Hehehehehe ente ini kelasnya lari2 juga ya!

Pertama ente bilang kasus ahok bukan kasus SARA.

Karena didesak, lalu menerima kasus ahok adalah kasus SARA.

Sekarang lari dari SARA ke “kebhinekaan”.

 

Koq bisa ya kasus ahok SARA = menggempur kebhinekaan?

Ente ini lagi ngomong apa?

 

Koq bisa ya mengkontraskan antara SARA dan kebhinekaan?

Wong keduanya tidak sama. Kenapa harus dikontraskan?

Kalau ada masalah SARA, ya ditangani saja masalah SARA itu.

Begitu juga kalau itu masalah kebhinekaan ya ditangani saja masalah kebhinekaan 
itu.

Koq bisa kalau orang lagi menangani masalah SARA, eh dituding menggempur 
kebhinekaan?

Ini mah omongan orang ngaco.

 

Masalah Ahok itu jelas SARA, ya diusutlah masalah SARA itu pake’ jalur hukum. 

Koq rakyat yg sudah gaduh disuruh ngobrol utk ngurus soal SARA.

Rakyat adalah objek koq disuruh ngurusin? Ngaco ndak?

 

Kebhinekaan gak ada masalah dalam kasus Ahok itu. Kenapa koq kebhinekaan harus 
diperkuat? 

Lucunya ente sudah nulis sebelumnya bahwa “rakyat tetap menjunjung 
kebhinekaan”, lah sekarang ente suruh kebhinekaan diperkuat?

 

Aneh2 aja ente ini koq mengkontraskan 2 hal yg berbeda: kebhinekaan vs SARA!

 

Kalau masalah Ahok itu masalah SARA, ya focus saja masalah SARA ini. Gak usah 
bawa2 kebhinekaan yg bisa kerja sendiri koq, dan gak usah dikuat2in krn memang 
sudah kuat…..kan ini kata ente?!!!

 

Jadi kembali saja ke premis ente. Kalau sekarang ente sudah terima kasus ahok 
itu adalah kasus SARA, gimana caranya ide ente pake’ ngobrol2/musyawarah itu? 
Coba jabarkan ke kita2 ini. Siapa tahu kalau ada kasus yg serupa terjadi lagi 
nantinya, bisa dipake’ strategi ngobrol2 ini.

 

NB: jangan bingung2 sama kasus ahok ini. sebentar lagi juga akan selesai. 
Selesainya pake’ hukum bukan ngobrol2. Ini cara NKRI dibawa Jokowi!

Jangan pusing2 sama “drama ahok” ini. yang pasti kasus ahok ini akan selesai. 
Ahok menang, ahok kalah, ahok masuk penjara itu gak ada yg pusing. Kasusnya 
selesai! 

 

Nesare

 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, March 7, 2017 11:31 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Partai Islam di 22 Pilkada Usung Calon Non-Islam

 

  

Tentu saja isu SARA bisa dimainkan juga di luar DKI. 



Tetapi, selagi pilkada di daerah lain tidak terimbas 



isu SARA apa bukan sebaiknya ide kebhinekaan yang 



diperkuat?







Kalau orang terus mengeluhkan kasus Ahok itu SARA, 



itu sama saja dia ikut menggempur kebhinekaan. Jadi,

biarlah Jokowi cs saja yang memperuncing keadaan 



dengan melempar kasus Ahok ke jalur hukum. Rakyat 



punya kearifannya sendiri untuk menangani bara yang 



dilempar Jokowi ke tumpukan sekam.





Kita masih belum tahu bagaimana akhir dari drama ini.

Yang pasti, pengadilan tetap akan memutuskan siapa 



yang bersalah. Kalau pun Ahok (terdakwa) diputuskan 



tidak bersalah secara hukum, harapannya adalah 



semua pihak bisa menerima putusan ini. Lalu, apa arti 



permintaan maaf Ahok? Ini kan sama saja Ahok 



dipentungi pake kata-kata maafnya sendiri; kata maaf 



sebagai alat pentung :)





Begitu juga sebaliknya, kalau terdakwa dinyatakan bersalah, 



lalu apa arti pernyataan Megawati yang siap mengerahkan 



anak buahnya? Artinya ya tidak ada petinggi yang menjamin 



dilemparnya kasus Ahok ke pengadilan bisa betul-betul 



menyelesaikan persoalan.







Dengan berkecamuknya rebutan rejeki kekuasaan di 



kalangan petinggi ini, kelihatannya memang tinggal 



masyarakat sendirilah yang harus memperkuat kebhinekaan. 



Sekurangnya, bisa lebih arif dan "profesional" dalam 



mengendalikan diri.

 

--- jonathangoeij@... wrote:

 

  

Kebetulan ada Survei Median yg menunjukkan isu SARA atau dalam survei 
diperhalus dengan nama politik identitas.

 

Berbagai pertanyaan itu agak sukar dijawab tetapi bukan berarti diluar DKI isue 
SARA itu tidak bisa dimainkan, di 22 daerah itu kita tidak begitu tahu 
variable2 secara jelas satu demi satu, misalnya saja variable demographic 
penduduk berapa persen yg Islam apakah supermayoritas, mayoritas, about the 
same, minoritas, ataupun superminoritas. Memainkan isue Islam misalnya akan 
juga menghasilkan antipati dari yg non-Islam sehingga tentu tidak akan 
dimainkan di daerah yg Islam minoritas atau superminoritas. Belum lagi 
variable2 lain seperti tingkat pendidikan, kemakmuran, akses informasi, ataupun 
seberapa kuat pengaruh kelompok intoleran didaerah itu dlsb.

