From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 
Sent: Thursday, March 9, 2017 5:08 AM





Kawanku Cina, Aku Sunda, Istriku Jawa, Sobatku Papua, Apakah Kita Bisa Protes 
Kepada Tuhan ? Stop Rasisme 





“Tidak seorang pun yang terlahir untuk membenci orang lain karena warna kulit, 
latar belakang, atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci, dan jika 
mereka dapat belajar untuk membenci, mereka dapat diajarkan untuk mencintai, 
karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada kebalikannya.”  
(Nelson Mandela)
Bangsa kita yang plural dan majemuk bukan tercipta kemarin sore. Bahkan 
rentangnya melampaui usia kemerdekaan. Bangsa ini memang dari sananya sudah 
beraneka ragam. Ribuan suku, adat istiadat, agama sudah hadir dan menjelma 
menjadi keseharian. Tak aneh kita berinteraksi dengan teman-teman Jawa, 
kawan-kawan Cina, dan juga Papua.
Sejatinya kita tidak bisa memilih untuk menjadi apa. Apakah sewaktu di dalam 
kandungan kita bertanya dan meminta kepada Tuhan untuk dilahirkan menjadi apa? 
Apakah kita meminta untuk lahir sebagai orang Jawa alih-alih sebagai Cina, 
begitu pun sebaliknya, apakah kita meminta dilahirkan di sebuah keluarga 
muslim, alih-alih keluarga Kristen misalnya?
Adakah kita mempunyai priveledge atau keistimewaan seperti itu ? Bisa memilih 
dan mendiktekan kepada Tuhan apa keinginan kita ? Saya yakin tidak. Kita tidak 
bisa memaksakan, karena itu sepenuhnya kekuasaan dan wewenang Tuhan. Dus, 
janganlah bertindak seperti Tuhan ! Janganlah berpikiran picik, membenci 
seseorang atau orang lain karena dia terlahir sebagai apa !
Founding Fathers kita sungguh bijaksana. Ditegaskan dari awal bahwa Indonesia 
adalah kebhinekaan, plural alias majemuk. Di sini tidak ada Jawa sentris, 
Sumatera sentris dan lainnya. Dalam pidatonya di BPUPKI pada 1 Juni 1945 Bung 
Karno menegaskan :
“Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua 
buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, 
bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan 
Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua 
buat semua!”
Dalam kesempatannya yang lain, yakni pada pidato di Surabaya, 24 September 
1955,  Bung Karno lebih menegaskan lagi setegas-tegasnya :
“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik 
sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan 
adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”
Dus, Janganlah kau menyebut kawanmu, sebangsamu dengan sebutan melecehkan, “hai 
kau Cina !” Hai kau Jawa !” Melakukan hal itu berarti memprotes Tuhan, 
menyalahkan-Nya karena itu sudah menjadi garisan takdir-Nya.
Maka kita miris, di alam demokrasi ini, di usia kemerdekaan yang mau menginjak 
ke-72 masih saja ada anak bangsa yang menghina saudara sebangsanya dengan 
sebutan melecehkan. Baru-baru ini kita mendengar seorang pengemudi ojek online 
yang melecehkan penumpang perempuanya dengan sebutan “brengsek.” Bahkan yang 
lebih miris lagi menghina etnis si penumpang tersebut.
Baru-baru ini juga kita menonton sebuah video di mana seorang pemuda etnis 
minoritas dipukul dan dikeroyok ramai-ramai karena dianggap bersalah menabrak 
kendaraan lain. Tapi yang sangat ironis, aparat polisi yang terekam dalam video 
bukannya mengamankan pemuda tersebut, namun malah memukulinya hingga babak 
belur.
Dalam bidang politik kondisinya setali tiga uang. Ahok, seorang gubernur yang 
berasal dari etnis minoritas dan dari keyakinan minoritas di negeri ini dijegal 
karena identitas keyakinan dan etnisnya tersebut. Kinerja Ahok dan 
pencapaiannya yang luar biasa tidak dilihat sama sekali. Ahok dan mungkin 
ribuan manusia Indonesia lainnya seakan-akan tidak boleh menduduki jabatan 
penting di negeri ini karena mereka terlahir sebagai orang Cina, orang Papua 
atau etnis-etnis minoritas lainnya. Adakah kita sudah melupakan pesan dari 
Founding Fathers kita ? Adakah kita sudah lupa pesan dari Bung Karno ?
Bukankah sudah dijelaskan, bahwa kita diciptakan Tuhan bersuku-suku, 
berbangsa-bangsa bukan untuk saling menghujat, bukan untuk saling mencerca, 
tapi untuk saling mengenal, bekerja sama, dan berlomba-lomba dalam kebaikan ? 
Hal ini tegas termaktub dalam Al-Qur’an surat Al Hujaraat ayat 13 :
Artinya:
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan 
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya 
kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu 
di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya 
Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.”




Kirim email ke