Goenawan Mohammad Klarifikasi Laporan Dugaan Korupsi Anies


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Goenawan Mohammad Klarifikasi Laporan Dugaan Korupsi Anies
 Menurut Goenawan, Anies tidak terlibat dalam penentuan anggaran Frankfurt Book 
Fair. Anggaran itu ditetapkan ole...  |   |

  |

  |

 

Muhammad Andika Putra & Wishnugroho Akbar, CNN IndonesiaJumat, 10/03/2017 17:47 
WIB   
   - Sebarkan:
    
   - 
    
   - 
    
   - 
Mantan Ketua Komite Nasional acara Festival Buku Frankfurt 2015 Goenawan 
Mohammad. (CNN Indonesia/Safir Makki)Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Komite 
Nasional untuk acara Pameran Buku Frankfurt atau Frankfurt Book Fair Goenawan 
Mohammad mengklarifikasi dugaan penyelewengan uang negara yang diduga dilakukan 
mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. 

Anies, seperti dilaporkan Direktur Government Against Corruption and 
Discrimination (GACD) Andar Situmorang ke KPK, diduga menyelewengkan dana 
setidaknya Rp146 miliar untuk pameran buku yang digelar pada 13-18 Oktober 2015.

Goenawan menyebut laporan GACD ke KPK tidak tepat sasaran. Seharusnya, kata 
Goenawan, dirinya lebih pantas dilaporkan karena kapasitasnya sebagai Ketua 
Komite.

| 
Lihat juga:
Anies Baswedan Diadukan ke KPK soal Dana Frankfurt Book Fair |

"Saya adalah Ketua Komite Nasional untuk acara besar selama 2014-2015 di 
Frankfurt, Leipzig, Bologna dan London itu. Maka jika ada yang perlu dilaporkan 
ke KPK, itu adalah saya, bukan Anies Baswedan," Goenawan menulis akun Facebook 
miliknya, Jumat (10/3) sekitar pukul 16.00 WIB. 

"Bukan karena saya mau pasang badan buat Anies, yang bukan pilihan saya untuk 
pilkada kali ini. Tapi karena tak adil bagi dia," Goenawan melanjutkan.

Pendiri majalah Tempo itu juga menjelaskan, keputusan Indonesia untuk bersedia 
diminta menjadi "negeri kehormatan" atau tamu kehormatan ditandatangani bukan 
oleh Anies Baswedan, melainkan oleh Menteri sebelumnya, Mohammad Nuh.

"Juga besarnya anggaran disiapkan dan diajukan di masa Moh. Nuh. Anies 
melanjutkan agenda ini, dan saya senang bekerja bersama dia: saya memimpin tim 
profesional, dia aparat Kementerian."

| 
Lihat juga:
Dilaporkan ke Bawaslu, Anies Bantah Programnya Tawarkan Uang |

Goenawan mengaitkan laporan dugaan korupsi Anies dengan Pilkada DKI Jakarta. 
Anies adalah calon gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Sandiaga Uno.

Anies-Sandi diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera. Mereka 
bersaing dengan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.

"Bahwa sampai ada orang melapor hal ini, tanpa menelaah kejadiannya lebih dulu, 
membuat saya sedih dengan pilkada ini. Siasat fitnah dan kabar bohong yang dulu 
diarahkan ke Capres Jokowi kini ditujukan ke Anies, dan sebelumnya ke Ahok, 
yang karena fitnah harus diproses di pengadilan," ujar Goenawan.

Hal yang dialami oleh Anies saat ini, menurut Goenawan, merupakan bagian dari 
praktik kebencian terkait Pilkada. Ia khawatir praktik kebencian yang terus 
berlanjut akan merusak proses demokrasi di Indonesia.

"Jika fitnah dan kebencian diteruskan, apa lagi dengan mengobarkan sentimen 
agama dan etnis, sehabis ini kehidupan politik macam apa yang akan menyertai 
kita? Luka hati. Perpanjangan saling curiga. Dan kepercayaan yang rusak berat 
kepada proses demokrasi," kata Goenawan.

| 
Lihat juga:
Anies Terbelit Program Rp1 Miliar dan Kampanye di Masjid |

Sementara itu, Sandi yakin pasangannya tidak menyelewengkan dana. "Saya yakin 
mas Anies tidak bersalah. Dia (pernah jadi) ketua komite etik KPK," kata Sandi.

Sandi mendorong KPK menindaklanjuti laporan Andar Situmorang. Menurut Sandi, 
tindak lanjut sebaiknya dilakukan dengan cepat mumpung waktu pencoblosan masih 
lama, 19 April.

Proses hukum, kata sandi, bisa memperjelas status seorang yang masih diuga. Ia 
yakin dengan proses hukum di KPK akan membuktikan Anies bersih dari korupsi.

"Yang jelas dalam politik harus siap menghadapi hukum. Mungkin dipas-paskan 
waktunya, enggak boleh suudzon. Mungkin ini cara masyarakat memastikan 
pemimpinnya bersih," kata Sandi. (rdk)


Kirim email ke