 

Sedangkan isue penodaan agama terus dimainkan mungkin merasa hanya dengan isue 
itu mempunyai harapan menang.

 

On Monday, March 6, 2017 4:10 AM, ajeg wrote:

 

Itu dia, kenapa cuma terjadi di pilkada DKI? Artinya kan isu SARA itu dimainkan 
cuma oleh kelompok kepentingan, baik yang anti maupun pro Ahok. Di luar 2 
kelompok kepentingan itu terbukti Rakyat Indonesia tetap menjunjung kebhinekaan.







Jadi, ide kebhinekaan inilah yang harus diperkuat, jangan malah terus digempur 
dengan isu "kasus Ahok itu SARA". Dalam masalah SARA / penodaan agama itu 
sendiri, Ahok sudah meminta maaf. Lalu, kenapa pula Rakyat terus dikompori 
bahwa kasus ini memang kasus SARA, sehingga harus diadili 'pake sistem hukum' 
-> hukum sebagai alat untuk mengadili... :p

 

Siapa yang bisa menjamin, hukum sebagai alat untuk mencari mana yang salah mana 
yang benar, bisa betul-betul menyelesaikan kasus seperti ini secara adil?

 

Kira-kira apa yang terjadi dengan orang bermental Ahok jika dia sebagai warga 
gusuran mendengar gubernurnya nyablak mau membunuh orang di depan umum (dalam 
jumlah ribuan pula!). Apa dia akan mendukung gubernur bermental pembunuh 
seperti itu?

 

--- jonathangoeij@.. wrote:

Sama sekali tidak sepele, hal yg menunjukkan si Ahok tidak professional dalam 
mengontrol diri-nya sendiri.

 

Tetapi tetap saja fakta yg menggerakkan berbagai gerakan anti-Ahok itu SARA.

On Sunday, March 5, 2017 6:28 PM, ajeg wrote:

 

Apa kata-kata Ahok yang mau membunuh 2000 orang di depan umum begini mau 
dibilang sepele? 

 

 
<https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/203571?soc_src=mail&soc_trk=ma>
 https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/196913

Bisa saja yang terlihat sebagai gerakan anti non-muslim itu sepenuhnya SARA, 
tapi kenapa cuma terjadi di pilkada DKI, padahal di 22 pilkada lain calon 
non-muslim toh didukung "partai-partai islam".



--- jonathangoeij@.. wrote:

Saya rasa kok sepenuhnya SARA, berbagai kasus seperti Sumber Waras, Reklamasi, 
ataupun bahkan Penggusuran yg jelas terlihat korbannya tidaklah menimbulkan 
demo dan tekanan yg besar2an. Hanya masalah kata2 yg sepele yg sebetulnya tidak 
ada apa2nya dgn gampang dipakai membakar emotional bela agama. Melihat 
perbandingan dgn daerah lain terlihat disini agama dipolitikkan.

 

Tetapi memang benar Ahok tidak professional mengontrol dirinya sendiri.


--- ajegilelu@... wrote :

Angka perbandingan ini membuktikan bahwa kasus Ahok sebenarnya bukan soal SARA. 
Bukti bahwa Rakyat Indonesia bisa sebal dengan kepemimpinan yang tidak 
beretika; berlidah tajam tapi cengeng bukan main. 

 

Jelas, Ahok bukan tipe orang yang "profesional" dalam memimpin dirinya. Sangat 
berbahaya jika ketidakbecusan mengendalikan diri itu dibawa untuk memimpin 
masyarakat.

 

--- SADAR@... wrote:

Partai Islam di 22 Pilkada Usung Calon Non-Islam

 

[JAKARTA] Pilkada 2017 menunjukkan, partai Islam –yakni PKS, PPP, dan PKB- di 
22 pilkada mengusung calon non-Islam. Hanya pilgub DKI yang menampilkan 
decoupling serius yakni partai Islam dan partai nasionalis berada di kubu 
berbeda.

 

Keterpisahan ini memicu pertarungan yang diwarnai isu suku, agama, ras, dan 
antargolongan (SARA). Kampanye menolak pemimpin non-Islam merebak di mana-mana. 
Kampanye seperti ini bukan hanya menghambat perkembangan Indonesia menuju 
negara demokratis, melainkan juga merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Sedangkan bagi parpol yang mempropagandakan penolakan pemimpin non-Islam di 
Jakarta, namun di pemilihan kepala daerah lainnya malah mendukung, akan dicap 
inkonsisten. Parpol semacam ini akan dirugikan dengan sikap politiknya.

 

Presidium Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Jojo Rohi mengatakan, 
inkonsistensi akan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap partai. 

"Agama seharusnya tidak digunakan sebagai tongkat pemukul untuk menghantam 
sesama anak bangsa yang maju dalam pilkada, melainkan tongkat pengungkit bagi 
peningkatan moral bangsa, salah satunya agar tidak melakukan korupsi," kata 
Jojo, Kamis (2/3).

 

 



Kirim email ke