REFLEKSI. Seruan ``Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng``; Seruan dari media pendukung Jokowi seperti itu, saya tanggapi sebagai seruan yang terlalu dini, dan bermuatan Glittering Generality dibidang perpolitikan. Glittering Generality itu sering digunalan dalam masalah-masalah pengiklanan, yang mengandung penipuan pada tingkat tertentu. Tapi nampaknya Glittering Generality itu muncul dalam perpolitikan. Ini tercermin dalam bentuk seruan seperti yang di cetuskan oleh si penulis: ``Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng``, maka seruan itu bisa menjadi jalan yang efektif agar seruan tersebut disetujui dan didukung; Siapa yang akan menentang hak hidup kaum tani Kendeng yang telah mereka perjuangkan selama ini?
Dengan menggunakan methode Glittering Generality, yang menghubungkan sesuatu dengan kata-kata yang baik, yang dalam konteksa ini adalah ``Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng``, dipakai untuk membuat kita percaya dan menerima begitu saja, bahwa Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng, tanpa memeriksa bukti-bukti bahwa kemampuan Jokowi untuk menolak kehendak kaum neoliberal yang anti Pasal 33 UUD 45, dan yang dalam konteks ini adalah Penuhi Tuntutan Petani Kendeng, sungguh tidak dapat di banggakan.!!! Ini dibuktikan dalam Kasus reklamasi teluk Jakarta, dalam konteks ini Jokowi tidak mempunyai kemampuan untuk menolak kehendak kaum neoliberal yang sangat merugikan kehidupan nelayan, karena mengancam kehidupan yang berkelanjutan dari kauam nelayan di kawasan tersebut, kecuali itu juga melangar ketentuan AMDAL. Tapi Jokowi apa yang dilakukan oleh Jokowi, Jokowi justru memecat Rizal Ramli, sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman, yang menentang reklamasi teluk Jakarta, yang melanggar AMDAL, dan mengancam kehidupan para nelayan dikawan tersebut. Dalam konteks reklamasi teluk jakarta , justru Jokowi telah menobatkan Luhud Binsar Panjaitan, yang murni berideologi Neoliberalisme, sebagai ganti Rital Ramli. Kebijakan ini lelah menjelaskan pada kita semua bahwa Jokowi secara hakekat adalah pembela setia kaum neoliberal. Dalam konteks Pabrik semen, kaum kapitalis neoliberal dikawasan Kendeng akan mengancam keberlangsungan hidup para petani Rembang, Pati (Jawa tengah); dalam konteks ini nampaknya Jokowi juga tidak memiliki kemampuan untuk membela para Petani Kendeng yang kehidupannya akan terancam sepanjang masa, selama daerah dilingkungan mereka di ganggu oleh kebradaannya Pabrik Semen milik kaum kapitalis neoloberal yang didukung oleh kekuatan oligarki Ekonomi yang mendominasi kakuasaan rezim neoliberal Jokowi-Jk. Dengan seruan bahwa``Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng``, maka semua orang yang tidak kritis akan berbicara bahwa Jokowi telah memihak pada Rakyat, Jokowi adalah Presiden yang merakyat dsb, tanpa memeriksa bukti-bukti apakah benar dalam kontes Petani Kendeng Jokowi memihak Rakyat? Padahal MA telah mengabulkan perkara dengan nomor registrasi 99 PK/TUN/2016 ini, yakni membatalkan objek sengketa atau pabrik semen yang akan dibangun, di kawasan Gunung Kenden. Sekarang apa yang dikatakan oleh Teten? Teten mengatakan solusi awal yang diberikan pemerintah merupakan jalan terbaik buat semua pihak. Sebab, pabrik semen tersebut pun telah berdiri di sekitar Pegunungan Kendeng dengan investasi sekitar Rp 5 triliun. Permasalahan, terjadi saat area tambang yang berjarak sekitar 10 Km dari pabrik diprotes oleh warga karena dianggap daerah sumber air. Sikap Teten seperti itu jelas sangat tidak adil, karena ia hanya melihat uang, tanpa melihat air yang menjadi salah satu penyebab berlangsungnya kehidupan yang berkelanjutan umat manusia, yang dalam konteks ini adalah petani didaerah Kendeng, karena terancam oleh keberadaannya Pabrik Semen, yang akan menyedot air sebayak-banyaknya demi kepentingan produksinya. Jadi sungguh relevan jika dikatakan bawa seruan yang mengatakan bahwa : Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng, hanyalah penipuan belaka. Saran saya, 1. Kkalau mau adil, paling tidak semua petani yang tinggal di kawasan gunung kendeng, harus duberi hak untuk memiliki saham investasi, yang dibangun diatas tanah yang menjadi sumber penghidupan yang sangat penting bagi para petani di kawasan Kendeng selama bertahun-tahun lamanya, yang kini akan di potong begitu saja. Ganti rugi saja dipanbdang tidak cukup. 