Tampilkan pesan asli     Pada Jumat, 10 Maret 2017 19:03, "Jonathan Goeij 
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> menulis:
 

     

Jenazah Nenek Hindun Ditelantarkan Warga Setelah Pilih Ahok


  
|  
|  
|  
|   |    |

  |

  |
|  
|   |  
Jenazah Nenek Hindun Ditelantarkan Warga Setelah Pilih Ahok
 By Liputan6.com Hanya seorang ustad yang datang mensalatkan jenazah Nenek 
Hindun di rumahnya.  |   |

  |

  |

 

Muslim AR 10 Mar 2017, 22:26 WIB

Nenek Hindun

Liputan6.com, Jakarta - Jenazah nenek 78 tahun diterlantarkan oleh masyarakat 
sekitar. Pasalnya, sang nenek yang sudah tak bisa jalan sejak lama itu memilih 
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Djarot Saiful Hidayat saat Pilkada DKI 
putaran pertama.

Menurut keterangan Neneng, pasca nenek bernama Hindun bin Raisman itu mencoblos 
Ahok-Djarot, keluarganya menjadi pergunjingan. Neneng adalah putri bungsu 
Hindun.

"Kami ini semua janda, empat bersaudara Perempuan semua, masing-masing suami 
kami meninggal dunia, kini ditambah omongan orang yang kayak gitu, kami 
bener-bener dizalimin, apalagi ngurus pemakaman orang tuakami aja susah," ujar 
Neneng, pada Liputan6.com di kediamannya, Jalan Karet Raya II, Setiabudi, 
Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017).

Neneng menceritakan, kronologi jenazah ibundanya ditolak disalatkan di mushola 
oleh ustadz bernama Ahmad Syafii. Neneng mengatakan, saat itu dia dan 
keluarganya ingin agar jenazah Hindun disalatkan di mushola. Namun, ditolak 
oleh Ustadz Ahmad Syafii lantaran tidak ada orang di mushola.

Selain itu, tak ada orang yang menggotong jenazah Hindun ke mushola. Sehingga 
Ustadz Ahmad Syafii mensalatkan Hindun di rumahnya.

"Alasannya, nggak ada orang yang mau nyalatin (di mushola), padahal kami ini 
anak dan cucunya ramai salatin, tapi memang orang lain (warga lain) cuma empat 
orang (yang datang ke rumah)," terang Neneng.

Neneng menceritakan, saat Pilkada DKI empat petugas KPPS mendatangi rumah 
mereka untuk meminta Hindun ikut mencoblos. Tapi karena kondisi fisik Hindun 
yang ringkih, dia menolak datang ke TPS. Tapi, petugas tetap ingin mengambil 
suara Hindun.

"Pas pemilihan itu, Mak (Hindun) disuruh nyoblos, ya namanya orang tua udah 
nggak tau apa-apa, nyoblos asal aja. Kebetulan yang dicoblos nomor dua dan 
diliat sama empat orang petugas itu," terang Neneng.

Sejak itulah, kata Neneng, keluarganya dituduh sebagai pendukung penista agama. 
Pencoblosan yang disaksikan empat petugas KPPS itu berbuntut panjang, Neneng 
merasa ada yang salah dengan cara pemungutan suara terhadap ibunya. Namun, saat 
itu Neneng tak ambil pusing.

"Ya pas nyoblos itu kan terbuka, diliat orang banyak, saya ragu juga, bukannya 
nggak boleh diliat siapapun? Kan rahasi itu pilihan. Tapi, karena Mak sakit, ya 
udahlah, kami nggak ambil pusing, pokoknya nyoblos," terang Neneng.

Pencoblosan itu, ternyata jadi malapetaka. Keluarga mereka dituduh mendukung 
Ahok yang kini berstatus terdakwa dalam kasus penistaan agama.

"Nyatanya itu yang bikin masalah, keluarga kami dituduh keluarga kafirlah, 
mereka anggap kami semua milih Ahok, padahal itukan Mak nggak tau apa-apa, asal 
nyoblos aja," keluh Neneng.

Saat mau disholatkan, kata Neneng jenazah Hindun dipergunjingkan oleh warga. 
Keputusan Ahmad Syafii untuk mensalatkan ibunya di rumah dianggap sebagai 
keputusan atas spanduk yang dipasang di Mushola.

"Di sana banyak yang bilang, jangan disholatkan, itu pemilih Ahok," kata Neneng.

Ketika itu, kata Neneng, Ahmad Syafii berkata jenazah Hindun tak bisa 
disalatkan di Mushola Al-Mu'minun.

"Ustadz Pii (Ahmad Syafii) bilang, 'enggak usah mending di rumah aja percuma 
enggak ada orang' gitu katanya, padahal anak cucu Mak banyak yang mau salatin," 
terang Neneng.

Neneng merasa aneh dengan keputusan itu. Apalagi, jarak antara rumah dan 
mushala hanya berjarak beberapa meter saja. Namun, memiliki jalur yang cukup 
sempit.

