cara untuk mewujudkan tujuan-tujuan itu. 
Mencegah situasi itu Saudi harus, “..mencari dengan segala cara yang tersedia 
dan semua cara yang mungkin untuk menggulingkan rezim Suriah saat ini.” 
Mengejar tujuan itu, Saudi memperkuat retorikanya pada Suriah termasuk 
mengancam intervensi militer langsung dengan mengirim pasukan khusus dalam 
‘misi kemanusian’ sekaligus berpartisipasi dalam ‘perang melawan teror’.Banyak 
pakar mengamati, pameran kekuatan persenjataan yang dipertontonkan Saudi 
bukanlah berasal dari kepercayaan diri, lebih sebagai langkah putus asa karena 
pemberontak anti-Assad yang merupakan proxy Saudi tak berdaya digencet sayap 
udara Rusia dan pasukan darat Suriah. Perang sipil di Suriah tak berjalan 
mengikuti skenario Saudi. Pilihan menjadi sangat terbatas menjadi hanya 
melindungi pemberontak di wilayah Suriah Utara sambil berharap masih ‘tersedia 
cara’ menggulingkan Assad atau setidaknya membagi negara itu dalam konflik 
sektarian permanen.Mengutip Laporan Terorisme Departemen Luar Negeri AS pada 
2014, jumlah teroris asing  yang masuk Suriah dalam beberapa tahun terakhir 
belum pernah terjadi sepanjang sejarah. “Kedatangan pejuang asing ke Suriah 
–lebih dari 16.000 orang dari 90 negara pada akhir Desember- melebihi 
kedatangan pejuang asing ke Afghanistan, Pakistan, Irak, Yaman, atau Somalia 
dalam 20 tahun terakhir.”Di Balik IPO Aramco 
Selain berinvestasi, tur Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Asia terutama 
ke Cina, Jepang, Malaysia dan Indonesia dalam rangka penawaran perdana (IPO) 
Aramco, perusahaan minyak milik Saudi dan sekutunya. Saudi berharap bisa 
melepas saham Aramco lima persen pada 2018. Ini disebut sebagai pelepasan saham 
terbesar di dunia mengingat kapitalisasinya diperkirakan mencapai US$ 2 
triliun.Saudi membutuhkan pendanaan untuk proyek-proyek pembangunan di dalam 
negerinya. Negeri itu sedang mengalami krisis keuangan sejak 2015. Dana Moneter 
Internasional (IMF) pada tahun itu bahkan memprediksi Saudi akan mengalami 
kebangkrutan dalam lima tahun ke depan. Pasalnya, Saudi mengalami defisit 
anggaran selama dua tahun terakhir. Pada 2015, misalnya, defisit anggaran Saudi 
mencapai 21,6 persen dan tahun berikutnya mencapai 19,4 persen.
IMF prediksi Arab Saudi bakal bangkrut dalam lima tahun ke depanMenurut IMF, 
prospek ekonomi kawasan Timur Tengah dipengaruhi beberapa faktor utama antara 
lain konflik regional yang berkepanjangan serta harga minyak dunia yang merosot 
tajam. Konflik berkepanjangan justru menciptakan masalah besar seperti 
meningkatnya jumlah pengungsi dan belum pernah terjadi sejak awal 1990-an. 
Sulit mencapai kesinambungan fiskal di kawasan tersebut dalam jangka menengah, 
apalagi akan ada lebih dari 10 juta orang uang mencari pekerjaan pada 
2020.Harga minyak diperkirakan tidak akan banyak berubah dalam waktu dekat ini. 
Itu menyebabkan menurunya penerimaan negara yang cukup besar termasuk bagi Arab 
Saudi. Pada 2015 saja misalnya, penurunan pendapatan negara-negara di kawasan 
tersebut mencapai US$ 360 miliar per tahun. Ini merupakan kali pertama Saudi 
mengalami defisit anggaran sejak 2009. Penurunan harga minyak sangat berdampak 
pada perekonomian Saudi, terlenih 80 persen penerimaan negara berasal dari 
penjualan minyak.Aset bersih Saudi pada Januari hingga Agustus 2015 turun 
sekitar US$ 82 miliar. Pemerintah menjual surat utang negara senilai US$ 15 
miliar. Akibat defisit anggaran itu menyebabkan pengangguran dan penundaan 
proyek-proyek infrastruktur. Berkaitan dengan IPO Aramco, Moelis & Co ditunjuk 
sebagai penasihat investasi. Perusahaan ini didirikan konglomerat Yahudi 
bernama D. Moelis pada 2007 yang kini bermarkas di Beijing.Aramco merupakan 
perusahaan minyak yang awalnya bernama Standard Oil Company of California 
(SOCAL) yang mendapat konsesi minyak di Timur Tengah pada 1930. Awal 
beroperasi, Perang Dunia II pecah, Presiden Roosevelt berusaha untuk 
menasionalisasi SOCAL, namun berhasil digagalkan Kongres berkat lobi Yahudi. 
SOCAL kemudian melibatkan Texaco yang berubah menjadi Caltex. Untuk memperluas 
operasi bisnis minyak tersebut, bergabung lagi Standard Oil of New Jersey 
(Exxon) dan Standard Oil of New York (Mobil). Aliansi ini kemudian menjadi Arab 
America Corporation (Aramco), perusahaan minyak terbesar di dunia.Pendiri 
perusahaan minyak itu rata-rata Yahudi yang bermitra dengan badan usaha milik 
negara Arab Saudi. Selama beroperasi, Aramco merupakan perusahaan tertutup dan 
kini akan dilepas ke publik. Mengapa? Pasalnya, minyak tidak lagi menjadi 
produk strategis sejak ditemukannya energi alternatif. Karena itu, perusahaan 
perlu merestrukturisasi bisnisnya jika tidak ingin bangkrut. Dengan demikian, 
kelak tidak lagi bergantung pada minyak.Perubahan geo-politik terutama 
kekalahan mereka di Timur Tengah, memaksa Saudi untuk mencari jalan keluar 
untuk mencari pijakan baru. Selain untuk mengatasi defisit anggaran itu, Saudi 
ingin menciptakan wilayah baru untuk bersaing dengan Rusia dan Iran. Tentu saja 
langkah Saudi itu tidak akan mudah mengingat Rusia dan Iran telah melangkah 
lebih dulu ke Asia. [Teguh Usia, Kristian Ginting]

Kirim email ke