Ya, ngorupsinya pasti tidak demi Allah.
Bisa juga bilang tidak demi diri sendiri, tetapi demi anak cucu, demi
pembangunan mesjid, demi partai....

2017-03-09 12:26 GMT+01:00 t_sie <[email protected]>:

>
> Novanto: Demi Allah Saya Tidak Terima Duit, Fakta: 2,5 Triliun Dibagi-bagi
> By Asaaro Lahagu <https://seword.com/author/lahagu/> on March 9, 2017
> Politik <https://seword.com/category/politik/>
> https://seword.com/politik/novanto-demi-allah-saya-tidak-
> terima-duit-fakta-25-triliun-dibagi-bagi/
>
> [image:
> https://i0.wp.com/seword.com/wp-content/uploads/2017/03/novanto.jpg?resize=300%2C168&ssl=1]
> *Setya Novanto (Tribunnews.com)*
> Akhirnya saya ketawa  termehek-mehek mendengar jawaban Novanto pagi ini.
> Dua alasan mengapa saya termehek. *Pertama*, Novanto begitu mudahnya
> mengatakan bahwa ia tidak menerima apapun duit dari E-KTP itu. *Kedua*,
> Novanto mengait-ngaitkan nama Allah hanya supaya orang percaya kepadanya
> sebagai sosok bersih dari korupsi e-KTP itu.
> *“Demi Allah tidak pernah menerima apapun dari kasus e-KTP
> <http://www.tribunnews.com/tag/e-ktp>,” ujar Novanto di acara Rakornis
> Korbid Kepartaian DPP Golkar, Jakarta, Kamis (9/3/2017) sebagaimana
> dilansir oleh Tribunnews.com.*
> Padahal dalam surat dakwaan yang dibacakan oleh Jaksa KPK hari ini Kamis,
> 9 Maret 2017, terungkap bahwa Andi Agustinus alias Andi Narogong disebut
> melakukan beberapa kali pertemuan membahas realisasi e-KTP dengan beberapa
> anggota DPR antara lain Setya Novanto
> <http://indeks.kompas.com/tag/setya.novanto> (Partai Golkar
> <http://indeks.kompas.com/tag/golkar>), Anas Urbaningrum dan Muhammad
> Nazaruddin (Demokrat).
> Dalam dakwaan itu terungkap alasan Andi Narogong bertemu dengan Anas dan
> Nazaruddin serta Novanto. Anas dan Nazaruddin (ketika itu anggota Fraksi
> Demokrat)  dianggap sebagai representasi Demokrat dan Novanto representatif
> Golkar <http://indeks.kompas.com/tag/golkar>. Kedua fraksi itu dianggap
> dapat mendorong Komisi II DPR menyetujui anggaran proyek e-KTP
> <http://indeks.kompas.com/tag/e-ktp>. Hasilnya setelah melakukan beberapa
> kali pertemuan, disepakati bahwa DPR akan menyetujui anggaran proyek e-KTP
> <http://indeks.kompas.com/tag/e-ktp> sekitar 5,9 triliun.
> Dalam pembahasan selanjutnya terungkap bahwa Andi akan memberikan fee
> kepada beberapa anggota DPR dan pejabat Kemendagri. Untuk realisasi fee,
> Andi membuat kesepakatan dengan Setya Novanto
> <http://indeks.kompas.com/tag/setya.novanto>, Anas dan Nazaruddin
> mengenai penggunaan anggaran Rp 5,9 triliun itu setelah dipotong pajak
> sebesar 11,5 persen. Kesepakatan ketika itu adalah 51 persen atau Rp 2,662
> triliun akan digunakan untuk belanja modal atau belanja riil pembiayaan
> proyek. Sisanya 49 persen atau sekitar Rp 2,558 triliun akan dibagi-bagi ke
> banyak pihak.
