http://www.antaranews.com/berita/615750/para-ulama-timur-tengah-marah-agama-dipolitisasi-untuk-picu-konflik
*Para ulama Timur Tengah marah agama
*
*dipolitisasi untuk picu konflik*
Jumat, 3 Maret 2017 11:28 WIB | 1.541 Views
Para ulama Timur Tengah marah agama dipolitisasi untuk picu konflik
Seorang pria menggendong anak perempuan yang terluka di situs yang rusak
di Aleppo, Suriah, Sabtu (27/08/2016). (REUTERS/Abdalrhman Ismail)
Para kriminal memanfaatkan penafsiran yang salah (tentang Islam)
yang sama sekali tak ada kaitannya dengan agama atau kitab suci kita
Jakarta (ANTARA News) - Para ulama dan tokoh lintas agama dari sekitar
50 negara di Timur Tengah dan sekitarnya, termasuk Imam Besar Al-Azhar
Mesir Dr Ahmad Al Tayeb, mendesak pemerintah dan masyarakat kawasan ini,
serta dunia Islam, untuk berbuat lebih banyak lagi dalam menciptakan
"budaya koeksistensi" antarumat beragama. Sebaliknya mencegah kaum
ekstremis mengeksploitasi pengabaian dan ketidakpahaman beragama.
Selasa pekan ini para pemimpin dan delegasi dari 50 negara berkumpul di
Kairo, Mesir, guna menghadiri sebuah konferensi bertajuk "Kebebasan dan
Kewarganegaraan: Keberagaman dan Integrasi" yang disponsori oleh Al
Azhar, Mesir.
Ahmad Al Tayeb menegaskan Timur Tengah saat ini mengalami masa di mana
ekstremis-ekstremis membelokkan agama untuk tujuan politik mereka
sendiri dan meniup bara konflik.
"Kita menyaksikan banyak masalah di kawasan ini, seperti perang tanpa
alasan yang logis. Adalah menyakitkan melihat agama dipandang ada di
balik perang ini. Kita melihat banyak orang yang kehilangan nyawanya,"
kata Ahmad Al Tayeb.
"Gambarannya semakin suram. Para kriminal memanfaatkan penafsiran yang
salah (tentang Islam) yang sama sekali tak ada kaitannya dengan agama
atau kitab suci kita...semua masalah ini tak ada kaitannya dengan Islam,
tetapi Islam telah diperalat untuk menumpahkan darah," kata ulama besar
Mesir itu.
Shaikh Tayeb menyatakan kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok
ekstremis telah membuat dunia salah memandang Islam.
"Ruh dan jiwa sirna, dan terciptalah lautan darah. Saat ini hal ini
membuat banyak orang beralih melawan agama kita. Islamofobia telah
menciptakan dampak yang sangat serius terhadap warga muslim di seluruh
dunia. Kita perlu membebaskan manusia sedunia untuk mendapatkan penawar
untuk penyakit ini," sambung dia.
Sementara itu Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit mengajak umat Islam
meneladani dan bercermin kepada toleransi Islam saat muslim menguasai
Andalusia atau Spanyol sekarang, berabad-abad silam, di mana umat Islam
dan Kristen hidup damai berdampingan.
"Era Andalusia meneladankan tingkat toleransi yang optimal. Tak ada
bandingannya, pengalaman yang menakjubkan. Tetapi kini kita hidup di era
fanatisme. Ini adalah fenomena yang tengah terjadi yang sangat
disayangkan dan menyedihkan," kata Aboul Gheit dalam laman Khaleej
Times, Dubai, Emirat Arab.
Dia melanjutkan, "masa depan Dunia Arab, akan sangat tergantung kepada
apakah wilayah ini sedia merangkul berbagai budaya dan agama serta
mengantarkannya ke 'era pluralisme'. Saya yakin sekali Timur Tengah akan
besar karena keberagaman, atau mengering dan bahkan mati jika kita
kehilangan itu."
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017