Pertanyaan yang Tak Terjawab dalam Pertemuan Jokowi-SBY

  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Pertanyaan yang Tak Terjawab dalam Pertemuan Jokowi-SBY
 Ada banyak isu yang seharusnya dibahas dan diklarifikasi dalam pertemuan SBY 
dan Jokowi, mulai dari kasus dokume...  |   |

  |

  |

 
Wishnugroho Akbar, CNN IndonesiaKamis, 09/03/2017 16:54 WIB   
   - Sebarkan:
    
   - 
    
   - 
    
   - 
Presiden Joko Widodo menerima kedatangan Presiden keenam Indonesia Susilo 
Bambang Yudhoyono di Beranda Istana Merdeka. (CNN Indonesia/Christie 
Stefanie)Jakarta, CNN Indonesia -- Semuanya baik-baik saja. Kesan itu sangat 
terasa usai Presiden Joko Widodo dan Susilo Bambang Yudhoyono bertemu di Istana 
Merdeka, hari ini. Keduanya saling melontarkan pujian usai pertemuan, seolah 
tak ada persoalan di antara mereka. 

Secara personal pertemuan tersebut mungkin berhasil mencairkan hubungan SBY dan 
Jokowi. Sayangnya, pertemuan yang berlangsung hangat itu tidak menyelesaikan 
berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Pertemuan itu setidaknya gagal menjawab sejumlah isu penting seperti kasus 
dokumen penyelidikan tim pencari fakta (TPF) kasus pembunuhan aktivis HAM Munir 
Said Thalib, dugaan penyadapan, hingga kasus Antasari Azhar.

| 
Lihat juga:
Pertemuan Jokowi-SBY Bukti Tak Ada Ketegangan Antarelite |



| Aksi damai agar pemerintah menuntaskan kasus masa lalu. (ANTARA FOTO/Atika 
Fauziyyah) |


Untuk isu Munir, misalnya, tak secuil pun SBY dan Jokowi menyinggungnya usai 
menggelar pertemuan hari ini. Padahal, sepanjang Oktober lalu, SBY dan 
pemerintah pernah saling balas pernyataan terkait keberadaan dokumen Munir yang 
hingga kini masih misterius. 

Hal itu dilatarbelakangi oleh keinginan Jaksa Agung M Prasetyo menemui SBY guna 
mencari dokumen TPF tersebut. SBY yang awalnya bersikap diam, akhirnya mulai 
angkat bicara dengan menyebut ada kemungkinan politisasi dalam kasus dokumen 
Munir.

Presiden keenam RI itu bahkan meluangkan waktu untuk menggelar jumpa pers yang 
secara khusus membahas persoalan Munir. Namun, setelah sempat "memanas", 
persoalan Munir kemudian melenyap begitu saja tanpa menghasilkan solusi. 

Pertemuan SBY-Jokowi hari ini sebenarnya bisa menjadi momentum untuk memastikan 
keberadaan dokumen Munir sekaligus menegaskan sikap pemerintah terkait 
persoalan tersebut. Hal serupa juga berlaku untuk kasus dugaan penyadapan yang 
sempat membuat SBY gerah. 

| 
Lihat juga:
SBY: Saya Dianggap Terlibat Konspirasi soal Munir? Come On! |

Dugaan penyadapan terhadap SBY muncul pertama kali lewat pernyataan kuasa hukum 
Basuki Tjahaja Purnama, Humphrey Djemat dalam lanjutan sidang kasus dugaan 
penistaan agama, 31 Januari lalu.

Humphrey kala itu menuding Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin mendapat 
telepon dari SBY yang meminta MUI mengeluarkan fatwa soal ucapan Ahok yang 
mengutip surat Al Maidah ayat 51.

"Saksi tidak mengakui telah mendapat telepon dari SBY yang meminta antara lain 
agar PBNU menerima paslon (pasangan calon) nomor satu Agus-Sylvi dan agar MUI 
mengeluarkan fatwa untuk kasus Basuki Tjahaja Purnama," kata Humphrey dalam 
persidangan, Selasa (31/1).

Pernyataan tersebut lantas memunculkan dugaan penyadapan terhadap SBY. Ketua 
Umum Partai Demokrat itu meresponsnya dengan menuntut penjelasan dari Presiden 
Joko Widodo. 

"Saya berharap berkenan Pak Presiden Jokowi menjelaskan dari mana transkrip 
penyadapan itu, siapa yang bertanggung jawab?" kata SBY.

| Pengacara Ahok menyebut SBY sempat menelepon petinggi MUI terkait dengan 
penerbitan fatwa soal penistaan agama dalam kasus Ahok. (ANTARA FOTO/Akbar 
Nugroho Gumay) |




| 
Lihat juga:
SBY: Kalau Mantan Presiden Saja Disadap, Bagaimana Rakyat? |

Jokowi dan SBY seharusnya bisa memanfaatkan pertemuan hari ini untuk 
mengklarifikasi isu penyadapan tersebut. Isu penyadapan penting untuk 
diklarifikasi karena terkait dengan jaminan negara untuk menjaga privasi setiap 
warga negara.

Hal lain yang tak kalah penting untuk diklarifikasi oleh SBY dan Jokowi adalah 
persoalan seputar kasus Antasari Azhar. 

SBY terlibat dalam pusaran kasus Antasari setelah bekas Ketua Komisi 
Pemberantasan Korupsi itu menyebut SBY tahu persis kasus pembunuhan Nasrudin 
Zulkarnaen. 

“Saya minta Susilo Bambang Yudhoyono jujur. Beliau tahu perkara saya. Beliau 
jujur cerita apa yang beliau alami dan apa yang beliau lakukan. Beliau 
memerintahkan siapa untuk rekayasa dan mengkriminalisasi Antasari,” kata 
Antasari pertengahan Februari lalu.

Tak hanya itu, Antasari bahkan menyebut SBY pernah melobi dirinya terkait kasus 
korupsi Aulia Tantowi Pohan. Rentetan tudingan ini dibalas SBY dengan menyebut 
pernyataan Antasari mendapat restu dari penguasa.

| 
Lihat juga:
Wiranto: Jangan Curigai Pertemuan SBY dan Jokowi |

Persoalan Antasari seketika melebar ke ranah politik. Pihak istana yang 
dituding SBY bungkam. Begitupun SBY sebagai penuding. Dan hari ini, kebungkaman 
itu masih berlanjut meski Presiden Jokowi dan SBY berbicara hangat di Istana 
Merdeka. 

Dengan diabaikannya isu-isu penting tersebut, lantas apa artinya pertemuan SBY 
dan Jokowi hari ini?  (asa)

Kirim email ke