Semenjak permulaan Abad ke-XXI, Islam telah menjadi synonym untuk Terorisme, 
dan Arab Saudi membentuk dan membantu Al Qaidah. Negara Islam (IS), dan 
Oganisasi-Organisasi Teorisme Islam lainnya, untuk mempertahankan kekuasaan di 
Timur- Dekat dan di Timur-Tengah.Bukanlah kebetulan Raja Arab Saudi berkunjung 
ke Indonesia, untuk mengikat Indonesia, yang 2/3 Penduduk Indonesia teoretis 
penganut Islam, untuk dijadikan  Partner di arena  Internasional dalam 
pertarungan antara Arab Saudi dengan Iran.

Bangsa Indonesia telah menjadi Bangsa Budak di negerinya sendiri, semenjak ORBA 
- para Jendral ABRI/TNI menggadaikan Republik Indonesia kepada 
Pengusaha-Pengusaha Raksasa USA & Co.
Dari Penguasa Militer, Jendral Suharto s/d Presiden JOKOWI tidak seorangpun 
dari para Penguasa Negara tsb.yang berusaha dan mampu memproteksi kepentingan 
Nasional  dan kepentingan Warganegara R.I., untuk membangun R.I. menjadi Negara 
yang Merdeka Penuh, Berdaulat dan Demokratis.

Tjaniago

--------------------------------------------
Pada Ming, 5/3/17, 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]> menulis:

 Judul: [GELORA45] Fw: Surat pagi hari dari teman di Arab
 Kepada: "GELORA_In" <[email protected]>
 Tanggal: Minggu, 5 Maret, 2017, 4:40 AM
 
 
  
 
 
 
   
 
 
     
       
       
       
 
 
 
 
 
  
 
 
 Surat pagi
 hari dari teman di 
 Arab : 
 Menjadi “diri kita sendiri” 
 yang tetap menghargai warisan tradisi dan kebudayaan leluhur
 
 kita.
  
 Copas dari sebelah. 
 
 Wartaislami ~ Saya membuat
 tulisan ini, bukan untuk 
 merendahkan bangsa saya, Indonesia tercinta.
  
 Bukan pula menyerang negara
 Arab, khususnya Arab 
 Saudi tempat di mana saya berdomisili saat ini.
  
 Tujuan tulisan singkat saya
 ini untuk membangunkan 
 teman-teman, kakak, dan adik-adik saya dan sesama saudara
 warga negara Indonesia 
 di mana saja berada.
  
 Agar bisa memilih dan
 memilah, mana yang bisa 
 dijadikan panutan/pedoman, serta mana pula yang harus
 diwaspadai.
  
 Harapan saya hanya
 satu:
 Semoga Indonesia selalu
 dirahmati oleh Allah Tuhan 
 Alam Semesta Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya,
 dan anak-anak 
 bangsa ini -termasuk saya- tidak menjadi bangsa yang
 inferior(rendah diri), 
 tidak mudah kagum, dan tidak mudah menjadi beo.
  
 Begini, saya melihat
 hubungan antara Arab 
 (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika), dan
 Indonesia (khususnya yang 
 pro-Arab) itu unik, menarik, dan lucu.
  
 President Barack Obama
 meets with Saudi Crown 
 Prince Mohammed bin Nayef, center, and Saudi Foreign
 Minister Adel Al Jubeir at 
 the White House on Wednesday. Photo The
 Guardian
  
 Negara-negara Arab,
 khususnya Teluk itu “sangat 
 Barat” dan jelas2 pro-Amerika (dan Inggris).
  
 Hampir semua produk2 Barat
 dari ecek-ecek (semacam 
 restoran fast foods) sampai yg berkelas dan bermerk untuk
 kalangan berduit, 
 semua ada di kawasan ini.
  
 Mall-mall megah dibangun,
 a.l., untuk menampung 
 produk-produk Barat tadi.
  
