Tampilkan pesan asli     Pada Minggu, 12 Maret 2017 4:58, "'Chan CT' 
[email protected] [nasional-list]" <[email protected]> menulis:
 

     Sungguh satu tulisan Birgaldo Sinaga yang sangat menyentuh, PATUT 
direnungkan secara SERIUS oleh setiap umat berAgama bagaimana menegakkan 
KEADILAN, dan, ... BENAR-BENAR menjadi seorang berimam baik dan SALEH 
sebagaimana ajaran Agama masing-masing! Mudah-mudahan warga Jakarta LULUS 
menghadapi ujian berat proses BELAJAR BERDEMOKRASI dalam pertarungan PILKADA 
DKI-Jakarta putaran ke-2 yang makin sengit ini, bisa menerima dan menghormati 
segala perbedaan yang ada untuk mempertahankan persatuan, kedamaian dan 
kehidupan harmonis bermasyarakat! TIDAK SEBALIKNYA menciptakan perpecahan hanya 
karena perbedaan Agama, perbedaan etnis, dan perbedaan politik yang ada! Inilah 
Ujian dan tantangan berat dalam Proses BELAJAR berdemokrasi dan mendewasakan 
bangsa ini!“Belakangan ini, kehidupan berbangsa dan bernegara kita sudah dalam 
tingkat tidak waras. Rasa kemanusiaan sudah hilang. Kemanusiaan yang bernurani 
telah bermetamorfosis menjadi kemanusiaan yang berwajah setan. Jahat. Keji. 
Kejam. Bengis. Tragis. Tragedi.Bayangkan kepada mayat nenek tua Hindun kita 
tega melaknatnya. Menajiskannya. Membuang muka dan menyumpah serapahnya. Tidak 
memberi doa. Apa salah dan dosa nenek renta Hindun yang nafasnya saja tinggal 
hitungan jam itu? Apakah karena Ia memilih Ahok yang menurutnya layak jadi 
pelayannya? Yang memberi jaminan kesehatan dan pendidikan buat anak cucunya? 
Orang yang tidak merampok uang pajak kerja kerasnya?Kejahatan menolak sholat 
jenazah ini sungguh mengerikan. Memang tidak ada yang terbunuh dari aksi 
sekelompok orang yang tidak memiliki hati dan empati pada orang mati. Nenek 
Hindun itu juga tidak punya kuasa apa-apa lagi selain menunggu pengadilan dari 
Allah Yang Maha Adil.”  (Birgaldo Sinaga)Salam,ChanCT 
Nenek Hindun Dan Kejamnya Pendukung Anies Sandi
https://seword.com/politik/nenek-hindun-dan-kejamnya-pendukung-anies-sandi/BY 
BIRGALDO SINAGA ON MARCH 12, 2017POLITIKOrang mati butuh keadilan. Siapa yang 
memberikan keadilan bagi orang mati? Orang hidup. Kita yang masih hidup sedaya 
upaya memberikan keadilan itu bagi orang mati karena orang mati tidak bisa lagi 
mencari keadilan bagi dirinya. Orang mati tidak bisa lagi bersuara menuntut 
keadilan bagi dirinya.Suatu hari di penghujung tahun 2009, seorang anak remaja 
tewas dalam penjara Polsek Batam Kota. Namanya Josua. Ia anak jalanan yang 
hidup di kerasnya kehidupan. Kadang Ia pergi ke Jakarta merantau. Kadang ke 
Medan. Kadang di Siantar kampungnya. Pokoknya Josua pergi kemana ia suka. 
Langit adalah batasnya.Suatu hari, Ia tertidur di dalam kedai barang bekas di 
bilangan Batam Center. Ia terpergok di dalam oleh penjaga kedai itu pada jam 
01.30 dini hari. Ia disangka mencuri. Padahal tidak ada barang yang hilang. 
Lalu Ia di bawa ke Polsek. Dimasukkan ke dalam sel selama 3 hari.Keluarganya 
datang menjenguk. Diupayakan perdamaian dengan si pelapor. Sayangnya sebelum 
perdamaian terjadi, karena masih suasana Natal, pada 26 Desember 2009, Josua 
tewas. Polisi mengatakan bunuh diri diteralis pintu sel pakai kaos oblongnya. 
Mayat segera dikirim ke kampung halaman Siantar. Dikuburkan.Saya mendengar 
kasus ini. Lalu mencari tahu karena ada kejanggalan yang ku lihat. Saya 
melakukan investigasi. Investigasi ini menjadi pengalaman paling mendebarkan 
seumur hidup saya.Saya mewawancarai para saksi-saksi. Melihat TKP kedai barang 
bekas tempat Josua tidur. Mewawancarai saksi mata di sana. Berkunjung ke 
penjara tempat Josua di kerangkeng. Bertemu dengan dokter yang memvisum Josua. 