> Rincian pembagian itu adalah beberapa pejabat Kemendagri termasuk kedua
> terdakwa sebesar 7 persen atau sekitar Rp 365,4 miliar.  Anggota Komisi II
> DPR sebesar 5 persen atau sejumlah Rp 261 miliar, Setya Novanto
> <http://indeks.kompas.com/tag/setya.novanto> dan Andi sebesar 11 persen
> atau sekitar Rp 574,2 miliar, Anas dan Nazaruddin sebesar 11 persen atau
> sekitar 574,2 miliar, Keuntungan pelaksana pekerjaan atau rekanan sebesar
> 15 persen atau Rp 783 miliar.
> Dari bagi-bagi duit di atas, saya merenungi dirinya sendiri. Masihkah saya
> percaya kepada Novanto yang tidak menerima satu Rupiah pun dari proyek
> e-KTP itu? Karena saya termasuk korban yang harus menunggu tiga tahun, baru
> memiliki E-KTP itu, maka saya mengambil kesimpulan bahwa Novanto memang
> harus bersumpah. Mengapa?
> Jika Novanto ikut mengembalikan duit sebesar Rp 574, 2 miliar yang dibagi
> berdua dengan Andi, maka apa kata dunia? Apalagi jika Novanto mengakui
> bahwa dia ikut menerima duit dari proyek e-KTP itu, maka dunia Golkar bisa
> kiamat.
> Setya Novanto yang sekarang menjadi ketua Golkar, Ketua DPR dan termasuk
> orang kaya dengan harta melimpah, punya kalkulasi politik. Artinya punya
> kekuatan yang bisa menyerang balik KPK. Apalagi manufer jitu Novanto yang
> mesra dengan pemerintah Jokowi, lalu mendukung Ahok di DKI, maka Novanto
> punya kekuatan untuk menghantam balik KPK.
> Maka langkah-langkah yang harus ditempuh Novanto sudah benar dari kacamata
> koruptor. *Pertama,* jangan pernah mengaku korupsi. Itu hukum pertama.
> *Kedua*, terus bangun opini bahwa sama sekali tidak pernah menerima uang
> dari proyek e-KTP itu. *Ketiga*, mulai ancam KPK lewat revisi UU KPK.
> Keempat, Novanto akan mencoba melobi kepala batu Jokowi untuk barter
> tolong-menolong. Apa itu?
> Novanto akan meminta Jokowi agar menyetujui revisi UU KPK yang baru.
> Dengan demikian KPK akan terkencing-kencing di celana karena kekuatannya
> disunat atau dikebiri. Sebagai imbalannya Novanto akan *all-out* membela
> Jokowi dari segala macam hak angket PKS, Gerinda, PAN, Demokrat. Tentu saja
> karena kepala batunya, Jokowi tidak begitu mudah tunduk kepada manufer
> Novanto itu. Jokowi akan meminta Novanto mengikuti proses hukum jika dia
> benar terseret.
> Nah, sebagai bagian dari manufer liciknya, Novanto rela menyebut nama
> Allah untuk menggetarkan lawan-lawannya termasuk KPK. Selain itu penyebutan
> nama Allah adalah sebagai bagian dari pembenaran diri di hadapan kader
> partainya dan terutama di hadapan rakyat Indonesia sebagai sosok yang
> dizalimi, difitnah, dikriminalisasi. Lalu setelah itu serang balik KPK,
> agar berhenti menyentuhnya. Mantap.
> Tidak cukup bersilat lidah, nama Allahpun ikut terseret dalam korupsi
> e-KTP. Ini benar-benar zaman edan. Demi harga diri, demi harta, demi lolos
> dari jeratan hukum, nama Allah pun ikut dinista, dipertaruhkan dan
> diseret-seret. Mungkinkah nama Allah juga akan dijadikan sebagai kambing
> hitam oleh para koruptor? Mari kita bertanya kepada kura-kura. Ini
> Indonesia bung! Ternyata karena Allah maha penyabar, namanya rela dicatut
> juga hehe.
