Mestinya jadi pengamat jangan melihat dari 1 sisi saja, karena sisi lain masih 
ada keunggulannya.
Jika kebocoran negara bisa di atasi saya kira tidak masalah dengan pendapatan 
negara, untuk apa pertumbuhan ekonomi tinggi tapi kebocoran negara sampai 
2000-3000 t kata Abraham samad


From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Sunday, March 12, 2017 5:21 PM
To: [email protected]; [email protected]; 
[email protected]
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Bos Bursa Tak Sepakat Kebijakan Ekonomi, 
Pemerintah Disebut Ugal-ugalan [1 Attachment]






http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/12/150229226/bos.bursa.<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/12/150229226/bos.bursa.tak.sepakat.kebijakan.ekonomi.pemerintah.disebut.ugal-ugalan>

tak.sepakat.kebijakan.ekonomi.pemerintah.disebut.ugal-ugalan<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/12/150229226/bos.bursa.tak.sepakat.kebijakan.ekonomi.pemerintah.disebut.ugal-ugalan>

Bos Bursa Tak Sepakat Kebijakan Ekonomi
Pemerintah Disebut Ugal-ugalan
Minggu, 12 Maret 2017 | 15:02 WIB

  *
  *
  *
  *
  *
110
Shares
[cid:[email protected]]KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI Direktur Utama PT 
Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio memberikan sambutan dalam Underwriting 
Network 2017, di Denpasar, Bali, Jumat (10/3/2017).
Terkait

  *   Faisal Basri: Kebijakan Ekonomi Pemerintah 
"Ugal-ugalan"<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/08/073300526/faisal.basri.kebijakan.ekonomi.pemerintah.ugal-ugalan.>
  *   Target Pertumbuhan Ekonomi 6,1 Persen Dinilai Tak 
Realistis<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/06/145400826/target.pertumbuhan.ekonomi.6.1.persen.dinilai.tak.realistis>
  *   China Pangkas Target Pertumbuhan Ekonomi Jadi 6,5 
Persen<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/05/143000226/china.pangkas.target.pertumbuhan.ekonomi.jadi.6.5.persen>
  *   Dubes Saudi: Nilai Kerja Sama Ekonomi dengan Indonesia Rp 45,5 
Triliun<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/05/110000626/dubes.saudi.nilai.kerja.sama.ekonomi.dengan.indonesia.rp.45.5.triliun>
  *   Trump Akhirnya Beberkan Berbagai Rencana Ekonomi di Hadapan 
Kongres<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/01/113500726/trump.akhirnya.beberkan.berbagai.rencana.ekonomi.di.hadapan.kongres>

DENPASAR, KOMPAS.com - Direktur Utama PT Bursa Efek 
Indonesia<http://indeks.kompas.com/tag/bursa.efek.indonesia> (BEI) Tito 
Sulistio kurang sepakat dengan istilah yang dipakai ekonom Universitas 
Indonesia (UI) Faisal Basri. Faisal menyebut pemerintah 
Jokowi-JK<http://indeks.kompas.com/tag/jokowi-jk> mengambil kebijakan yang 
ugal-ugalan di dua tahun pertama pemerintahan.

"Kalau Pak Faisal bilang ugal-ugalan, gue bilang itu konsolidasi," kata Tito 
ditemui di sela-sela Underwriting Network 2017, di the Anvaya Beach Resorts 
Denpasar, Bali<http://indeks.kompas.com/tag/bali>.

Tito mengatakan, siapapun Presiden yang masuk pada 2014 akan menghadapi 
turbulensi ekonomi global, dari yang tadinya booming harga komoditas tiba-tiba 
turun. Pada saat yang sama, ekonomi global melambat.

Dampaknya ke domestik langsung terasa di sektor perbankan. Pada saat booming 
harga komoditas, loan to depocit ratio (LDR) sayangnya sudah menembus 90 
persen, akibat jor-joran mengucurkan kredit.

Sialnya, pada waktu ekonomi global mengalami perlambatan, ruang ekspansi 
penyaluran kredit sudah amat terbatas. Di sisi lain, pemerintah 
Jokowi-JK<http://indeks.kompas.com/tag/jokowi-jk> ingin mengejar ketertinggalan 
infrastruktur.

"Siapapun yang jadi Presiden, akan kesulitan memulainya," kata Tito. Tito 
meminjam istilah Direktur Eksekutif Charta 
Politika<http://indeks.kompas.com/tag/charta.politika> Yunarto Wijaya, dua 
tahun pertama pemerintahan adalah masa konsolidasi.

Dan menurut Tito, di tahun ketiga ini, konsolidasi yang dilakukan pemerintah 
sudah mulai kelihatan hasilnya, seiring dengan membaiknya harga komoditas. 
Pertumbuhan ekonomi yang pada tahun 2015 sempat drop di bawah lima persen pun 
sudah mulai naik.

Mengenai pendanaan untuk pembiayaan infrastruktur, pemerintah juga 
memperkenalkan skema baru yang tidak harus mengandalkan Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Negara (APBN), yakni Pembiayaan Investasi Non-Anggaran pemerintah 
(PINA).

"Makanya Pak Bambang (Kepala Bappenas) bilang 'Eh, lu swasta ambil ini proyek'. 
Sudah ada hasil dari konsolidasi, jelas arahnya," ucap Tito.

Sebelumnya, Faisal menilai perekonomian Indonesia dijalankan secara ugal-ugalan 
oleh pemerintah. Ada dua hal yang dijadikan landasan argumen itu.

Pertama, Faisal menilai pemerintah selalu mematok target penerimaan pajak yang 
tinggi, padahal kondisi ekonomi nasional dan global sedang mengalami pelemahan. 
Pada 2015, target pajak sebesar Rp 1.489 triliun, namun realisasinya hanya 
mencapai Rp 1.240 triliun.

Pada 2016 hal serupa juga terjadi, target pajak dipatok Rp 1.539 triliun, namun 
realisasi hanya 1.284 triliun triliun.

Kedua, ia menilai pemerintah tidak mempertimbangkan kemampuan anggaran saat 
merencanakan belanja di dalam APBN. Ia mencontohkan kasus proyek kereta cepat 
ringan atau light rapid transit 
(LRT<http://indeks.kompas.com/tag/.light.rail.transit>).

Proyeknya sudah dijalankan BUMN, namun terkendala pendanaan di tengah jalan 
lantaran anggaran yang terbatas.

"Lama-lama saya rasa Bu Sri Mulyani<http://indeks.kompas.com/tag/sri.mulyani> 
pening kepalanya karena rumusnya Pak Jokowi, 'pokoknya' (tanpa melihat 
kemampuan anggaran)," kata Faisal.

(baca: Faisal Basri: Kebijakan Ekonomi Pemerintah 
"Ugal-ugalan"<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/03/08/073300526/faisal.basri.kebijakan.ekonomi.pemerintah.ugal-ugalan.>)
Penulis

: Estu Suryowati

Editor

: M Fajar Marta

TAG:

  *   Tito Sulitio<http://indeks.kompas.com/tag/Tito.Sulitio>





Kirim email ke