Namun, Neneng heran, Ustadz Syafii yang menolak itu malah datang ke rumahnya 
dan memimpin salat jenazah. Di rumah Neneng, hanya empat orang tetangganya yang 
ikut melaksanakan salat jenazah.

"Kan aneh gitu, dia yang nolak, dia juga yang salatin," kata Neneng.


Penjelasan Ustadz Sayafii

Keluarga Nenek Hindun

Untuk mengkonfirmasi, Liputan6.com kemudian menemui Ustadz Ahmad Syafii. Dia 
menegaskan telah mensalati jenazah Hindun. 

"Perkaranya itu bukan karena milih Ahok, bukan nggak disalatin, saya yang 
ngimami, saya yang bantu talqin (melepas arwah orang yang kritis dengan kalimat 
tauhid) kan 24 jam sebelum Nenek (Hindun) meninggal," terang Ahmad Syafii pada 
Liputan6.com di rumahnya yang persis berada di depan sebuah spanduk penolakan 
menyalati jenazah pendukung penista agama.

Syafii menerangkan, pilihan untuk mensalati jenazah Hindun di rumahnya karena 
tak ada kaum lelaki yang akan mengangkat jenazahnya ke mushala. Terlebih, kata 
dia saat mau disalati, penggali kubur sudah menelpon dirinya agar jenazah cepat 
diantarkan untuk dikuburkan.

"Jadi, pas saat itu, saat jenazahnya sampai di rumah, orang tukang gali makam 
sudah nelpon saya, suruh cepet sebab udah sore banget, dia harus pulang. Saya 
bilangin di telepon itu, tunggu dulu, ini belum disalatin, saya bahkan kasih 
tip agar tukang galinya mau nungguin," kata dia.

Meski begitu, Syafii mengakui telah menolak permintaan keluarga agar jenazah 
Hindun disalatkan di mushala. Sebab, kata dia, saat itu dirinya sudah diburu 
waktu. Apalagi, mobil yang akan membawa jenazah Hindun ke mushala terjebak 
macet. Sehingga tak ada warga yang membawa jenazah Hindun ke mushala.

"Jadi, rombongan itu ketahan sama macet, ya memang nggak ada orang, mau salatin 
di mushala gimana? Orang nggak ada, trus tukang gali kubur udah minta cepet 
terus," terang Syafii.

Sementara, seluruh keluarga Hindun perempuan sehingga tak ada yang bisa 
mensalatkan. Syafii pun mengambil keputusan, agar jenazah di salatkan di rumah 
saja dengan jamaah seadanya.

"Pas sampai sana aja hujan deres," kata Syafii.

Ia menyayangkan kesalah pahaman yang terjadi karena spanduk menggantung dan 
gunjingan warga yang membuat semakin keruh suasana. 

"Ini banyak yang nggak paham, penyelenggaraan jenazah itu hukumnya Fardu 
Kifayah, kalau udah ada yang nyelenggarain jenazah satu orang aja, berarti 
semua udah turut serta, saya ini wakilnya masyarakat sini buat nyelenggarain 
jenazah, sekalipun saya cuma sendirian yang salatin, itu berarti mewakili 40 
keluarga di sini, begitu ajaran Islam," terang Syafii.

Hal ini juga dibenarkan tiga orang warga sekitar yang meminta namanya tak 
disebut. Salat untuk jenazah Hindun memang tak dilakukan di mushala dan 
sekumpulan warga yang ingin menyelenggarakan jenazahnya memang tertahan karena 
macet. 

Tiga orang warga tersebut ditemui Liputan6.com di kediamannya masing-masing, 
keterangan mereka tak ada bedanya dengan keterangan Neneng dan juga Syafii.

"Mungkin keluarga Neneng lagi sedih, dan mudah tersinggung, penyelenggaraannya 
memang gitu, bukan karena dia pendukung Ahok. Tapi, ya begitu warga sini banyak 
yang gosipin dan nyangkutin sama Pilkada, kasihan Nek Hindun dan Neneng," kata 
tetangga Neneng yang meminta tak dituliskan namanya.

Tetangganya menjelaskan, keluarga Hindun adalah keluarga yang tabah. Bahkan, 
anak Neneng sudah yatim sejak ia baru saja kelas satu SD. Neneng yang anak 
bungsu itu memiliki tiga orang kakak yang semuanya perempuan, dan mereka janda 
karena suaminya meninggal dunia.

Hindun, adalah warga yang sepuh dan paling lama tinggal di daerah tersebut. 
Warga sekitar menaruh simpati pada keluarga yang tak henti-hentinya mendapatkan 
cobaan. Namun, banyak juga di antara mereka yang menggunjingkan dan memojokkan 
Neneng dan keluarganya karena pilihan keluarga mereka.

Terlebih, salah satu keluarga Neneng memang bekerja sebagai tim kampanye 
pasangan calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Ahok-Djarot.

"Keluarga saya memang ada yang kerjasama Ahok, tapi itu udah sejak di Belitung, 
udah lama, namanya Natalnaen dan Susanto, keluarga saya memang kerjasama Ahok, 
ya wajar kalau dia bawa topi, baju, kalender dan atribut lainnya," kata Neneng 
yang mewakili keluarganya untuk bicara.