Melihat rumah sakit.Saya melakukan investigasi hingga wawancara dengan penjaga 
penjara, Wakapolres Barelang, Kapolsek Hilman hingga semua pihak yang menurut 
saya punya informasi kuat termasuk beberapa teman wartawan yang mangkal di 
sana.Hasil investigasi itu saya bagi ke salah satu media lokal terkenal di 
Batam. Baca di sini liputannya 
http://iqbalfile.blogspot.co.id/2010/01/duka-dalam-sepotong-kaos-bola.html?m=1Saya
 bersama teman teman mahasiswa PMII mendesak Kapolres Batam saat itu melakukan 
penyelidikan ulang dengan melakukan otopsi menyeluruh atas korban.Kejanggalan 
korban disiksa cukup kuat. Analisis investigasi cukup masuk akal dengan 
kesimpulan bahwa korban di siksa lalu mati dalam sel. Saksi mata yang menjenguk 
korban sehari sebelum tewas menceritakan korban di siksa saat dalam 
tahanan.Ujungnya Kapolres Leonidas saat itu mengabulkan tuntutan saya. 
Pembongkaran kuburan Josua di Siantar disetujui. Otopsi mayat dilaksanakan 
sekitar awal Februari 2010 di Pematang Siantar. Hampir dua bulan Josua dikubur. 
Seisi kampung Josua ikut menyaksikan proses otopsi.Saya ikut melihat proses 
otopsi itu. Mulai kebaktian doa pembongkaran jenazah. Membuka peti mati. 
Mengangkat jenazah dalam tenda otopsi. Saya melihat bagaimana bentuk jenazah 
yang sudah terkubur selama 2 bulan. Aroma bau mayat yang menusuk hidung. Saya 
melihat para dokter forensik yang tenang dan santai saat membedah tubuh mayat. 
Menggergaji, memotong dan mengambil sampel jaringan dalam organ tubuh seperti 
lambung, hati, jantung, ginjal, otak, paru, empedu dlsb.Peristiwa itu membekas 
sampai sekarang. Saya masih ingat detail bagaimana suasana di bawah tenda 
otopsi mayat itu karena saya ada di sana. Mencari keadilan bagi orang mati.Pagi 
sebelum berangkat ke kuburan saya bertemu dengan keluarga Josua. Rumahnya tidak 
jauh dari kuburan itu. Di rumah sangat sederhana itu, nenek Josua menciumiku. 
Nenek Josua menangis meraung raung. Ia memelukku begitu kuat sambil menangis 
pilu menyebut nyebut pahompunya atau cucunya.Emak Josua menangis kencang. Josua 
adalah anak bungsu yang kehilangan pegangan ketika ayahnya meninggal dunia. Ia 
akhirnya hidup di jalanan. Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Emak Napitu Ibu 
Josua adalah janda tua. Petani kecil di kampungnya.Saat bertemu, Ibu Josua 
memelukku kuat. Erat sekali dekapannya. Ia berbisik dalam bahasa Batak yang 
saya tidak tahu artinya karena sambil menangis sesunggukkan. Saya hanya ingat 
Ia berkata bahwa saya telah mengangkat kehormatan keluarga mereka dari cibiran 
orang kampung.Orang kampungnya akhirnya percaya bahwa anaknya bukan bunuh diri 
seperti kata polisi. Bagi penganut Khatolik, bunuh diri adalah dosa terbesar. 
Terkutuk. Dengan adanya pencarian keadilan ini membuat mereka semua orang 
kampung di sana percaya anaknya bukan bunuh diri.Tidak mungkin bunuh diri. Sama 
seperti pendapat psikolog yang saya temui pernah bilang jarang ditemukan anak 
jalanan bunuh diri. Mereka terbiasa hidup keras. Justru anak yang penyendiri 
dan pendiam yang rentan bunuh diri. Itu fakta empirik.Proses mencari keadilan 
itu tidak mudah. Saya menghadapi institusi yang berkuasa. Sambil menunggu hasil 
otopsi, saya pergi ke Jakarta. Bertemu dengan Arist Merdeka Sirait Ketua Komnas 
Perlindungan Anak. Melapor ke Kompolnas. Pergi ke TV One dalam Apa Kabar 
Indonesia Pagi.Saya meyakini, bahwa orang hiduplah yang menyelesaikan persoalan 
orang mati. Orang hiduplah yang memberi keadilan bagi orang mati. Orang 
hiduplah yang memberi penghormatan bagi orang mati. Karena orang mati telah 
usai hidupnya. Telah berakhir tugas perjuangannya. Tugas orang hidup memastikan 
roh kebenaran, roh keadilan, roh kearifan nan bijaksana, roh kasih sayang yang 
dihembuskan Allah Yang Maha Pengasih tetap ada.Belakangan ini, kehidupan 
berbangsa dan bernegara kita sudah dalam tingkat tidak waras. Rasa kemanusiaan 
sudah hilang. Kemanusiaan yang bernurani telah bermetamorfosis menjadi 
kemanusiaan yang berwajah setan. Jahat. Keji. Kejam. Bengis. Tragis. 
Tragedi.Bayangkan kepada mayat nenek tua Hindun kita tega melaknatnya. 
Menajiskannya. Membuang muka dan menyumpah serapahnya. Tidak memberi doa. Apa 
salah dan dosa nenek renta Hindun yang nafasnya saja tinggal hitungan jam itu? 
