Sayang sekali harapan anda pada pilkada kali ini saya rasa akan sia2. Kebetulan 
lagi Survei LSI Denny JA muncul, ditambah dengan Survei Median sebelumnya, kita 
bisa lihat dengan jelas betapa isue SARA itu akan makin digenjot. Seharusnya 
faktor yg berperan besar adalah kompetensi, tetapi disini terlihat sekali 
faktor agama yg memegang peranan. Sebenarnya saya memandang Anies mempunyai 
kompetensi juga tetapi terlihat sekali dibawah para pemilih beliau tidaklah 
begitu memandang beliau sebagai kompeten.
---Survei LSI Denny JA:"Ahok kuat di pemilih yang menilai Ahok tidak menista 
agama Islam (81,70) persen, dan 15,90 persen yang dukung Anies-Sandi. Sementara 
di pemilih muslim yang menyatakan bahwa Ahok menista agama, hanya 7,70 persen 
yang menyatakan memilih Ahok-Djarot, sementara yang dukung pasangan Anies-Sandi 
sebesar 84,60 persen," katanya.---Survei Median:Faktor memilih Anies:Rico 
menyebut pemilih Anies-Sandi dibagi dalam empat kategori yaitu identitas dan 
anti Ahok sebesar 55,9 persen, kinerja mesin 5,7 persen, framing kompetensi 
13,3 persen dan framing personal 8,6 persen.

Faktor memilih Ahok:"Ada tiga variabel utama, framing kompetensi, artinya 
memilih Ahok-Djarot karena kompetensinya sebesae 41,2 persen, karakter 
personalnya atau bersih dari korupsi sebesar 34,5 persen, sedangkan kinerja 
mesinnya lumayan kecil ya hanya sekitar 8,8 persen," kata Rico.



---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Tentu saja isu SARA bisa dimainkan juga di luar DKI. 
Tetapi, selagi pilkada di daerah lain tidak terimbas 
isu SARA apa bukan sebaiknya ide kebhinekaan yang 
diperkuat?

Kalau orang terus mengeluhkan kasus Ahok itu SARA, 
itu sama saja dia ikut menggempur kebhinekaan. Jadi,biarlah Jokowi cs saja yang 
memperuncing keadaan 
dengan melempar kasus Ahok ke jalur hukum. Rakyat 
punya kearifannya sendiri untuk menangani bara yang 
dilempar Jokowi ke tumpukan sekam.
Kita masih belum tahu bagaimana akhir dari drama ini.Yang pasti, pengadilan 
tetap akan memutuskan siapa 
yang bersalah. Kalau pun Ahok (terdakwa) diputuskan 
tidak bersalah secara hukum, harapannya adalah 
semua pihak bisa menerima putusan ini. Lalu, apa arti 
permintaan maaf Ahok? Ini kan sama saja Ahok 
dipentungi pake kata-kata maafnya sendiri; kata maaf 
sebagai alat pentung :)
Begitu juga sebaliknya, kalau terdakwa dinyatakan bersalah, 
lalu apa arti pernyataan Megawati yang siap mengerahkan 
anak buahnya? Artinya ya tidak ada petinggi yang menjamin 
dilemparnya kasus Ahok ke pengadilan bisa betul-betul 
menyelesaikan persoalan.

Dengan berkecamuknya rebutan rejeki kekuasaan di 
kalangan petinggi ini, kelihatannya memang tinggal 
masyarakat sendirilah yang harus memperkuat kebhinekaan. 
Sekurangnya, bisa lebih arif dan "profesional" dalam 
mengendalikan diri.
--- jonathangoeij@... wrote:
 Kebetulan ada Survei Median yg menunjukkan isu SARA atau dalam survei 
diperhalus dengan nama politik identitas.
Berbagai pertanyaan itu agak sukar dijawab tetapi bukan berarti diluar DKI isue 
SARA itu tidak bisa dimainkan, di 22 daerah itu kita tidak begitu tahu 
variable2 secara jelas satu demi satu, misalnya saja variable demographic 
penduduk berapa persen yg Islam apakah supermayoritas, mayoritas, about the 
same, minoritas, ataupun superminoritas. Memainkan isue Islam misalnya akan 
juga menghasilkan antipati dari yg non-Islam sehingga tentu tidak akan 
dimainkan di daerah yg Islam minoritas atau superminoritas. Belum lagi 
variable2 lain seperti tingkat pendidikan, kemakmuran, akses informasi, ataupun 
seberapa kuat pengaruh kelompok intoleran didaerah itu dlsb.
Sedangkan isue penodaan agama terus dimainkan mungkin merasa hanya dengan isue 
itu mempunyai harapan menang.
On Monday, March 6, 2017 4:10 AM, ajeg wrote:
Itu dia, kenapa cuma terjadi di pilkada DKI? Artinya kan isu SARA itu dimainkan 
cuma oleh kelompok kepentingan, baik yang anti maupun pro Ahok. Di luar 2 
kelompok kepentingan itu terbukti Rakyat Indonesia tetap menjunjung kebhinekaan.

