Sabtu, 04 Maret 2017 | 23:33 
http://www.beritasatu.com/megapolitan/417564-pengamat-duel-ahokanies-mirip-pilpres-2014.html#
   
http://www.beritasatu.com/megapolitan/417564-pengamat-duel-ahokanies-mirip-pilpres-2014.html#
   
http://www.beritasatu.com/megapolitan/417564-pengamat-duel-ahokanies-mirip-pilpres-2014.html#
   http://www.addthis.com/tellfriend.php
 

 
 
 

 Pengamat: Duel Ahok-Anies Mirip Pilpres 2014 
http://www.beritasatu.com/megapolitan/417564-pengamat-duel-ahokanies-mirip-pilpres-2014.html


 Basuki Tjahaja Purnama (kiri) dan Anies Baswedan. (Beritasatu.com)

 Jakarta - Peneliti Indopolling Network Wemphy Hadir mengatakan putaran kedua 
pemilihan gubernur DKI Jakarta antara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot 
Saiful Hidayat melawan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mengingatkan masyarakat pada 
pemilihan presiden 2014 yang lalu.
 Pada saat itu yang maju dalam kontestasi adalah Joko Widodo-Jusuf Kalla versus 
Prabowo Subianto - Hatta Rajasa. Jokowi-Jk didukung koalisi pimpinan PDI 
Perjuangan, sedangkan Prabowo-Hatta didukung oleh koalisi pimpinan Gerindra.
 "Yang menarik bagi saya adalah pada putaran kedua Pilgub DKI Jakarta seolah 
membawa kembali memori kita pada pilpres 2014 yang lalu. Kalau kita melihat 
persentase perolehan suara pada pilpres 2014, persentase perolehan suara 
Jokowi-JK sebesar 53,08 persen. Sedangkan untuk Prabowo-Hatta meraup sebesar 
46,92 persen. Apakah hasil ini nanti menggambarkan hasil pilgub DKI?" ujar 
Wemphy di Jakarta, Sabtu (4/3).
 Wemphy menjelaskan beberapa hal yang berpotensi terjadi. Pertama, bisa saja 
pemilih Jokowi-JK pada pilpres 2014 yang lalu memberikan dukungan yang sama 
kepada Ahok-Djarot. Apalagi, diketahui Ahok merupakan wakil gubernur saat 
Jokowi menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
 "Selain itu, pemilih Prabowo-Hatta akan memilih Anies-Sandi. Kalau demikian 
yang terjadi, maka potensi menang bagi pasangan Ahok-Djarot ada di depan mata," 
ungkap dia.
 Kedua, kata dia, jika konstelasinya berbeda yakni pilpres tidak menjadi 
preferensi bagi pemilih untuk memilih nanti pada 19 April 2017, maka ini akan 
menjadi pertarungan yang sangat sengit. Pasalnya, selisih persentase suara 
antara Ahok-Djarot vs Anies-Sandi hanya terpaut kurang lebih 3 persen.
 "Selisih pilgub DKI Jakarta sangat tipis. Pertarungannya bakal sengit, 
kompetitif dan seru," tandas dia.
 Lantaran kompetitif, lanjut Wemphy, para pasangan calon dan para tim sukses 
perlu melakukan gerakan door to door untuk meningkatkan elektabilitas 
masing-masing pasangan calon. Mereka harus mendatangi pemilih dari rumah ke 
rumah untuk meminta dukungan dan menjelaskan secara singkat program prioritas 
calon gubernur.
 "Hal ini tentu mesti gencar dilakukan oleh Anies-Sandi karena mereka adalah 
pendatang baru dalam kontestasi pilgub DKI Jakarta. Sedangkan bagi kubu 
Ahok-Djarot memiliki ruang yang cukup yang meyakinkan publik atas pencapaian 
mereka selama memimpin DKI Jakarta sembari menyampaikan kepada publik pekerjaan 
rumah yang belum selesai," ungkap dia.
 Poin lain yang mesti dilakukan, lanjut Wemphy, adalah komunikasi politik 
dengan kubu Agus-Sylvi. Menurutnya, siapa yang mampu melakukan komunikasi 
politik dengan kubu Agus-Sylvi maka bisa saja mendapat limpahan suara dari 
calon tersebut.
 "Dengan demikian bisa menambah elektabilitas calon yang bersangkutan. Saya 
yakin bahwa dengan melakukan penggalangan yang terstruktur maka calon tersebut 
bisa meraih dukungan mayoritas," tutur dia.
 Selain itu, kata dia, yang ampuh bagi pemilih kelas menengah ke bawah adalah 
hal-hal yang praktis misalnya layanan administrasi yang cepat dan efisien, 
layanan kesehatan yang terjangkau, subsisdi pendidikan bagi keluarga yang tidak 
mampu, layanan transportasi yang aman serta program praktis lainnya.
 "Bagi incumbent menguntungkan karena sudah melakukan hal-hal praktis itu. 
Tugas berat adalah Anies-Sandi karena mereka belum melakukan namun hanya 
memberikan harapan bagi publik DKI Jakarta," pungkas dia.


 
 
 

 Yustinus Paat/HA
 BeritaSatu.com



 

 

 

Kirim email ke