Bukan saya membela Arab Saudi, ... hanya saja dalam pemikiran saya DEMO macam 
ini apa tidak SALAH SASARAN! 

Kalau saja kenyataan banyak TKW diperlakukan TIDAK ADIL, TIDAK MANUSIAWI di 
Arab sana, yaa, TUNTUTLAH pada PEMERINTAH RI yang berkewajiban melindungi 
setiap warganya diluarnegeri! Yaa, jangan mau dikirim bekerja ke negara Arab, 
sekalipun diiming-imingi mati ditanahsuci PASTI naik SORGA! 

Dan, ... kalau saja pemerintah RI belum berkemampuan menghadapi negara-negara 
Arab untuk melindungi warganya, yaa, TUNTUT saja lebih GENCAR pada pemerintah 
TIDAK lagi mengirim Pekerja ke negara Arab, dengan membuka lapangan-kerja di 
dalam negeri lebih baik, ...!

Lalu, apa yang hendak dicapai dengan mendemo kunjungan Raja Salman di 
Indonesia? Ada kemunjgkinan untuk tercapai, ...?


From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, March 3, 2017 4:13 AM
To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Jonathan Goeij ; Lusi.D ; Roeslan ; Daeng ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Gol ; 
Harry Singgih ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Farida Ishaja ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Billy Gunadi ; [email protected] ; Mang Broto ; 
[email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; 
C. Manuputty ; [email protected] ; Oman Romana ; 
[email protected] 
Subject: [GELORA45] Raja Salman Datang ke Indonesia, Aksi Unjuk Rasa di Depan 
Kedubes Arab Saudi pun di Represi Polisi





Raja Salman Datang ke Indonesia, Aksi Unjuk Rasa di Depan Kedubes Arab Saudi 
pun di Represi Polisi

2 Maret, 2017
Aksi buruh migran di depan Kedubes Arab Saudi 03 Februari 2017 [dok. Mrb]
Aksi massa yang di adakan oleh buruh migran dan organisasi rakyat lainnya di 
depan Kedubes Arab Saudi, Jl. Rasuna Said, Kuningan – Jakarta di hadapi secara 
represif oleh aparat kepolisian. Massa yang melakukan aksi coba di bubarkan 
paksa, 30 orang diantaranya di angkut paksa ke mobil tahanan polisi.
Jen, juru bicara dari Keluarga Besar Buruh Migran Indonesia (Kabar Bumi) 
menyatakan bahwa tindakan represif ini menunjukkan bahwa pemerintah RI yang di 
Pimpin Jokowi hanya mengincar kucuran uang dan investasi dari Arab Saudi. 
Sedangkan nasib buruh migran Indonesia yang kerap di siksa bahkan terancam 
hukuman mati di Arab Saudi tidak menjadi persoalan penting bagi pemerintah.
Perjanjian Pemerintah dengan Arab Saudi mengkhianati rakyat, karena akan 
menghilangkan penghidupan rakyat dan meluasnya perampasan tanah . Dampaknya 
akan semakin banyak yang menjadi buruh migran yang bekerja tanpa perlindungan. 
“Upaya pembubaran paksa terhadap aksi yang menuntut perlindungan BMI Indonesia 
di Arab Saudi adalah bentuk pengkhianatan yang melukai hati rakyat” tegas Jen. 
Bahkan untuk menuntut kebebasan dari penyiksaan, kriminalisasi serta tidak 
diberlakukan sebagai budak di Arab Saudi saja rakyat Indonesia harus menerima 
represi dari aparat pemerintah.
Kabar Bumi beserta beberapa organisasi buruh migran, organisasi buruh, 
organisasi tani dan organisasi rakyat melakukan aksi untuk mendesak 
perlindungan bagi BMI di Arab Saudi dan menolak segala perjanjian dengan Arab 
Saudi yang mengkhianati rakyat.
“Pemerintah RI sama sekali tidak mendesak Raja Salman agar membebaskan 25 WNI 
di yang terancam hukuman mati dan BMI yang dikriminalisasi di Arab Saudi. 
Pemerintah Indonesia seharusnya mengajukan MoU yang menjamin perlindungan dan 
jaminan hak normatif (libur, cuti, upah, hak atas dokumen, jam kerja dan 
sebagainya),” papar Jen.
Tidak adanya perlindungan ketenagakerjaan bagi buruh migran di Arab Saudi, 
mengakibatkan tingginya permasalahan yang dialami Buruh Migran Indonesia berupa 
pelanggaran hak sebagai pekerja, penyiksaan bahkan pembunuhan. Diperparah 
dengan tidak adanya penegakan hukum bagi warga Arab Saudi yang menjadikan tidak 
adanya efek jera bagi majikan.
Hingga berita ini di turunkan (14.30WIB) massa masih melakukan unjuk rasa di 
depan kedubes Arab Saudi dan menuntut 30 orang yang di tahan agar di bebaskan 
oleh kepolisian.



Kirim email ke