> Salam Seword,
> Asaaro Lahagu
>
>
> Ahok Kepala Batu, Selamat dari Korupsi E-KTP, DPR Jantungan
> By Asaaro Lahagu <https://seword.com/author/lahagu/> on March 8, 2017
> Politik <https://seword.com/category/politik/>
> https://seword.com/politik/ahok-kepala-batu-selamat-dari-
> korupsi-e-ktp-dpr-jantungan/
> [image:
> https://i2.wp.com/seword.com/wp-content/uploads/2017/03/ahok-2.jpg?resize=300%2C150&ssl=1]
> *Ahok (Kompas.com)*
> Kepala batu Ahok terbukti menyelamatkannya. Saat ada di Komisi II, godaan
> luar biasa korupsi di komisi itu terkait proyek bancakan E-KTP sebesar Rp 6
> triliun tak mampu menggoyahkannya. Ahok menolak menerima apapun yang bukan
> haknya. Ahok tidak mau korupsi. Ahok benar berkepala batu, tak mau menerima
> suap untuk meloloskan anggaran. Dia memilih jalan melawan arus, anti
> korupsi. Ahok taat pada sumpahnya.
> Jika sekarang ada demo 7 jutaan yang ingin melengserkannya dari kursi
> gubernur, itu bukanlah kejutan. Saat di Komisi II DPR, Ahok sudah
> dintimidasi, diancam dipindahkan, dimusuhi dan mau dilengserkan dari
> posisinya. Alasannya hanya satu Ahok anti korupsi, kepala batu. Ahok
>  sangat sulit diajak berkompromi, bekerja sama untuk mencuri uang rakyat.
> Ahok berkepala batu menolak proyek E-KTP itu.
> Di komisi II DPR, Ahok bagai duri dalam daging. Ia terus mengkritik
> teman-temannya yang merancang skenario korupsi. Ahok terus mengotak-atik
> nalar anggota DPR yang ngotot meluncurkan E-KTP padahal ada cara lain yang
> lebih murah. Tetapi yang namanya anggota DPR, salah satu institusi terkorup
> di Indonesia, pikiran mereka bukan bagaimana caranya mengefisienkan
> anggaran, tepat sasaran, dan berdaya guna, tetapi bagaimana menciptakan
> sebuah proyek yang anggaranya besar dan bisa dikorup besar pula. Filosofi
> itu sederhana.
> Kini saat korupsi E-KTP itu mulai disidang, ternyata kepala batu Ahok
> telah menyelamatkannya. Bisa dibayangkan saat sidang korupsi E-KTP
> disidangkan, namanya disebut-sebut. Misalnya, tersangka A menyebut Ahok
> menerima fee Rp. 20 miliar. Nah, di saat Ahok lagi bertarung habis-habisan
> di Pilgub DKI, lalu dia disebut di sidang E-KTP, saya yakin nasibnya
> seperti Sylviana. Saat Sylviana dua kali diperiksa sebagai saksi oleh
> Bareskrim Polri terkait dugaan korupsi dana Bansos Pramuka dan pembangunan
> Masjid, kepercayaan publik langsung anjilok.
> Akan tetapi karena kepala batu Ahok yang tidak mau korupsi di DPR, namanya
> bisa dipastikan tak disebut. Ternyata orang benar, pada akhirnya akan
> memetik hikmat dari jalan lurus yang dia pilih. Orang benar pada akhirnya
> bersyukur karena jalan lurus dan benar, ternyata membawa keselamatan. Ahok
> yang taat pada sumpahnya selamat. Sementara jalan bengkok, berliku,
> bermanufer, bertindak licik, curang dan penuh kebohongan, dan melanggar
> sumpah jabatan mereka seperti yang dipertontonkan para anggota DPR yang
> terlibat korup dalam proyek E-KTP, akan jantungan.
> Menarik menunggu sidang E-KTP itu. KPK sendiri menghabiskan waktu tiga
> tahun menyelidikinya dan membutuhkan ratusan orang untuk diperiksa. Luar
> biasa. Saya siap-siap ketawa ketika nama Setya Novanto, Marzuki Ali dan
> seterusnya disebut-sebut nanti di sidang E-KTP itu. Jawaban-jawaban mereka
> nantinya bahwa tidak terlibat korupsi, tidak menerima satu Rupiah pun akan
> menjadi bumbu sidang-sidang E-KTP itu.
