Seandainya saja BERITA ini BENAR adanya, hendaknya KPU dan aparat HUKUM bisa 
menindak TEGAS Ketua RT, ... dan menindak lanjuti timses Anies-Sandi sehubungan 
dengan bentuk MEMAKSA warga memilih dirinya sendiri!

Mudah-mudahan PILKADA DKI putaran ke-2 masih bisa berlangsung DEMOKRATIS, 
jujur, damai dan tidak terjadi kecurangan, ...!

Salam,
ChanCT


From: Edy Loekmono [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, March 11, 2017 12:20 AM
To: [email protected] ; Jonathan Goeij 
Subject: Re: [GELORA45] Warga Ini Mengaku Dipaksa Pilih Anies-Sandi

  

Betul-betul kelewatan lah manusia-manusia ini. apa nggak lihat track record 
mereka yang penuh masalah. Menteri aja di recalled. Sandi menunggu pengadilan. 
Apa lagi yang bisa diharapkan dari mereka? Teman-teman Anies aja pada ceritera 
manusia macam apa dia itu. Apakah karena nama besar keluarga baswedan? edan 
betul 



On Friday, March 10, 2017 8:03 AM, "Jonathan Goeij [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:




  
“Rabu malam saya punya ibu (mertua) meninggal, lalu saya lapor ke tetangga, ke 
Ketua RT. Awalnya nggak ada masalah yang buat saya bimbang. Ketua RT-nya juga 
kenal saya dengan baik,” ujar Yoyo di rumahnya, Jumat (10/3/2017).
“Kamis pagi udah rapi mau dikafani, dimandiin, nggak ada masalah. Siangnya pas 
mau disalatin saya disuruh tanda tangan, yang bikin tulisannya Pak RT. Isinya 
bahwa saya berjanji akan mendukung pasangan Anies-Sandi di putaran dua nanti
...
Agar Jasad Ibu Mertua Disalatkan
Warga Ini Mengaku Dipaksa Pilih Anies-Sandi


                        
                 
           
                 Warga Ini Mengaku Dipaksa Pilih Anies-Sandi - Poskota News
                  JAKARTA (Pos Kota) – Seorang warga RT 05/02 Kelurahan Pondok 
Pinang, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ...  
           
     




Jumat, 10 Maret 2017 — 21:11 WIB



JAKARTA (Pos Kota) – Seorang warga RT 05/02 Kelurahan Pondok Pinang, Kecamatan 
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Yoyo Sudaryo, 56, mengaku dipaksa 
menandatangani surat pernyataan untuk memilih pasangan calon Anies 
Baswedan-Sandiaga Uno pada pemungutan suara Pilkada DKI Jakarta putaran dua 
yang akan datang.
Hal itu wajib dilakukan Yoyo jika ingin jenazah mertuanya, Siti Rohbaniah, 80, 
disalatkan oleh pengurus salah satu masjid di Pondok Pinang. Yoyo dan 
keluarganya dituding sebagai pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot 
Saiful Hidayat.
Saat ditemui di kediamannya, Yoyo bercerita, Rabu (8/3/2017) malam sang ibu 
mertua meninggal dunia karena sakit. Esok harinya, keluarga kesulitan untuk 
mensalatkan jenazah karena pengurus masjid tidak mau mengurusnya. Jenazah baru 
disalatkan Kamis (9/3/2017) siang setelah Yoyo terpaksa menandatangani surat 
pernyataan yang disodorkan. Itu pun setelah jenazah terbengkalai sekitar satu 
jam.
Dikatakan Yoyo, sebenarnya dia dan keluarganya tidak pernah mengungkapkan 
sebagai pendukung paslon tertentu. Bahkan, sang ibu mertua tidak ikut memilih 
dalam putaran pertama 15 Februari lalu karena sudah uzur. “Saya dari dulu 
siapapun gubernurnya kampanye nggak pernah ikut, nempel poster juga nggak. 
Bahkan saya menolak ada poster pasangan manapun di rumah saya. Makanya saya 
heran sampai begini padahal kemarin mertua saya ga milih KTPnya buka DKI 
Jakarta,” katanya.
Namun, Yoyo mengakui pernah bercanda dengan tetangga-tetangganya seputar 
persaingan paslon Anies-Sandi dan Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI kali ini.”Saya 
memang kadang berkelakar ke tetangga. Saya bilang, saya nggak pilih Ahok ah, 
karena dia Kristen, sementara saya Islam. Lalu tetangga tanya, terus pilih 
siapa? Pilih Djarot, kata saya gitu,” ungkap Yoyo.
“Rabu malam saya punya ibu (mertua) meninggal, lalu saya lapor ke tetangga, ke 
Ketua RT. Awalnya nggak ada masalah yang buat saya bimbang. Ketua RT-nya juga 
kenal saya dengan baik,” ujar Yoyo di rumahnya, Jumat (10/3/2017).
“Kamis pagi udah rapi mau dikafani, dimandiin, nggak ada masalah. Siangnya pas 
mau disalatin saya disuruh tanda tangan, yang bikin tulisannya Pak RT. Isinya 
bahwa saya berjanji akan mendukung pasangan Anies-Sandi di putaran dua nanti
Yoyo mengatakan, surat pernyataan tersebut tidak diketik, melainkan hanya 
berupa tulisan tangan di atas selembar kertas. Karena tak tega jenazah sang ibu 
mertua terbengkalai, dia pun akhirnya membubuhkan tandatangan di atas selembar 
kertas itu. “Awalnya sih saya nggak curiga, lagi kesusahan nggak nyangka nggak 
mau disalatin. Menurut saya mau pilih siapa itu urusan saya sama Tuhan. Tapi 
yang penting ibu saya disalatin,” bilang Yoyo.
Beberapa saat setelah Yoyo mengguratkan tandatangannya, barulah jenazah ibu 
mertuanya disalatkan dan akhirnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Sementara itu, 
pihak kepolisian dari Polsek Metro Kebayoran Lama, Jumat pagi, telah mendatangi 
rumah keluarga Yoyo untuk meminta penjelasan terkait permasalahan tersebut.
Kapolsek Kebayoran Lama, Komisaris Ardi Rahananta, mengatakan, kedatangan 
pihaknya untuk memastikan tidak ada ancaman keamanan bagi keluarga tersebut. 
“Kami ingin memastikan keamanan warga sekaligus mediasi agar masalah itu bisa 
diselesaikan secara kekeluargaan. Kami akan turunkan petugas untuk memantau 
agar jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan,” kata Kapolsek. (adji)





Kirim email ke