Kawanku Cina, Aku Sunda, Istriku Jawa, Sobatku Papua, Apakah Kita Bisa Protes 
Kepada Tuhan ? Stop Rasisme


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Kawanku Cina, Aku Sunda, Istriku Jawa, Sobatku Papua, Apakah Kita Bisa Prot...
 By akhmad reza “Tidak seorang pun yang terlahir untuk membenci orang lain 
karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Or...  |   |

  |

  |

 

BY AKHMAD REZA ON MARCH 9, 2017URUSAN HATI

“Tidak seorang pun yang terlahir untuk membenci orang lain karena warna kulit, 
latar belakang, atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci, dan jika 
mereka dapat belajar untuk membenci, mereka dapat diajarkan untuk mencintai, 
karena cinta datang lebih alami ke hati manusia daripada kebalikannya.”(Nelson 
Mandela)Bangsa kita yang plural dan majemuk bukan tercipta kemarin sore. Bahkan 
rentangnya melampaui usia kemerdekaan. Bangsa ini memang dari sananya sudah 
beraneka ragam. Ribuan suku, adat istiadat, agama sudah hadir dan menjelma 
menjadi keseharian. Tak aneh kita berinteraksi dengan teman-teman Jawa, 
kawan-kawan Cina, dan juga Papua.Sejatinya kita tidak bisa memilih untuk 
menjadi apa. Apakah sewaktu di dalam kandungan kita bertanya dan meminta kepada 
Tuhan untuk dilahirkan menjadi apa? Apakah kita meminta untuk lahir sebagai 
orang Jawa alih-alih sebagai Cina, begitu pun sebaliknya, apakah kita meminta 
dilahirkan di sebuah keluarga muslim, alih-alih keluarga Kristen 
misalnya?Adakah kita mempunyai priveledge atau keistimewaan seperti itu ? Bisa 
memilih dan mendiktekan kepada Tuhan apa keinginan kita ? Saya yakin tidak. 
Kita tidak bisa memaksakan, karena itu sepenuhnya kekuasaan dan wewenang Tuhan. 
Dus, janganlah bertindak seperti Tuhan ! Janganlah berpikiran picik, membenci 
seseorang atau orang lain karena dia terlahir sebagai apa !Founding Fathers 
kita sungguh bijaksana. Ditegaskan dari awal bahwa Indonesia adalah 
kebhinekaan, plural alias majemuk. Di sini tidak ada Jawa sentris, Sumatera 
sentris dan lainnya. Dalam pidatonya di BPUPKI pada 1 Juni 1945 Bung Karno 
menegaskan :“Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus 
mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan 
Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat 
Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat 
Indonesia, semua buat semua!”Dalam kesempatannya yang lain, yakni pada pidato 
di Surabaya, 24 September 1955,  Bung Karno lebih menegaskan lagi 
setegas-tegasnya :“Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, 
bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu 
golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai 
Merauke!”Dus, Janganlah kau menyebut kawanmu, sebangsamu dengan sebutan 
melecehkan, “hai kau Cina !” Hai kau Jawa !” Melakukan hal itu berarti 
memprotes Tuhan, menyalahkan-Nya karena itu sudah menjadi garisan 
takdir-Nya.Maka kita miris, di alam demokrasi ini, di usia kemerdekaan yang mau 
menginjak ke-72 masih saja ada anak bangsa yang menghina saudara sebangsanya 
dengan sebutan melecehkan. Baru-baru ini kita mendengar seorang pengemudi ojek 
online yang melecehkan penumpang perempuanya dengan sebutan “brengsek.” Bahkan 
yang lebih miris lagi menghina etnis si penumpang tersebut.Baru-baru ini juga 
kita menonton sebuah video di mana seorang pemuda etnis minoritas dipukul dan 
dikeroyok ramai-ramai karena dianggap bersalah menabrak kendaraan lain. Tapi 
yang sangat ironis, aparat polisi yang terekam dalam video bukannya mengamankan 
pemuda tersebut, namun malah memukulinya hingga babak belur.Dalam bidang 
politik kondisinya setali tiga uang. Ahok, seorang gubernur yang berasal dari 
etnis minoritas dan dari keyakinan minoritas di negeri ini dijegal karena 
identitas keyakinan dan etnisnya tersebut. Kinerja Ahok dan pencapaiannya yang 
luar biasa tidak dilihat sama sekali. Ahok dan mungkin ribuan manusia Indonesia 
lainnya seakan-akan tidak boleh menduduki jabatan penting di negeri ini karena 
mereka terlahir sebagai orang Cina, orang Papua atau etnis-etnis minoritas 
lainnya. Adakah kita sudah melupakan pesan dari Founding Fathers kita ? Adakah 
kita sudah lupa pesan dari Bung Karno ?Bukankah sudah dijelaskan, bahwa kita 
diciptakan Tuhan bersuku-suku, berbangsa-bangsa bukan untuk saling menghujat, 
bukan untuk saling mencerca, tapi untuk saling mengenal, bekerja sama, dan 
berlomba-lomba dalam kebaikan ? Hal ini tegas termaktub dalam Al-Qur’an surat 
Al Hujaraat ayat 13 : Artinya:“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu 
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu 
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. 
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang 
yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi 
maha mengenal.”

Kirim email ke