From: B.DORPI P. 
Sent: Monday, March 6, 2017 6:34 AM

Dalam Rangka merahi TAHTA kembali . . .
Yang PENTING . . .adalah . . . HIS STORY dan bukan . . . HISTORY . . .

Bang FOKE . . . Bekas-Presiden SBY . . . dan kini . . . Gubenur AHOK . . . 
Ternyata . . . SETALI TIGA UANG . . . Sami Mawon . . .

Segala TATA-CARA dan TATA-LAKSANA . . . di BENAR kan untuk di LAKUKAN . . .
THE END JUSTIFIES THE MEANS . . .


BADU TheLostAntibiumHistorian





http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2011/05/02/14459/jj-rizal-mbah-priok-cuma-mitos-sejarah-yang-dimanipulasi/#sthash.hQ1D5NT0.dpuf
 
 


Senin, 6 Jumadil Akhir 1438 H / 2 Mei 2011 08:18 wib

JJ Rizal: Mbah Priok Cuma Mitos, Sejarah yang Dimanipulasi
Ciputat (voa-islam) - Belum lama ini, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif 
Hidayatullah, Ciputat Jakarta mengadakan Seminar “Tradisi Ziarah dalam 
Masyarakat Indonesia”  sekaligus bedah buku  “Kasus Mbah Priok” terbitan MUI 
Provinsi DKI Jakarta di Gedung Syahida Inn, Kampus II UIN  Syarif Hidayatullah. 
Hadir sebagai pembicara antara lain: JJ Rizal, Prof. Dr. M. Bambang Pranowo, 
MA, dan Dr. Jamhari, MA.

Dalam makalahnya, Sejarawan dari Komunitas Bambu JJ Rizal mengatakan, ketika 
bicara Mbah Priok atau Habib Hasan Al Haddad, banyak pihak yang terlalu 
mengedepankan story-nya ketimbang bukti sejarah faktual. 

Yang dikemukakan, kebanyakan mitos-mitos, legenda-legenda berisi sepak terjang 
serta petualangan ajaib dan fantastik si mbah, ketika masih hidup maupun 
setelah meninggal dunia. “Story itu disampaikan bukan atas dasar nalar serta 
akal sehat. Bahkan sering satu cerita dengan cerita lainya bertentangan,” 
ujarnya.

Menurut JJ Rizal, Habib Hasan Al Haddad adalah mitos yang diciptakan dari 
sejarah atau peristiwa masa lalu seorang “tokoh” yang diidealisir, seakan-akan 
si tokoh betul-betul berperanan dan ditransformasi sebagai kebenaran sejarah. 

Padahal itu hanya pepesan kosong belaka, suatu kepalsuan data yang direkayasa.

“Sebab itu, keramat Habib Hasan Al Haddad boleh dikatakan punya cerita sejarah 
yang dimanipulasi. Sejarah dalam artian di sini, merupakan kerja kolaborasi si 
juru kunci dengan para peziarah. Dari tahun ke tahun ditambahkan, kemudian jadi 
legenda atau sejarah yang diimajinasikan.”

Kata JJ Rizal, mitosnya sengaja dibuat sebagai alat untuk mendukung realitas di 
lapangan, terkait dengan sengketa kepemilikan tana antara mereka yang mengaku 
sebagai ahli waris Habib Hasan Al Haddad dengan pihak PT Pelindo. 

Pada akhirnya, mitos kekeramatan Mbah Priok itu tidak lagi sekedar urusan 
sengketa tanah, tapi sudah menyangkut identitas dan status sosial kelompok 
tertentu di masyarakat.

Sekitar tiga bulan, sebelum kerusuhan berdarah meledak di Koja, Tanjung Priok, 
Jakarta Utara (14 April 2010), sebuah surat dari Pemerintah Kota Administrasi 
Jakarta Utara dilayangkan kepada Habib Al Idrus dan Habib Abdullah Sting, 
pengurus makam Mbah Priok yang mengaku sebagai ahli waris. Isinya adalah 
perintah pengosongan dan pembongkaran bangunan yang berdiri di atas lahan milik 
PT. Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II, yang mengelola Pelabuhan Tanjung Priok.

Surat ini melanjutkan instruksi Gubernur Jakarta, yang merujuk pada bukti hak 
pengelolaan dan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang menyatakan, 
bahwa gugatan ahli waris atas kepemilikan areal makam tidak diterima.



Dari fakta sejarah, JJ Rizal juga membantah anggapan, Mbak Priok sebagai tokoh 
yang telah berjasa sebagai pengislam masyarakat Betawi di masa lalu. 

Padahal, sebelumnya, tak sekalipun nama Mbah Priok disebut dalam network 
tokoh-tokoh yang dianggap berjasa mengislamkan Jakarta, baik dalam arsip 
colonial maupun sumber tradisional masyarakat Betawi. 

Bahkan penduduk Koja, lokasi Habib Hasan Al Haddad dimakamkan pun kurang 
mengenal tokoh ini. Nama Mbah Priok menjadi popular dan tersiar, ketika 
kerusuhan Koja terjadi.

JJ Rizal juga menyayangkan, ketika Gubernur DKI Jakarta Bang Foke, termasuk 
Presiden SBY membenarkan Mbah Priok sebagai tokoh penting sejarah dan mengakui 
makamnya sebagai situs sejarah. 

Bahkan lebih dari itu, akan dijadikan cagar budaya. Seperti diketahui, SBY 
sempat mengundang para kuncen ke Istana. Itu sama artinya, mengamini kepalsuan 
sejarah.

SBY pun tak membantah ketika para kuncen itu menyebarkan berita, ia adalah 
pernah menggelar pengajian bersama di makam itu. SBY pun menyatakan siap 
menjadi pelindung cagar budaya makam “keramat” Mbah Priok.

 “Tentu saja, dalam konteks ini sikap , presiden itu mesti dlihat sebagai 
urusan atau kepentingan politik sesaat yang dikaitkan dengan mitos makam 
keramat,” kata Rizal.

Desastian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kirim email ke