Kolom

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.

Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.



Nasionalisme Bukan Sekedar Pakai Batik


Rabu, 8 Maret 2017 | 09:03 WIB

http://health.kompas.com/read/2017/03/08/090300323/nasionalisme.bukan.sekedar.pakai.batik?page=all

KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERINNelayan tradisional memancing ikan di Laut Seram, 
sekitar 22 mil laut (40,74 kilometer) dari Kawa, Kecamatan Seram Barat, 
Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, pada Sabtu (14/1/2017). Praktik 
penangkapan ikan ilegal di perairan itu masih ada.

Ads by Kiosked

Terkait
·         Nasionalisme Bukan Sekedar Pakai Batik
·         Mengapa Lebih Enak Jadi Korban?
·         Jangan Membunuh Pihak yang Tak Bersalah
·         Politik Sepiring Nasi Jagung, Ikan kembung dan Lalap Sambel
·         Benarkah Hidup Sehat Butuh Motivasi?
Oleh: DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.





KOMPAS.com - Beberapa minggu terakhir ini banyak berita, cerita hingga fakta 
nyata berhamburan turun sekaligus di hadapan saya.

Tidak mengagetkan sebetulnya, karena seperti yang kerap saya bilang ke pasien, 
semua pesawat dilengkapi kokpit dan semua pertandingan olah raga punya papan 
skor. Baik kokpit maupun papan skor sama-sama mempersiapkan kita untuk mendarat 
mulus, meraih medali emas atau kebalikannya.

Begitupun setumpuk pekerjaan rumah dengan sampul gizi kurang dan gizi buruk 
sudah bisa diprediksi sekian tahun yang lalu.

Tak perlu kaget juga jika Presiden kita jadi sengit menyoal anak-anak yang 
masih saja didera gangguan gizi, sementara sepertiga penghasilan para ayahnya 
disambar pabrik rokok.

Beliau boleh berang dan menginginkan agar kondisi ini harus dihentikan segera, 
tapi situasinya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Apalagi, jika disejajarkan dengan ketahanan maritim kita saat menteri kelautan 
dan perikanan dengan patriotisme tinggi siap meledakkan kapal-kapal asing.

Yang kita hadapi di dunia kesehatan bukanlah orang asing. Melainkan anak-anak 
negeri yang pola makannya selama sekian puluh tahun sudah bergeser seperti 
orang asing.

Di pemukiman padat penduduk maupun di pesisir atau pelosok desa, anak-anak 
diberi makan roti, susu (baca: susu kental manis yang diencerkan, pokoknya 
bangga bisa minum susu), sosis, mi instan dan baso warung.

Ada ibu yang berlinang air mata mengatakan, pernah makan singkong rebus karena 
tidak punya beras lagi. Baginya, makan singkong adalah mimpi buruk kemiskinan.

Sekian puluh tahun paradigma gizi sehat diproyeksikan ke hitung menghitung 
kalori dengan mahzab klasik.

Bahkan, sampai ada yang tega-teganya membuat campuran aneh terbuat dari minyak 
kelapa ditambah berbagai macam tepung untuk dikocok dan disebutnya sebagai 
formula pendongkrak gizi.

Seakan-akan yang diberi makan itu ayam potong yang bila sudah gemuk 
timbangannya, lalu ditinggal dan tahu-tahu sekian tahun kemudian bisa mendadak 
makan sayur dan buah serta jadi juara kelas. Kok rasanya ada yang enggak 
nyambung, ya?



Makanan oraktis dan efisien bukan jawaban perbaikan gizi

Gizi dan pola makan perlu diteropong dengan teleskop multi faset. Jika tidak 
mau kebablasan seperti yang kita alami saat ini.

Tumbuh kembang anak tidak melulu soal kecukupan kalori dan teori keseimbangan 
karbohidrat protein dan lemak.

Pola asuh bukan sekedar perkara menyuapi anak dengan sabar dan mendongeng tiap 
malam. Semua itu berhubungan dengan pemahaman kodrat, kebiasaan, kebutuhan, dan 
tentunya kecanduan.

Kodrat bicara tentang hukum alam yang tak mungkin bisa digantikan dengan hukum 
teknologi. Jadi, kacau sekali bila istilah ‘praktis dan efisien’ diterapkan 
pada perbaikan gizi dan makanan yang diharapkan membereskan masalah gizi.

Pola asuh atas nama kepraktisan sudah merusak hampir di semua lapisan 
masyarakat kita. Didukung oleh para pakar yang bekerja demi industri pula.

Dengan tetap mengandaikan rakyat bodoh dan jorok, maka memberi makanan dari 
kemasan dianggap lebih menjamin kebersihan dan ketepatan gizinya – dibanding 
menyiapkan pangan yang sesuai kodrat dan martabat: mulai makan dari hasil kebun 
hingga menikmati hasil tangkapan.