Jadi, ide kebhinekaan inilah yang harus diperkuat, jangan malah terus digempur 
dengan isu "kasus Ahok itu SARA". Dalam masalah SARA / penodaan agama itu 
sendiri, Ahok sudah meminta maaf. Lalu, kenapa pula Rakyat terus dikompori 
bahwa kasus ini memang kasus SARA, sehingga harus diadili 'pake sistem hukum' 
-> hukum sebagai alat untuk mengadili... :p

Siapa yang bisa menjamin, hukum sebagai alat untuk mencari mana yang salah mana 
yang benar, bisa betul-betul menyelesaikan kasus seperti ini secara adil?

Kira-kira apa yang terjadi dengan orang bermental Ahok jika dia sebagai warga 
gusuran mendengar gubernurnya nyablak mau membunuh orang di depan umum (dalam 
jumlah ribuan pula!). Apa dia akan mendukung gubernur bermental pembunuh 
seperti itu?
--- jonathangoeij@... wrote:

Sama sekali tidak sepele, hal yg menunjukkan si Ahok tidak professional dalam 
mengontrol diri-nya sendiri.
Tetapi tetap saja fakta yg menggerakkan berbagai gerakan anti-Ahok itu SARA.

On Sunday, March 5, 2017 6:28 PM, ajeg wrote:
Apa kata-kata Ahok yang mau membunuh 2000 orang di depan umum begini mau 
dibilang sepele? 
https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/196913

Bisa saja yang terlihat sebagai gerakan anti non-muslim itu sepenuhnya SARA, 
tapi kenapa cuma terjadi di pilkada DKI, padahal di 22 pilkada lain calon 
non-muslim toh didukung "partai-partai islam".


--- jonathangoeij@... wrote:
Saya rasa kok sepenuhnya SARA, berbagai kasus seperti Sumber Waras, Reklamasi, 
ataupun bahkan Penggusuran yg jelas terlihat korbannya tidaklah menimbulkan 
demo dan tekanan yg besar2an. Hanya masalah kata2 yg sepele yg sebetulnya tidak 
ada apa2nya dgn gampang dipakai membakar emotional bela agama. Melihat 
perbandingan dgn daerah lain terlihat disini agama dipolitikkan.
Tetapi memang benar Ahok tidak professional mengontrol dirinya sendiri.
--- ajegilelu@... wrote :

Angka perbandingan ini membuktikan bahwa kasus Ahok sebenarnya bukan soal SARA. 
Bukti bahwa Rakyat Indonesia bisa sebal dengan kepemimpinan yang tidak 
beretika; berlidah tajam tapi cengeng bukan main. 
Jelas, Ahok bukan tipe orang yang "profesional" dalam memimpin dirinya. Sangat 
berbahaya jika ketidakbecusan mengendalikan diri itu dibawa untuk memimpin 
masyarakat.



--- SADAR@... wrote:Partai Islam di 22 Pilkada Usung Calon Non-Islam [JAKARTA] 
Pilkada 2017 menunjukkan, partai Islam –yakni PKS, PPP, dan PKB- di 22 pilkada 
mengusung calon non-Islam. Hanya pilgub DKI yang menampilkan decoupling serius 
yakni partai Islam dan partai nasionalis berada di kubu berbeda. Keterpisahan 
ini memicu pertarungan yang diwarnai isu suku, agama, ras, dan antargolongan 
(SARA). Kampanye menolak pemimpin non-Islam merebak di mana-mana. Kampanye 
seperti ini bukan hanya menghambat perkembangan Indonesia menuju negara 
demokratis, melainkan juga merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Sedangkan 
bagi parpol yang mempropagandakan penolakan pemimpin non-Islam di Jakarta, 
namun di pemilihan kepala daerah lainnya malah mendukung, akan dicap 
inkonsisten. Parpol semacam ini akan dirugikan dengan sikap politiknya. 
Presidium Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Jojo Rohi mengatakan, 
inkonsistensi akan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap partai."Agama 
seharusnya tidak digunakan sebagai tongkat pemukul untuk menghantam sesama anak 
bangsa yang maju dalam pilkada, melainkan tongkat pengungkit bagi peningkatan 
moral bangsa, salah satunya agar tidak melakukan korupsi," kata Jojo, Kamis 
(2/3).





Kirim email ke