 Warga Arab menjadi konsumen
 setia karena memang 
 mereka hobi shopping
 (bahkan terkadang lalai
 dengan 
 sembahyang).
  
 Orang-orang Barat juga
 mendapat “perlakuan spesial” 
 disini, khususnya yang bekerja di sektor industri (gaji
 tinggi, fasilitas 
 melimpah).
  
 Mayoritas orang-orang Arab
 juga sangat hormat & 
 inferior(rendah diri) terhadap orang-orang
 Barat.
  
 Saya sering jalan bareng
 bersama “kolega bule”-ku 
 ke tempat pameran barang-barang branded tsb, dan mereka
 menganggap saya adalah 
 “jongosnya”.
  
 Bagi orang2 Arab, non-bule
 darimanapun asalnya 
 apapun agama mereka adalah “Kelas Buruh”, sementara org
 bule, sekere & 
 sebego apapun mereka, beragama atau tidak beragama, dianggap
 “kelas 
 elit”.
  
 Mereka baru menaruh rasa
 hormat, kalau sudah tahu 
 “siapa kita”.
  
 Sejumlah universitas2 beken
 di Amerika juga membuka 
 cabang di Arab Teluk, selain Saudi, (Georgetown, New York
 Univ, Texas A & M, 
 Carnegie Melon Univ, dll).
  
 Di bawah bendera King
 Abdullah Scholarship, Saudi 
 telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di
 kampus-kampus 
 Barat, khususnya Amerika, Kanada & Eropa (jg
 Aussie).
  
 Tidak ada satu pun yang
 disuruh belajar ke 
 Indonesia!! !
 Sementara (sebagian) warga
 Indo memimpikan belajar 
 di Arab Saudi.
 Lucunya, para
 fans/penyembah Arab Saudi dan 
 Arab-Arab lainnya di Indonesia, mereka mati-matian
 men-tuan-kan Arab, sementara 
 Arab sendiri tidak “menggubris” mereka (penyembah
 Arab).
  
 Para
 “cheerleaders/pengidola” Arab ini (para fans 
 Arab di Indonesia),
 juga mati2an anti-Barat
 padahal orang-orang Arab 
 mati-matian membela Barat.
  
 Kita bertutur memakai
 istilah bahasa mereka (akhi, 
 ukhty, antum, dan berbagai istilah arab lainnya, padahal,
 mereka merendahkan 
 kita). Kita seolah gagal faham untuk membedakan antara Islam
 dan 
 Arab.
 Islam menghargai kita
 sedangkan Arab menganggap 
 kita ini bangsa budak.
  
 Saya bukan anti-Arab atau
 anti-Barat karena 
 teman-teman baikku banyak sekali dari “dua dunia”
 ini.
  
 Saya juga bukan pro-Arab
 atau pro-Barat. 
 Saya adalah saya yang tetap orang kampungan
 Jawa.
  
 Daripada “menjadi Arab”
 atau “menjadi Barat”, akan 
 lebih baik jika kita menjadi “diri kita sendiri”
 yang tetap menghargai 
 warisan tradisi dan kebudayaan leluhur
 kita.
  
 Itulah orang Saudi, mereka
 menganggap kecil 
 terhadap orang Indonesia, di hotel, di kantor, bahkan mrk
 menyangka saya cuma 
 tenaga profesional ecek ecek, mereka tanya gaji, disangka
 CUMA 2 ribu atau 3 
 ribu Real. (1 real = 3700)
  
 Waktu saya bilang jumlah
 gaji saya, mereka baru 
 tahu gaji saya sama dengan orang Amerika atau Inggris, dan
 mereka tanya kok bisa 
 begitu.
  
 Saya bilang, saya pernah
 training di Inggris dan di 
 Amerika, dan ternyata gaji saya lebih besar dari gaji dokter
 Saudi.
  
 Itulah kenyataannya, dan
 yang menggaji saya 
 perusahaan di Abu Dhabi yang tidak menganggap rendah
 karyawannya berdasarkan 
 kebangsaan atau Nationality profiling.
  
