Sungguh sangat JITUUU, ...! Musuh Ahok bukan Paslon No.3, tapi SARA! Tegas 
Adian Napitupulu, ... Setiap warga boleh-boleh saja memilih paslon atas dasar 
kedekatan pribadi, baik sesama kampung, sesama suku, sesama etnis maupun 
seAGAMA, ... tetapi, TIDAK seharusnya menghimbau, menyerukan bahkan 
mengeluarkan fatwa MELARANG orang ataupun umat nya memilih Paslon tertentu 
berdasarkan SARA!

Disinilah masalah serius yang harus menjadi PERHATIAN masyarakat dan dijaga 
baik-baik oleh Pemerintah yang berkuasa, ... dalam hal ini KPU berserta aparat 
HUKUM bisa mengambil ketegasan menindak pihak-pihak pelanggar HUKUM, bukan 
membiarkan berlarut yang akan mengancam PERPECAHAN Persatuan Bangsa! Dengan 
belajar menjalankan DEMOKRASI dalam koridor ketentuan yang telah ditetapkan 
bersama, dengan adanya ketegasan menegakkan HUKUM sebaik-baiknya inilah terjadi 
proses pembelajaran DEMOKRASI yang SEHAT. TIDAK membiarkan sementara kekuatan 
menggunakan SARA untuk memenangkan paslon yang kurang bahkan tidak baik!

Salam-demokrasi,
ChanCT



From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 
Sent: Friday, March 17, 2017 3:35 AM





Ray menuturkan, sah-sah saja seseorang memilih figur pilihannya sebagai 
pemimpin atas dasar individual. Misalnya karena seagama, satu suku, karena 
ketampanan atau kecantikan seseorang. "Tetapi jelas salah kalau dihimbau 
apalagi sampai pakai fatwa nggak boleh dipilih karena agamanya berbeda, sukunya 
berbeda, warna kulitnya berbeda. Itu salah dalam demokrasi," bilang aktivis 
dari LIMA itu.
...
Peneliti senior CSIS, J Kristiadi, menambahkan, bila isu SARA tidak segera 
dihilangkan, maka masa depan Republik ini bisa terancam. "Kalau pertarungan 
politik sudah menggunakan isu primordial , ini sudah rute menuju kehancuran 
negara ini," ucapnya.

...
Adian Napitupulu: Musuh Ahok bukan Paslon 3, tapi SARA 


                        
                 
           
                 Adian Napitupulu: Musuh Ahok bukan Paslon 3, tapi SARA - 
Wartakota
                  Ketika orang mempersoalkan etnis seseorang, suku seseorang, 
maka sebenarnya demokrasi kita sedang terancam  
           
     




Rabu, 1 Maret 2017 17:54



Adian Napitupulu dalam diskusi bertajuk 'Demokrasi dan Tantangan Kebhinekaan' 
sekaligus deklarasi dukungan Poros Widya Chandra kepada Ahok-Djarot di Jalan 
Widya Chandra X, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/3/2017). 


WARTA KOTA, KEBAYORANBARU - Politisi PDI perjuangan, Adian Napitupulu 
mengatakan, yang menjadi musuh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful 
Hidayat pada putaran dua nanti bukan pasangan calon nomor 3, yakni Anies 
Baswedan-Sandiaga Uno. Menurut dia, musuh Ahok sebenarnya adalah isu SARA 
(suku, agama, ras dan antar golongan).
Dikatakan Anggota DPR itu, demokrasi yang sebenarnya tidak mempersoalkan 
masalah agama dan ras seseorang. Siapapun bisa menjadi pemimpin. Sayangnya, 
proses demokrasi dalam bentuk Pilkada di DKI Jakarta dikacaukan oleh isu SARA.
"Ketika orang mempersoalkan etnis seseorang, suku seseorang, maka sebenarnya 
demokrasi kita sedang terancam," kata Adian dalam diskusi berta juk 'Demokrasi 
dan Tantangan Kebhinekaan' sekaligus deklarasi dukungan Poros Widya Chandra 
kepada Ahok-Djarot di Jalan Widya Chandra X, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 
Rabu (1/3/2017).
Adian mencontohkan figur Presiden Joko Widodo yang membuktikan siapa pun bisa 
menjadi pemimpin. "Jokowi adalah buah demokrasi. Dia bukan siapa-siapa, bukan 
anak siapa-siapa, tapi bisa jadi Presiden. Itulah demokrasi," tandasnya.
Sementara itu pengamat politik Ray Rangkuti, mengungkapkan, baru kali ini 
rakyat Jakarta disuguhi isu SARA yang begitu masif dalam Pemilukada.
"Ada yang bilang, kan nggak apa-apa pilih si anu karena agamanya sama. Memang 
itu boleh, tidak dilarang, cuma derajat demokrasinya rendah," ujar Ray.
Ray menuturkan, sah-sah saja seseorang memilih figur pilihannya sebagai 
pemimpin atas dasar individual. Misalnya karena seagama, satu suku, karena 
ketampanan atau kecantikan seseorang.
"Tetapi jelas salah kalau dihimbau apalagi sampai pakai fatwa nggak boleh 
dipilih karena agamanya berbeda, sukunya berbeda, warna kulitnya berbeda. Itu 
salah dalam demokrasi," bilang aktivis dari LIMA itu.
Menurut Ray, dalam demokrasi kita mencari pemimpin untuk melayani kita sebagai 
warga negara, dan proses ini tidak mengenal agama, suku, dan lain-lai n.
"Persoalan bangsa ini tidak sejahtera bukan karena uang kita tidak ada, Sumber 
Daya Alam kita tidak ada, orang kita tidak pintar. Yang membuat kita tidak 
sejahtera karena banyak pemimpinnya suka korupsi. Musuh kita sebenarnya adalah 
korupsi dan koruptor," bilang Rey.
Peneliti senior CSIS, J Kristiadi, menambahkan, bila isu SARA tida k segera 
dihilangkan, maka masa depan Republik ini bisa terancam. "Kalau pertarungan 
politik sudah menggunakan isu primordial, ini sudah rute menuju kehancuran 
negara ini," ucapnya.




Kirim email ke