Senin, 06 Maret 2017 | 11:03 
http://www.beritasatu.com/hukum/417746-ahok-bantah-kecipratan-proyek-ektp.html# 
  
http://www.beritasatu.com/hukum/417746-ahok-bantah-kecipratan-proyek-ektp.html# 
  
http://www.beritasatu.com/hukum/417746-ahok-bantah-kecipratan-proyek-ektp.html# 
  http://www.addthis.com/tellfriend.php
 

 
 
 

 Ahok Bantah Kecipratan Proyek E-KTP 
http://www.beritasatu.com/hukum/417746-ahok-bantah-kecipratan-proyek-ektp.html


 Basuki Tjahaja Purnama. (Antara)

 Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membantah bahwa 
dia ikut kecipratan fee proyek e-KTP. Dalam daftar penerima fee proyek e-KTP 
yang beredar di media sosial, nama Ahok tercantum di dalamnya.
 Ahok menegaskan bahwa dia adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang 
paling keras menolak e-KTP.
 “Saya waktu itu keras saja kenapa ada seperti itu. Saya paling keras menolak 
e-KTP,” kata Ahok di Balai Kota DKI, Jakarta, Senin (6/3).
 Ia sendiri mengaku tidak tahu adanya isu tersebut yang beredar di media 
sosial. Justru ia mempertanyakan yang beredar itu apakah memang daftar penerima 
fee proyek e-KTP atau hanya daftar anggota Komisi II.
 “Enggak tahu saya. Itu Cuma daftar terima e-KTP atau daftar anggota Komisi II? 
Masukin daftar situ kan bisa saja. Yang mau bagiin bikin daftar terima apa 
enggak?” tanyanya.
 Ia menjelaskan pada waktu menjadi anggota Komisi II DPR RI, ia menolak adanya 
proyek e-KTP. Ia mengungkapkan kenapa tidak melibatkan bank pembangunan daerah 
dalam pembuatan KTP. Karena perekaman data di bank lebih baik daripada yang 
lain.
 “Saya bilang, pakai saja bank pembangunan daerah, semua orang mau bikin KTP 
pasti ada rekamnya kok. Saya bilang ngapain habisi Rp 5-6 triliun. Lebih baik, 
kalau kamu ingin ke Bandung, misalnya, daftar aja di Kota Bandung. Lapor saja 
ke Bank Jawa Barat. Jadi kayak kartu mahasiswa,” ujarnya.
 Sebab, orang yang sudah masuk dalam rentang umur untuk mendapatkan KTP pasti 
punya rekening bank. Sehingga pemerintah bisa mengarahkan pengelolaan keuangan 
negara dengan sistem non tunai.
 “Kalau semua orang dewasa punya ATM, terus pemutakhiran? Ngapain menghabiskan 
duit pemutakhiran orang, tiap hari lahir beranak ada kok,” jelasnya.
 Karena itu, mantan Bupati Belitung Timur ini menegaskan tidak pernah mengambil 
uang yang bukan haknya. Hal itu ditunjukkannya, dengan mengembalikan uang 
perjalanan dinas yang lebih ke DPR.
 “Yang pasti, uang perjalanan dinas lebih sehari dua hari saja saya balikin 
kok. Kamu cek saja. Perjalanan dinas enggak sesuai harinya saya balikin. Uang 
yang tidak dipotong pajak, pasti ini uang enggak bener. Orang sudah tahu siapa 
Ahok kok, siapa berani kasih duit ke gua, langsung gua laporin ke KPK,” 
tegasnya.
 




 
 
 

 Lenny Tristia Tambun/YUD
 BeritaSatu.com


 

 

 

Kirim email ke