Kayaknya sementara orang masih belum mengerti sikon dan kenyataan di Indonesia sendiri. Ya memang, kalau yang menjadi perhatian utamanya adalah apa yang dilakukan para elit penguasa serta semua kontradiksinya dengan cerita dan berita yang sensasionil dan pembangunan yang megah, maka kenyataan kriminalisasi terhadap aktivis dan kaum tani yang mempertahankan tanahnya menjadi masalah nomer buncit.
Pendeta Sugianto (Gie), pendamping para petani, divonis 1,6 tahun penjara.Dua petani, Sukirman dan Sukirji, divonis 2,4 tahun penjara. Dua petani lain, Sujarno dan Hasan, menerima vonis 2 tahun penjara. Pengadilan Negeri Menggala pada Kamis sore, 2 Maret 2017 memutuskan vonis itu.Kelima aktivis agraria ini memprotes perampasan lahan warga yang dilakukan oleh PT Bangun Nusa Indah Lampung (BNIL), anak perusahaan Bumi Waras atau dikenal Sungai Budi Group.Pendeta Karel Eka Putra Barus, koordinator advokasi dari Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (GBKBS) tempat pendeta Sugianto bertugas, menilai vonis itu "tidak adil." Pendeta Karel prihatin karena perjuangan petani untuk mendapatkan hak atas tanahnya kembali justru berbuah hukuman bui.Pendeta Karel juga menyayangkan vonis hakim bagi pendeta Sugianto. Alasannya, Sugianto adalah pendeta tugas khusus yang melayani dan membantu masyarakat di Tulang Bawang.Pendeta Gie adalah pendeta utusan khusus dari Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS). Beliau melayani di GKSBS Sumber Hadi, di Lampung Timur. Sebagian besar jemaatnya adalah transmigran asal Jawa.Pendeta Gie :"Saya mendampingi mereka untuk memperjelas tujuan mereka. Kami membangun strategi untuk perjuangan. Membuat mereka lebih berani, membuat mereka bisa berjuang lebih teratur, sistematis.Dan ya... saya sudah tahu risikonya. Bahwa, salah satu risiko yang bisa terjadi saya ditangkap. Saya juga pernah punya pengalaman ditahan oleh tentara. Saya pernah punya pengalaman dikejar-kejar polisi di Jogja ketika saya mendampingi buruh di Jogja waktu saya masih kuliah.""Saya tidak pernah merasa terkungkung. Karena kan banyak orang di tahanan yang merasa menderita. Lalu dia nyanyi-nyanyi kayak orang gila:“hidup di bui bagaikan burung.” Saya nggak merasa seperti itu. Nggak ada batasan buat saya.Tidak ada kesedihan. Yang dapat membuat sedih itu kalau isteri menelepon kalau susu anak habis. Itu baru sedih saya. Karena kalau gitu saya betul-betul tidak bisa melakukan apa-apa.Tetapi.. ya bukan berarti tidak bisa apa-apa.Saya berdoa.Puji Tuhan sampai hari ini, dengan segala kecemasan-kecemasan yang ada tetap cukup. Saya tidak tahu bagaimana Tuhan mencukupkan."