> Ternyata lorong-lorong korupsi yang telah menyebar akut, telah membuat
> masyarakat menjadi korban. Dan itu saya alami sendiri khusunya dalam proyek
> E-KPT itu. Saya teringat ketika dipimpong kala itu. Tiga tahun setelah
> diluncurkan, saya baru menerima E-KTP saya. Padahal hanya beberapa minggu
> setelah diluncurkan, dan ada informasi di Kelurahan untuk berfoto-ria,
> ambil finger print, dan seterusnya, saya sudah datang. Semangat menggebu
> untuk memiliki E-KTP itu membuat saya rajin bertanya kepada ketua RT dan RW
> kapan keluar E-KTP. Akan tetapi bertahun-tahun kemudian, E-KTP itu belum
> juga saya miliki.
> Alasan dari ketua RT dan RW adalah sedang diproses di kelurahan. Saat
> ditanya di kelurahan, jawabannya blanko-nya habis. Giliran ditanya lagi
> sudah ada blanko, jawabannya lagi dicetak. Bulan depan blanko KTP akan
> tersedia. Ketika ditanya sudah dicetak blanko, jawaban dari kelurahan: coba
> cek kepada Pak RT karena sudah ada yang dicetak. Ketika ditanya kepada
> ketua RT, jawabannya coba dicek kepada ketua RW karena data penduduk yang
> sudah dicetak ada sama beliau. Ketika ditanya kepada ketua RW, jawabannya
> masih belum ada, menunggu giliran. Begitulah seterusnya saya dipingpong
> bagai bola pimpong, kesana kemari, bolak-balik.
> Akan tetapi entah kenapa, saya saat itu masih punya kesabaran tingkat
> tinggi. Saya tidak marah. Mungkin sudah biasa menderita soal etos dan
> administrasi carut-marut Gubernur Fauzi Bowo kala itu. Kalau kita ke
> kelurahan kalau tidak ada setoran, pelicin, E-KTPnya macet,
> tersendat-sendat dan tersumbat. Sampai suatu hari, setelah tiga tahun dan
> saya sudah melupakan E-KTP itu, tiba-tiba ketua RT menghubungi saya untuk
> mengambil E-KTP-nya. Dan itu terjadi saat Jokowi sudah menjadi gubernur DKI.
> Kisah E-KTP itu kini mulai terbongkar. Ternyata carut-marutnya pengelolaan
> E-KTP itu karena penuh dengan bau bangkai korupsi. Tiadanya blanko, print,
> kamera dan seterusnya karena duitnya sebagian entah berapa persen telah
> dibagi-bagi di DPR dan perusahaan penyedia. Jadilah masyarakat korban
> ganda. Pajaknya diembat, pelayanan dengan filosofi pimpong plus budaya uang
> pelicin menjadi menu saat berurusan dengan kelurahan. Tetapi itu dulu.
> Sekarang, di DKI Jakarta, di bawah gubernur Ahok, budaya suap di kelurahan
> sudah mulai langka. Anda bisa buktikan sendiri kalau anda ke kelurahan.
> Adakah budaya suap di sana?
> Maka benarlah kata Ahok. Hanya satu syarat untuk menjadi pejabat di negeri
> ini: jangan korupsi. Hanya satu jalan untuk menyelamatkan negeri ini dari
> keterbelakangan dan kemiskinan: butuh pejabat yang anti korupsi. Butuh
> pejabat yang sudah selesai dengan dirinya. Butuh pejabat yang taat pada
> sumpahnya. Butuh lebih banyak kepala batu di DPR, di Kementerian, di
> berbagai institusi, di pucuk pimpinan kepala daerah, Gubernur, Bupati, Wali
> kota. Indonesia kini sudah punya dua kepala batu: Jokowi dan Ahok. Namun
> itu tidak cukup, butuh seribu kepala batu lagi di Indonesia yang taat pada
> sumpahnya. Anda juga perlu berkepala batu untuk tidak menyuap para pejabat.
> Salam Seword,
> Asaaro Lahagu
>
>

Kirim email ke