 Mudah-mudahan pemerintah
 tidak mengirim lagi TKI 
 atau TKW sehingga mereka tidak menganggap orang Indonesia
 bangsa 
 budak.
  
 Tetapi kirim tenaga
 terdidik, terutama yang 
 menguasai bahasa Inggris.
  
 Sekali lagi:
  
 Saya bukan anti Arab dan
 juga bukan anti Barat saya 
 cuma orang Jawa – Indonesia yang dipercaya sebagai orang
 yang bekerja sebagai 
 tenaga ahli yang dibayar berdasarkan
 keahliannya.
  
 Suatu hari, dan ini bukan
 untuk menyombongkan diri, 
 saya merasa bangga ketika saya keluar dari sebuah hotel di
 Jeddah, saya dijemput 
 oleh sopir orang Arab berasal dari Thaif.
 Itu kebanggaan saya, karena
 biasanya yg jadi sopir 
 itu orang Indonesia.
  
 Mudah-mudahan kita tidak
 jadi bangsa budak dan 
 budak diantara bangsa lain.
  
 Belum lama ini sy
 mengadakan survei dg responden 
 para mahasiswaku (sekitar 100 mhs) yg mayoritas beretnik
 Arab & Saudi. 
 Survei ini bersifat “confidential” dan identitas
 mahasiswa tdk diketahui. Salah 
 satu pertanyaan dlm survei adl: “Agar lebih Islami, apakah
 masyarakat Muslim 
 non-Arab harus meniru & mencontoh masyarakat Arab &
 menjalankan 
 kebudayaan mrk?” Jawaban mrk, sekitar 60% bilang
 “tidak”, 12% bilang “ya”, 
 selebihnya “mungkin” & “tidak
 tahu”.
  
 Saya tdk tahu secara pasti
 apakah jawaban mrk itu 
 ada kaitannya dg “doktrin2” pentingnya menghargai
 pluralitas budaya, agama, 
 & masyarakat yg selama ini sy “ajarkan” di kelas
 atau mungkin karena 
 pengaruh pendidikan yg semakin meningkat atau gelombang
 modernisasi & 
 “internetisasi” yg mewabah di kawasan Arab.
  
 Apapun faktor2nya yg jelas
 hasil survei ini 
 “sedikit menggembirakan” (setidaknya buatku), meskipun
 masih bny tantangan cukup 
 besar menghadang di depan mata. Bukan suatu hal yg mustahal
 jika kelak kaum 
 Muslim Arab & Saudi khususnya bisa menjadi lebih maju,
 terbuka, dan toleran. 
 Dan bukan suatu hal yg mustahal pula jika kelak kaum Muslim
 Indonesia justru 
 “nyungsep” menjadi umat yg bebal, tertutup, dan
 intoleran.
  
 Di saat masyarakat Arab
 mulai lelah dg konflik 
 & kekerasan serta mulai menyadari pentingnya keragaman
 & hidup 
 bertoleransi, sejumlah kaum Muslim di Indonesia justru
 menjadi umat intoleran 
 dan anti-kemajemukan…
  
 Sumanto Al Qurtuby, seorang
 professor Warga Negara 
 Indonesia, dosen di King Fahd University for Petroleum and
 Gas, Arab 
 Saudi.
  
 *Jika artikel ini
 bermanfaat buat anda dan orang 
 lain silahkan share sebanyak-banyaknya
  
 Sumber :arrahmah.co.id
 
 
     
      
 
     
     
 
 
