https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/10/078854547/bahas-masalah-islam-terkini-pbnu-
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/10/078854547/bahas-masalah-islam-terkini-pbnu-temui-ulama-ulama-sepuh>
temui-ulama-ulama-sepuh
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/10/078854547/bahas-masalah-islam-terkini-pbnu-temui-ulama-ulama-sepuh>
Bahas Masalah Islam Terkini, PBNU Temui
Ulama-ulama Sepuh
Jum'at, 10 Maret 2017 | 07:32 WIB
* share facebook
* share twitter
* share google+
* share pinterest
Bahas Masalah Islam Terkini, PBNU Temui Ulama-ulama Sepuh
TEMPO/ Nita Dian
*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Pengurus Besar Nahdlatul
Ulama (PBNU) berencana untuk mengadakan pertemuan dan menggalang
silaturahim dengan 99 ulama Khos NU. Katib ‘Aam Pengurus Besar Nadlatul
Ulama (PBNU) Yahya C. Staquf mengatakan pertemuan tersebut menjawab
tantangan menghadapi tantangan-tantangan yang sangat kritikal baik dalam
skala domestik maupun internasional.
“Meskipun kita tahu bahwa gerakan-gerakan transnasional itu, secara
global sebenarnya juga belum pernah berhasil menemukan bentuk idealnya.
Karena itu kita tidak boleh goyah,” ujar Yahya dalam keterangan
tertulisnya, Kamis, 9 Maret 2017.
*Baca: LIPI: Indonesia Harus Punya Peran Perbaiki Citra Islam
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/04/078852608/lipi-indonesia-harus-punya-peran-perbaiki-citra-islam>*
Yahya menuturkan, Nahdlatul Ulama (NU) dinilai mampu menerjemahkan
dengan baik Islam sebagai rahmat bagi alam semesta, sehingga peran
aktifnya diharapkan oleh masyarakat. Yahya sendiri meminjam kalimat Greg
Barton bahwa NU menjadi harapan bagi umat Islam untuk kembali menjadikan
agama ini pilar peradaban dunia.
Yahya menambahkan, Indonesia dengan populasi muslim moderat terbesar di
dunia memiliki peluang sekaligus tantangan besar untuk menjadi kiblat
keislaman dunia. Di saat negara lain sibuk dengan konflik horizontal dan
sektarian, kata Yahya, Indonesia sudah jauh melesat dalam menyuguhkan
sebuah cara beragama yang damai, saling menghormati, saling tepa selira,
bertoleransi, dan juga saling mengisi.
“Sudah saatnya kita mengakhiri era Islam yang dipenuhi citra permusuhan
sebagaimana yang masih terjadi di negara-negara teluk hingga saat ini,”
ujar Yahya.
*Baca: Pesan Tebuireng: NKRI dan Islam Tak Perlu Dipertentangkan
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/02/05/058843285/pesan-tebuireng-nkri-dan-islam-tak-perlu-dipertentangkan>*
Untuk menjawab tantangan dan harapan dunia tersebut, Yahya menilai
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama perlu mendengar pandangan-pandangan dari
para ulama sepuh. Menurut dia, nasihat-nasihat dari para ulama khos
sangatlah dibutuhkan dalam menentukan langkah strategis NU sebagaimana
yang diharapkan dunia ke depan.
Adapun pertemuan tersebut akan digelar pekan depan, Kamis, 17 Maret 2017
di rumah Mbah Maemoen Zubair di Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang,
Rembang, Jawa Tengah. Sejumlah ulama dikabarkan hadir, di antaranya
Maemoen Zubair, Ahmad Mustofa Bisri, Ma’ruf Amin, Muhammad Luthfi bin
Yahya, dan lainnya.
*LARISSA HUDA
*