Tak hanya di situ, anak Neneng yang masih play group diolok-olok sebagai anak 
keluarga kafir.

"Sampai dikirimin chat dan foto yang ngolok-olok di grup WhatsApp," kata Neneng.

Nenengpun memperlihatkan grup WhatsApp yang merupakan grup orang tua murid dari 
playgrup tempat anak Neneng disekolahkan. 

"Siapa yang nggak sakit? Ibu saya baru aja meninggal, anak saya diolok-olok, 
keluarga saya dituduh keluarga kafir, cuma karena ibu saya milih secara terbuka 
dan dilihat orang banyak dianya nyoblos nomor 2, semuanya dikaitin ke situ, 
zalim mas, kami dizalimi," ucap Neneng.

Hingga kini, kata Neneng pihak keluarganya masih kesusahan dalam mengurus 
surat-surat kematian dan surat-surat pemakaman untuk ibunya. Neneng menyebut, 
RT tak membantu dirinya. Pasalnya, hingga siang tadi, ia masih belum bisa 
mengurus surat pemakaman ibunya.

Namun, Ketua RT 009 RW 02, Abdurrahman membantah kalau pihaknya mempersulit 
surat-surat penyelenggaraan jenazah, penguburan dan surat kematian Hindun.

"Gini mas, surat-surat kematian itu awalnya dikerjain buru-buru, karena saya 
dapat kabarnya udah sore, saya ikut kok ke kuburannya, tapi memang nggak ikut 
nyolatin, karena baju saya kotor banget abis ngebor sumur," kata Abdurrahman.

Abdurrahman menyebut, surat kematian Hindun dan segala surat lainnya menang 
diberikan saat itu juga. Namun, kelanjutannya, Abdurrahman mengaku tak 
mengetahui. Pasalnya, dia harus bergegas pulang saat setelah dari kuburan.

"Jadi, saya serahin ke warga yang lainnya, saya lagi butuh duit juga, kalau 
nggak kerja gini (ngebor sumur) saya dapat duit dari mana? Kemarin suratnya 
udah saya kasihin ke yang lain, bukannya lepas tanggungjawab, tapi udah diurus 
sama yang lain, mungkin itu anggapannya nggak diurus RT," ucap Abdurrahman.
  #yiv9824095789 #yiv9824095789 -- #yiv9824095789ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-mkp #yiv9824095789hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-mkp #yiv9824095789ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-mkp .yiv9824095789ad 
{padding:0 0;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-mkp .yiv9824095789ad p 
{margin:0;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-mkp .yiv9824095789ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-sponsor 
#yiv9824095789ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-sponsor #yiv9824095789ygrp-lc #yiv9824095789hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-sponsor #yiv9824095789ygrp-lc .yiv9824095789ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9824095789 #yiv9824095789actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9824095789
 #yiv9824095789activity span {font-weight:700;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9824095789 #yiv9824095789activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9824095789 #yiv9824095789activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9824095789 #yiv9824095789activity span 
.yiv9824095789underline {text-decoration:underline;}#yiv9824095789 
.yiv9824095789attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9824095789 .yiv9824095789attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9824095789 .yiv9824095789attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9824095789 .yiv9824095789attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9824095789 .yiv9824095789attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9824095789 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9824095789 .yiv9824095789bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9824095789 
.yiv9824095789bold a {text-decoration:none;}#yiv9824095789 dd.yiv9824095789last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9824095789 dd.yiv9824095789last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9824095789 
dd.yiv9824095789last p span.yiv9824095789yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9824095789 div.yiv9824095789attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9824095789 div.yiv9824095789attach-table 
{width:400px;}#yiv9824095789 div.yiv9824095789file-title a, #yiv9824095789 
div.yiv9824095789file-title a:active, #yiv9824095789 
div.yiv9824095789file-title a:hover, #yiv9824095789 div.yiv9824095789file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9824095789 div.yiv9824095789photo-title a, 
#yiv9824095789 div.yiv9824095789photo-title a:active, #yiv9824095789 
div.yiv9824095789photo-title a:hover, #yiv9824095789 
div.yiv9824095789photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9824095789 
div#yiv9824095789ygrp-mlmsg #yiv9824095789ygrp-msg p a 
span.yiv9824095789yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9824095789 
.yiv9824095789green {color:#628c2a;}#yiv9824095789 .yiv9824095789MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9824095789 o {font-size:0;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789photos div {float:left;width:72px;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9824095789
 #yiv9824095789reco-category {font-size:77%;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789reco-desc {font-size:77%;}#yiv9824095789 .yiv9824095789replbq 
{margin:4px;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-mlmsg select, #yiv9824095789 input, #yiv9824095789 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-mlmsg pre, #yiv9824095789 code {font:115% 
monospace;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-mlmsg #yiv9824095789logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-msg 
p#yiv9824095789attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-reco #yiv9824095789reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-sponsor 
#yiv9824095789ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-sponsor #yiv9824095789ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-sponsor #yiv9824095789ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9824095789 #yiv9824095789ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9824095789 
#yiv9824095789ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9824095789 

   

Kirim email ke