Apakah karena Ia memilih Ahok yang menurutnya layak jadi pelayannya? Yang 
memberi jaminan kesehatan dan pendidikan buat anak cucunya? Orang yang tidak 
merampok uang pajak kerja kerasnya?Kejahatan menolak sholat jenazah ini sungguh 
mengerikan. Memang tidak ada yang terbunuh dari aksi sekelompok orang yang 
tidak memiliki hati dan empati pada orang mati. Nenek Hindun itu juga tidak 
punya kuasa apa-apa lagi selain menunggu pengadilan dari Allah Yang Maha 
Adil.Orang mati tidak punya urusan lagi dengan orang hidup. Orang hiduplah yang 
punya urusan dengan orang mati. Urusan itu menjadi dasar dan pembuktian apakah 
kita ini manusia yang menjadi manusia bagi sesamanya?Ataukah kita ini 
sesungguhnya hanya binatang bagi sesama kita. Hanya binatang yang tidak mau 
menguburkan dan mendoakan sesamanya kaum binatang. Itupun bukan karena mereka 
tidak mau, tapi karena mereka tidak mampu dan memang mereka diciptakan oleh 
Sang Maha Pencipta tidak memiliki akal.Haruskah kita menjadi binatang bagi 
sesama kita? Ebiet G Ade menulis dengan indah syair tentang itu. Katanya 
“Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum. Dengan sinar wajahnya lebih 
tajam dari matahari. Kemanakah sirnanya nurani embun pagi. Yang biasanya ramah 
kini membakar hati?”. Kemana? Lenyap karena ambisius kekuasaan. Kebencian 
menghalalkan segala cara. Mematikan akal sehat dan nurani. Menghanguskan apa 
saja hingga tulang belulang kita.
Wahai manusia penolak jenajah sesamamu manusia, betapa keji dan jahatnya jiwamu 
dalam menghalalkan segala cara demi kekuasaan calon yang ingin kau menangkan. 
Kau begitu keji. Buas. Jahat. Bengis. Sadis. Semoga Tuhan di atas sana tidak 
menolakmu saat engkau mati seperti halnya engkau menolak Nenek Hindun saat Ia 
meninggal dunia.Salam perjuangan
Birgaldo Sinaga   #yiv4773832238 #yiv4773832238 -- #yiv4773832238ygrp-mkp 
{border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 
10px;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mkp #yiv4773832238hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mkp #yiv4773832238ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mkp .yiv4773832238ad 
{padding:0 0;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mkp .yiv4773832238ad p 
{margin:0;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mkp .yiv4773832238ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-sponsor 
#yiv4773832238ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-sponsor #yiv4773832238ygrp-lc #yiv4773832238hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-sponsor #yiv4773832238ygrp-lc .yiv4773832238ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4773832238 #yiv4773832238actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4773832238
 #yiv4773832238activity span {font-weight:700;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv4773832238 #yiv4773832238activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4773832238 #yiv4773832238activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv4773832238 #yiv4773832238activity span 
.yiv4773832238underline {text-decoration:underline;}#yiv4773832238 
.yiv4773832238attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv4773832238 .yiv4773832238attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv4773832238 .yiv4773832238attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv4773832238 .yiv4773832238attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4773832238 .yiv4773832238attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv4773832238 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv4773832238 .yiv4773832238bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4773832238 
.yiv4773832238bold a {text-decoration:none;}#yiv4773832238 dd.yiv4773832238last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4773832238 dd.yiv4773832238last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4773832238 
dd.yiv4773832238last p span.yiv4773832238yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv4773832238 div.yiv4773832238attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv4773832238 div.yiv4773832238attach-table 
{width:400px;}#yiv4773832238 div.yiv4773832238file-title a, #yiv4773832238 
div.yiv4773832238file-title a:active, #yiv4773832238 
div.yiv4773832238file-title a:hover, #yiv4773832238 div.yiv4773832238file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv4773832238 div.yiv4773832238photo-title a, 
#yiv4773832238 div.yiv4773832238photo-title a:active, #yiv4773832238 
div.yiv4773832238photo-title a:hover, #yiv4773832238 
div.yiv4773832238photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4773832238 
div#yiv4773832238ygrp-mlmsg #yiv4773832238ygrp-msg p a 
span.yiv4773832238yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4773832238 
.yiv4773832238green {color:#628c2a;}#yiv4773832238 .yiv4773832238MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv4773832238 o {font-size:0;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238photos div {float:left;width:72px;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4773832238
 #yiv4773832238reco-category {font-size:77%;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238reco-desc {font-size:77%;}#yiv4773832238 .yiv4773832238replbq 
{margin:4px;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-mlmsg select, #yiv4773832238 input, #yiv4773832238 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-mlmsg pre, #yiv4773832238 code {font:115% 
monospace;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-mlmsg #yiv4773832238logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-msg 
p#yiv4773832238attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-reco #yiv4773832238reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-sponsor 
#yiv4773832238ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-sponsor #yiv4773832238ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-sponsor #yiv4773832238ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv4773832238 #yiv4773832238ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv4773832238 
#yiv4773832238ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv4773832238 

   

Kirim email ke