Alhasil kekayaan kebun, ternak hingga tangkapan justru menjadi komoditas untuk 
ditukar dengan uang. Dan uangnya dibelikan “makanan” non kodrati yang ‘sesuai 
dengan daftar komposisi’ di bungkusnya.

Sangat menyedihkan mendengar permintaan para orangtua anak-anak bergizi kurang, 
agar mereka diberi bantuan makanan instan dan susu – dengan preferensi sesuai 
lidah anak-anaknya yang sudah terlanjur kecanduan rasa artifisial dan manis.

Mereka tidak bisa dipersalahkan, karena selama ini uluran tangan model itulah 
yang mereka nikmati. Dan pihak yang mengulurkan tangan sudah merasa cukup 
berjasa dengan ‘memberi bantuan’.

Tenaga kesehatan sebagai tombak paling ujung di desa maupun kecamatan juga 
sudah terbiasa dengan pola demikian.

Seandainya melakukan aksi ‘jemput bola’ pun, mereka hanya bermodalkan 
obat-obatan sesuai indikasi dan (sekali lagi) ‘bantuan pangan’ yang dikemas 
dengan cetakan tanggal kadaluwarsa. Mau sampai kapan?



Menjadi berdaya bersama-sama

Revolusi mental membutuhkan terobosan pendekatan. Perubahan paradigma. 
Pergeseran cara. Tidak mungkin rakyat diajarkan soal preventif dan promotif 
kalau tidak paham apa itu gaya hidup sehat. Apalagi tidak paham apa itu pangan 
yang sehat.

Menjadi berdaya, belajar lagi membuat masakan bergizi di rumah, mengalokasikan 
uang rokok menjadi jatah sayur dan buah, membutuhkan kerja nyata dan contoh 
mulai dari petinggi hingga pelayan rakyat, alias petugas kesehatan.

Rakyat tidak cukup diberi slogan-slogan ‘awareness’. Apalagi ditakut-takuti 
dengan gambar.

Alasan kuno petani tembakau bakal jatuh miskin, jika perokok makin sedikit 
terlalu menggelikan. Kenyataannya, rokok impor liar beriklan mulai dari pasang 
spanduk hingga banting harga. Indonesia adalah tempat terbaik untuk pemasaran 
rokok.

Sebetulnya, jika mau inovatif sedikit, negeri ini bisa menjadi produsen 
satu-satunya pestisida organik berbahan tembakau. Masalahnya, ada yang berpihak 
pada pabrik rokok. Bukan petani tembakaunya.

Sudah waktunya petugas kesehatan, kader, PKK, para relawan ahli ekonomi, 
ekologi, pendidikan, pertanian, turun bersama – bukan memberi ceramah – tapi 
turun tangan menunjukkan bagaimana caranya menyiapkan makanan, menyimpan sisa 
bahan makanan, mengelola keuangan dalam seminggu, menangani anak yang rewel dan 
tidak doyan ini itu, memerbaiki ventilasi rumah, mengatur pembuangan limbah dan 
jamban.

Semuanya hanya bisa terlaksana dibawah koordinasi orang-orang yang 
sungguh-sungguh melakukan pendekatan kerakyatan. Saatnya rakyat menjadi tujuan, 
bukan dijadikan sarana.

Halaman gedung pemerintahan seminggu sekali bisa diikhlaskan menjadi tempat 
dagang para petani dan nelayan yang tak mampu punya lapak. Mereka menjual 
dengan harga murah, sesama rakyat yang beli pun menikmati kemurahan harga.

Keterlibatan pengusaha bukan lagi dengan memberi sumbangan makanan sebagai 
promosi terselubung – tapi membangun infrastruktur.

Apalagi artis, ketimbang disorot mengunyah biskuit gandum – yang bahan bakunya 
saja tak tumbuh di negri ini - apa salahnya mempromosikan singkong rebus dengan 
sambal ikan roa?

Tidak berhenti di situ, ajak rakyat melihat manfaat dan hasilnya. Jangan lupa, 
prinsip perubahan perilaku: orang hanya jadi konsisten dan persisten jika mampu 
menikmati hasil.

Solidaritas, nasionalisme, tidak cukup hanya berkoar-koar di ruang konferensi 
apalagi ramai-ramai pamer batik.

Kesetiakawanan nasional hadir saat rakyat menikmati pemberdayaan, bukan 
pembodohan. Saat kita semua bangga makan nasi jagung, singkong, ubi dan 
kapurung.

Saat bandara internasional tanah air juga menjual arsik, naniura, hingga lawa 
mairo – bukan aneka pancake dan lobi penuh asap rokok.




Kirim email ke