http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39164947
 Pawai Perempuan serukan ‘hapus kekerasan dan diskriminasi’ di Indonesia 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39164947 4 Maret 2017

 Kirim http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39164947#share-tools


 
 Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionSalah satu peserta Pawai Perempuan di 
Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (04/03). Seraya membawa aneka 
poster dan berpakaian cerah, sejumlah orang menggelar Pawai Perempuan atau 
Women's March di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pada Sabtu (04/03) pagi.
 Tuntutan para peserta pawai, sebagaimana lantang diteriakkan seorang orator, 
"agar tidak ada perempuan didiskriminasi, agar tidak ada lagi diskriminasi 
hanya karena orientasi seksualnya."
 Kekerasan seksual yang menimpa perempuan juga menjadi sorotan dalam aksi yang 
diadakan untuk menyambut Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret 
2017.
 'Darurat kekerasan': Pembunuhan perempuan oleh laki-laki di Indonesia 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160721_trensosial_pembunuhan_perempuan
 Mencegah kekerasan seksual lewat pendidikan 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160713_majalah_kurikulum_kespro 
Jutaan orang di AS dan sejumlah negara ikuti protes anti-Trump 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-38687393Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage 
captionBerdasarkan catatan tahunan Komnas Perempuan pada Februari lalu, kasus 
kekerasan terhadap perempuan pada 2015 mencapai 321.752 kasus, naik 9% dari 
2014.Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionJumlah kasus pembunuhan dan kasus 
kekerasan seksual terhadap perempuan sudah dalam taraf "darurat" untuk 
ditangani, kata pegiat hak-hak perempuan. Berdasarkan catatan tahunan Komnas 
Perempuan pada Februari lalu, kasus kekerasan terhadap perempuan pada 2015 
mencapai 321.752 kasus, naik 9% dari 2014. Dari ratusan ribu kasus itu, bentuk 
kekerasan yang paling banyak dialami oleh perempuan adalah kekerasan fisik , 
yaitu 38%. Kekerasan seksual menempati urutan kedua dengan 3.325 kasus.
 Perhitungan lain, sebagaimana disampaikan akun Menghitung Pembunuhan Perempuan 
https://www.facebook.com/menghitungpembunuhanperempuan/ di Facebook yang 
dibentuk oleh Kate Walton, aktivis dan penulis asal Australia, terdapat 193 
kasus pembunuhan dengan korban perempuan sepanjang 2016.
 Kate menyebut data itu menunjukkan situasi 'darurat kekerasan' terhadap 
perempuan.
Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionHanifah mengajak serta anak 
laki-lakinya "agar dia tahu perjuangan perempuan".Hak atas fotoHILMAN 
HAMDONIImage captionSebagian peserta Pawai Perempuan. 'Agar tahu perjuangan 
perempuan' Kondisi yang dialami perempuan Indonesia itulah yang mendorong para 
peserta pawai mengajak serta anak mereka, sebagaimana dilakukan Hanifah. 
Perempuan itu mengikuti pawai dengan membawa anak lelakinya yang berusia tujuh 
tahun.
 "Agar dia tahu perjuangan perempuan," katanya kepada wartawan Hilman Handoni 
yang melaporkan untuk BBC Indonesia.
Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionSejumlah peserta datang dengan 
mengenakan busana daerah. Sejumlah peserta pawai juga ingin mengingatkan bahwa 
rakyat Indonesia bisa berbuat lebih baik terhadap kaum perempuan.
 "Berbicara feminisme itu sebenarnya bukan cuma Barat. Tapi di Indonesia juga 
punya nilai luhur dalam memuliakan perempuan," ujar Dea Safira Basori, pegiat 
Indonesia Feminis yang datang dengan memakai atribut pakaian daerah.
 Tagar #NotOkay: Video Trump picu kisah kekerasan seksual 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/10/161010_dunia_trump_sex_tape 
Kekerasan seksual pada perempuan dan inferioritas laki-laki 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/11/151125_indonesia_kekerasan_seksual_inferioritasHak
 atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionBeberapa pelajar sekolah menengah pertama 
ikut Pawai Perempuan dengan membawa pesan anti-perundungan. Akan tetapi, ada 
pula peserta yang menggarisbawahi kekerasan tidak melulu melibatkan tindakan 
fisik.
 Endah dan Intan, dua di antara kesembilan pelajar sekolah menengah pertama 
dari kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, mengaku perundungan 
atau bullying menjadi masalah yang dihadapi perempuan-perempuan di sekolah.
 Mereka mengajak sesama pelajar untuk tidak merundung satu sama lain. "Ini 
hanyalah awal," demikian bunyi kalimat dalam salah satu poster yang mereka bawa.
 Soal kekerasan terhadap perempuan, suara orator dalam pawai itu kembali 
terdengar. "Betapa banyak perempuan, buruh migran yang mengalami kekerasan di 
Arab Saudi, tapi luput dalam pembicaraan," pekiknya.
Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionSejumlah peserta mengecam perilaku 
kalangan yang justru menyalahkan dan menyudutkan perempuan dalam kasus-kasus 
kekerasan seksual.Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionAksi Pawai Perempuan 
juga diikuti kaum LGBT. 'Laki-laki juga harus ikut' Pawai Perempuan atau 
Women's March telah diikuti jutaan perempuan di seluruh dunia. Aksi bermula 
dari kota Washington DC, Amerika Serikat, sebagai bagian dari respons perempuan 
yang kecewa dengan berbagai kicauan Presiden AS Donald Trump yang dinilai 
seksis dan diskriminatif terhadap perempuan dan kelompok minoritas lain.
 Tapi tuntutan aksi kemudian berkembang melebihi kecaman terhadap Presiden 
Trump.
Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionPawai Perempuan bermula dari kota 
Washington DC, Amerika Serikat, sebagai bagian dari respons perempuan yang 
kecewa dengan berbagai kicauan Presiden AS Donald Trump. Dalam aksi di pusat 
Jakata, pada Sabtu (04/03), pihak penyelenggara yang terdiri dari puluhan 
lembaga perlindungan hak-hak asasi, mendesak Indonesia kembali ke toleransi dan 
keberadaan, menuntut pemerintah mengadakan infrastruktur hukum yang berkeadilan 
gender, mengajak pemerintah dan masyarakat memenuhi hak kesehatan perempuan dan 
menghapus kekerasan terhadap perempuan.
 Ada pula desakan agar pemerintah membangun kebijakan publik yang pro-perempuan 
dan pro-kelompok marginal lain, termasuk perempuan difabel, serta menuntut 
pemerintah dan partai politik meningkatkan keterwakilan dan keterlibatan 
perempuan di bidang politik.
Hak atas fotoHILMAN HAMDONIImage captionKomedian Ari Kriting mengatakan kaum 
laki-laki seharusnya ikut Pawai Perempuan. Bagaimanapun, aksi ini tak hanya 
melibatkan perempuan.
 Ari Kriting, seorang komedian tunggal, terlihat ikut dalam aksi ini. "Saya 
melakukan aksi ini untuk ibu saya, dan ibu-ibu di kawasan Timur Indonesia."
 Menurutnya, laki-laki seharusnya ikut aksi ini. "Kita sering kok melakukan 
kekerasan terhadap perempuan. Kita godain perempuan, itu kan juga pelecehan," 
tutupnya.

 

 

 

Kirim email ke