AGRA, Sergap Sebabkan Harga Gabah Anjlok 5 Maret, 2017 Musim penghujan dan panen tiba menjadi alasan Bulog untuk membeli gabah petani di bawah HPP Rp. 3.700, Impres No. 5 tahun 2015. Harga beli Bulog hanya berkisar Rp. 2.900 – Rp. 3.400 dengan alasan kadar air gabah tinggi mencapai diatas 25%.Rapat terbatas yang dipimpin oleh Presiden Jokowidodo pada Senin (20/2) yang dihadiri oleh Menteri Perdagangan, Menteri Keuangan, Menteri BUMN, Menteri Pertanian, dan Kepala Bulog. Untuk mengatasi anjloknya harga gabah dengan percepatan pembelian gabah lanngsung kepada petani dan mengoptimalkan pengeringan gabah yang rencananya akan bekerjasama dengan pihak swasta.Guna memastikan percepatan penyerapan gabah petani, pada (23/2) Menteri pertanian Amran Sulaiman mengelar rapat kordinasi dengan direksi Bulog dan Kepala Staf Angkatan darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono, yang dihadiri juga oleh dinas pertanian propinsi. Rapat tersebut untuk membahas percepatan penyerapan gabah 2017, sebagai tindak lanjut dari Rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden.Langkah percepatan penyerapan gabah petani dan peningkatan target mencapai 4 juta ton, dengan melibatkan TNI (korem dan tim khusus Pajale), justeru akan memperparah kerugian bagi petani, sebab pemerintah tidak menetapkan harga yang menguntungkan petani, tetapi hanya konsentrasi bagaimana gabah petani dapat di beli oleh Bulog, terlebih HPP pemerintah saat ini dibawah biaya produksi dan dibawah harga gabah dipasaran (pembelian tengkulak).Di Sukabumi misalnya, harga gabah kering panen dipasaran masih berkisar Rp. 4800/kg sedangkan Bulog membeli dibawah Rp. 3.700, tentusaja harga beli Bulog ini menjadi penyebab anjoknya harga gabah petani dan tentusaja merugikan petani kerana tidak akan dapat menutupi biaya produksi petani yang juga mengalami peningkatan biaya di musim penghujan dan ancaman gagal panen karena banjir.Sedangkan untuk biaya produksi, pengakuan petani di Kudus Jawa tengah, dengan menggarap sawah seluas 1 bahu (0,71 hektar) minimal mencapai Rp. 26.000.000/tahun (dua kali musim panen), degan rincian sewa tanah antara 16 juta – 18 juta, biaya produksi satu musiam kisaran 5 juta. Sedangkan hasil panen dalam satu tahun atau dua kali musim panen mencapai 8 Ton, 5 ton musim panen pertama dan 3 ton musim panen kedua.Jika menggunakan harga pemebelian pemerintah penjualan gabah dalam dua musim panen hanya mencapai Rp. 29.600.000, dengan demikian petani hanya mendapatkan selisih biaya produksi dan harga jual mencapai Rp. 3.600.000 dalam satu tahun/dua musim panen. Tentu saja hal ini menyebabkan kerugian terhadap petani, belum lagi jika menghitung tenagkerja petani dan biaya lainya.Berdasarkan kenyataan diatas, Alinasi Gerakan Reforma Agraria, menyimpulkan bahwa, penetapan HPP (Harga Pembelian Pemerintah) yang rendah dan praktek program penyerapan gabah petani oleh pemerintah melalui Bolug dengan melibatkan TNI adalah praktek monopoli harga dan pembelian yang merugikan petani sekaligus penyebab anjloknya harga di petani.Upaya percepatan penyerapan gabah (melalui program sergab) yang di intruksikan oleh Presiden Jokowidodo melalui menteri pertanian dan bulog hanya spekulasi bisnis semata dan bukan untuk kepentingan ketahanan pangan dan menjaga harga ditingkat petani tidak merugi.Oleh karenaya AGRA menuntut kepada Presiden Jokowidodo untuk melakukan revisi Impres No.5 tahun 2015 dan menetapkan harga beli pemerintah berdasarkan biaya produksi dan melibatkan petani dalam penetapanya. AGRA juga menuntut kepada Bulog untuk tidak membeli harga gabah murah terlebih dalam prakteknya melibatkan TNI didalamnya.
[GELORA45] AGRA, Sergap Sebabkan Harga Gabah Anjlok
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Fri, 10 Mar 2017 00:24:59 -0800
