Ray menuturkan, sah-sah saja seseorang memilih figur pilihannya sebagai 
pemimpin atas dasar individual. Misalnya karena seagama, satu suku, karena 
ketampanan atau kecantikan seseorang. "Tetapi jelas salah kalau dihimbau 
apalagi sampai pakai fatwa nggak boleh dipilih karena agamanya berbeda, sukunya 
berbeda, warna kulitnya berbeda. Itu salah dalam demokrasi," bilang aktivis 
dari LIMA itu....Peneliti senior CSIS, J Kristiadi, menambahkan, bila isu SARA 
tidak segera dihilangkan, maka masa depan Republik ini bisa terancam. "Kalau 
pertarungan politik sudah menggunakan isu primordial, ini sudah rute menuju 
kehancuran negara ini," ucapnya.
...
Adian Napitupulu: Musuh Ahok bukan Paslon 3, tapi SARA


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Adian Napitupulu: Musuh Ahok bukan Paslon 3, tapi SARA - Wartakota
 Ketika orang mempersoalkan etnis seseorang, suku seseorang, maka sebenarnya 
demokrasi kita sedang terancam  |   |

  |

  |

 

Rabu, 1 Maret 2017 17:54

Adian Napitupulu dalam diskusi bertajuk 'Demokrasi dan Tantangan Kebhinekaan' 
sekaligus deklarasi dukungan Poros Widya Chandra kepada Ahok-Djarot di Jalan 
Widya Chandra X, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/3/2017). 

WARTA KOTA, KEBAYORANBARU - Politisi PDI perjuangan, Adian Napitupulu 
mengatakan, yang menjadi musuh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful 
Hidayat pada putaran dua nanti bukan pasangan calon nomor 3, yakni Anies 
Baswedan-Sandiaga Uno. Menurut dia, musuh Ahok sebenarnya adalah isu SARA 
(suku, agama, ras dan antar golongan).Dikatakan Anggota DPR itu, demokrasi yang 
sebenarnya tidak mempersoalkan masalah agama dan ras seseorang. Siapapun bisa 
menjadi pemimpin. Sayangnya, proses demokrasi dalam bentuk Pilkada di DKI 
Jakarta dikacaukan oleh isu SARA."Ketika orang mempersoalkan etnis seseorang, 
suku seseorang, maka sebenarnya demokrasi kita sedang terancam," kata Adian 
dalam diskusi bertajuk 'Demokrasi dan Tantangan Kebhinekaan' sekaligus 
deklarasi dukungan Poros Widya Chandra kepada Ahok-Djarot di Jalan Widya 
Chandra X, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/3/2017).Adian mencontohkan 
figur Presiden Joko Widodo yang membuktikan siapa pun bisa menjadi pemimpin. 
"Jokowi adalah buah demokrasi. Dia bukan siapa-siapa, bukan anak siapa-siapa, 
tapi bisa jadi Presiden. Itulah demokrasi," tandasnya.Sementara itu pengamat 
politik Ray Rangkuti, mengungkapkan, baru kali ini rakyat Jakarta disuguhi isu 
SARA yang begitu masif dalam Pemilukada."Ada yang bilang, kan nggak apa-apa 
pilih si anu karena agamanya sama. Memang itu boleh, tidak dilarang, cuma 
derajat demokrasinya rendah," ujar Ray.Ray menuturkan, sah-sah saja seseorang 
memilih figur pilihannya sebagai pemimpin atas dasar individual. Misalnya 
karena seagama, satu suku, karena ketampanan atau kecantikan seseorang."Tetapi 
jelas salah kalau dihimbau apalagi sampai pakai fatwa nggak boleh dipilih 
karena agamanya berbeda, sukunya berbeda, warna kulitnya berbeda. Itu salah 
dalam demokrasi," bilang aktivis dari LIMA itu.Menurut Ray, dalam demokrasi 
kita mencari pemimpin untuk melayani kita sebagai warga negara, dan proses ini 
tidak mengenal agama, suku, dan lain-lain."Persoalan bangsa ini tidak sejahtera 
bukan karena uang kita tidak ada, Sumber Daya Alam kita tidak ada, orang kita 
tidak pintar. Yang membuat kita tidak sejahtera karena banyak pemimpinnya suka 
korupsi. Musuh kita sebenarnya adalah korupsi dan koruptor," bilang 
Rey.Peneliti senior CSIS, J Kristiadi, menambahkan, bila isu SARA tidak segera 
dihilangkan, maka masa depan Republik ini bisa terancam. "Kalau pertarungan 
politik sudah menggunakan isu primordial, ini sudah rute menuju kehancuran 
negara ini," ucapnya.

Kirim email ke