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462 --
   #yiv8578193462ygrp-mkp {
 border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
 0;padding:0 10px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mkp hr {
 border:1px solid #d8d8d8;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mkp #yiv8578193462hd {
 color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
 0;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mkp #yiv8578193462ads {
 margin-bottom:10px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mkp .yiv8578193462ad {
 padding:0 0;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mkp .yiv8578193462ad p {
 margin:0;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mkp .yiv8578193462ad a {
 color:#0000ff;text-decoration:none;}
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-sponsor
 #yiv8578193462ygrp-lc {
 font-family:Arial;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-sponsor
 #yiv8578193462ygrp-lc #yiv8578193462hd {
 margin:10px
 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-sponsor
 #yiv8578193462ygrp-lc .yiv8578193462ad {
 margin-bottom:10px;padding:0 0;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462actions {
 font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462activity {
 
background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462activity span {
 font-weight:700;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462activity span:first-child {
 text-transform:uppercase;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462activity span a {
 color:#5085b6;text-decoration:none;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462activity span span {
 color:#ff7900;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462activity span
 .yiv8578193462underline {
 text-decoration:underline;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462attach {
 clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
 0;width:400px;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462attach div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462attach img {
 border:none;padding-right:5px;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462attach label {
 display:block;margin-bottom:5px;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462attach label a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8578193462 blockquote {
 margin:0 0 0 4px;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462bold {
 font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462bold a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8578193462 dd.yiv8578193462last p a {
 font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv8578193462 dd.yiv8578193462last p span {
 margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}
 
 #yiv8578193462 dd.yiv8578193462last p
 span.yiv8578193462yshortcuts {
 margin-right:0;}
 
 #yiv8578193462 div.yiv8578193462attach-table div div a {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8578193462 div.yiv8578193462attach-table {
 width:400px;}
 
 #yiv8578193462 div.yiv8578193462file-title a, #yiv8578193462
 div.yiv8578193462file-title a:active, #yiv8578193462
 div.yiv8578193462file-title a:hover, #yiv8578193462
 div.yiv8578193462file-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8578193462 div.yiv8578193462photo-title a,
 #yiv8578193462 div.yiv8578193462photo-title a:active,
 #yiv8578193462 div.yiv8578193462photo-title a:hover,
 #yiv8578193462 div.yiv8578193462photo-title a:visited {
 text-decoration:none;}
 
 #yiv8578193462 div#yiv8578193462ygrp-mlmsg
 #yiv8578193462ygrp-msg p a span.yiv8578193462yshortcuts {
 font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462green {
 color:#628c2a;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462MsoNormal {
 margin:0 0 0 0;}
 
 #yiv8578193462 o {
 font-size:0;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462photos div {
 float:left;width:72px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462photos div div {
 border:1px solid
 #666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462photos div label {
 
color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462reco-category {
 font-size:77%;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462reco-desc {
 font-size:77%;}
 
 #yiv8578193462 .yiv8578193462replbq {
 margin:4px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-actbar div a:first-child {
 margin-right:2px;padding-right:5px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mlmsg {
 font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean,
 sans-serif;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mlmsg table {
 font-size:inherit;font:100%;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mlmsg select,
 #yiv8578193462 input, #yiv8578193462 textarea {
 font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mlmsg pre, #yiv8578193462
 code {
 font:115% monospace;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mlmsg * {
 line-height:1.22em;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-mlmsg #yiv8578193462logo {
 padding-bottom:10px;}
 
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-msg p a {
 font-family:Verdana;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-msg
 p#yiv8578193462attach-count span {
 color:#1E66AE;font-weight:700;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-reco
 #yiv8578193462reco-head {
 color:#ff7900;font-weight:700;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-reco {
 margin-bottom:20px;padding:0px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-sponsor #yiv8578193462ov
 li a {
 font-size:130%;text-decoration:none;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-sponsor #yiv8578193462ov
 li {
 font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-sponsor #yiv8578193462ov
 ul {
 margin:0;padding:0 0 0 8px;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-text {
 font-family:Georgia;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-text p {
 margin:0 0 1em 0;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-text tt {
 font-size:120%;}
 
 #yiv8578193462 #yiv8578193462ygrp-vital ul li:last-child {
 border-right:none !important;
 }
 #yiv8578193462 
 

Kirim email ke