2. Memandang Pabrik semen harus secara `Holistik` dan `Ekologis`. Memandang secara Holistik berarti : dalam konteks ini adalah Pabrik Semen; berarti melihat Pabrik Semen sebagai suatu keseluruhan, dan karena itu mengerti kesalaing tergantungan bagian-bagiannya. Sebuah pandangan ekologis mengenai Pabrik Seman mencakup pandangan holistik, tapi menambahkan persepsi tentang bagainama Pabrik semen itu terkait dengan lingkungan alamiah dan sosialnya, bagaimana proses produksinya mempengaruhi lingkungan alamiah dan komunitas tani yang tinggal di kawasan itu, dimana pembuangan sampah sebagai dampak dari proses produki yang berjalan. Perbedaan `Holistik dan ``Ekologis`bahkan kian penting ketika kita berbicara tentang sisem-sistem hidup, dan hubungannya dengan lingkungan sangat penting. Oleh karna itu dalam konteks ini masalah AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan) harus ketat diperhatikan!!! Dalam kontrks ini nampaknya Teten lengah misi, karena ia hanya besandar pada politik UUD (Ujung-Ujungnya- Diut). Roeslan. Von: Tatiana Lukman [mailto:[email protected]] Gesendet: Dienstag, 14. März 2017 07:5, dan mengandung seruan yang bermuaztan An: [email protected]; kh djie Cc: Yahoogroups; DISKUSI FORUM HLD; Jonathan Goeij; Lusi.D; Roeslan; Ajeg; NESARE Betreff: Re: [GELORA45] Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng Lho ini kan berita tahun lalu!!! Kepala berita ini sangat menyesatkan!! "Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng" sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Ini adalah hasil dari protes petani Kendeng dengan ngecor kakinya yang pertama! Memang kaum tani ditemui oleh pejabat Pemerintah dan (kalau tidak salah ingat) juga bertemu dengan Jokowi. Tapi kan dalam kenyataannya Jokowi sama sekali tidak menjalankan keputusan MA yang membenarkan tuntutan kaum tani. Praktek membuktikan Jokowi tidak bisa SEKALIGUS berpihak kepada kaum tani dan juga berpihak kepada pengusaha. DIA HARUS MEMILIH!! Dan kenyataan menunjukkan dia MEMILIH BERPIHAK KEPADA PABRIK SEMEN. DIA TIDAK MEMILIH RAKYAT!! Apakah pernyataan saya ini tidak jelas dan "samar-samar"? Praktek membuktikan KOLABORASI KELAS TIDAK MUNGKIN!!! Jokowi adalah borjuis birokrat dan komprador tapi kaum tani adalah kelas yang paling bawah dalam piramid masyarakat dan kekuasaan. Lantas di mana dan kapan Jokowi akan membuktikan bahwa dia "orang yang baik"? Baik kepada siapa? itu masalahnya!!! Baik kepada para pengusaha dan pemodal asing dan kelas yang sudah mapan dalam masyarakat Indonesia. Ya, itu betul!! Apakah Jokowi baik kepada lingkungan?? Juga sudah dibuktikan dalam praktek, Jokowi tidak menghiraukan pendapat organisasi-oraganisasi lingkungan yang memprotes pertambangan, pembangunan waduk raksasa dan megaproyek lainnya seperti KA cepat Jkt-Bandung. Kapan para pendukung BUTA JOKOWI BERSEDIA MEMBUKA MATANYA DAN MELIHAT KENYATAAN DI SEGALA PELOSOK TANAH AIR??? BUKAN HANYA SIBUK BERGUNJING DENGAN PERTENTANGAN DI KALANGAN PENGUASA DAN ELIT POLITIK SAJA!!! On Monday, March 13, 2017 10:05 PM, "kh djie [email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote: · <http://nasional.kompas.com/> Nasional Jokowi Penuhi Tuntutan Petani Kendeng Selasa, 2 Agustus 2016 | 17:36 WIB * * * * <http://nasional.kompas.com/read/2016/08/02/17360761/jokowi.penuhi.tuntutan.petani.kendeng#komentar> komentar * <http://nasional.kompas.com/read/2016/08/02/17360761/jokowi.penuhi.tuntutan.petani.kendeng> copy link Shares Das Bild wurde vom Absender entfernt. altIhsanuddin Presiden Joko Widodo menerima kelompok Kartini Kendeng di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/8/2016). ________________________________ Ican Ihsanuddin | 766C8556 | 08992286042 /082186970589 <http://indeks.kompas.com/tag/JAKARTA> JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden <http://indeks.kompas.com/tag/jokowi> Joko Widodo memenuhi tuntutan para petani dari Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, <http://indeks.kompas.com/tag/jawa.tengah> Jawa Tengah, yang berkali-kali berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, memprotes pembangunan pabrik semen di wilayahnya. Jokowi menginstruksikan Kepala Staf Kepresidenan <http://indeks.kompas.com/tag/teten.masduki> Teten Masduki untuk memimpin kajian mengenai dampak pembangunan dan operasi pertambangan pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng tersebut. (Baca: <http://nasional.kompas.com/read/2016/08/02/16430721/.akhirnya.jokowi.terima.kartini.kendeng.di.istana> Akhirnya, Jokowi Terima "Kartini Kendeng" di Istana) "Presiden sudah menyepakati akan dilakukan kajian lingkungan strategis supaya bisa diketahui di kawasan Gunung Kapur itu mana yang bisa dieksploitasi dan tidak," kata Kepala Staf Kepresidenan <http://indeks.kompas.com/tag/teten.masduki> Teten Masduki usai mendampingi Presiden <http://indeks.kompas.com/tag/jokowi> Joko Widodo menerima petani kendeng di Istana Negara, Jakarta, Selasa (2/8/2016). Teten mengatakan, kajian strategis ini akan dikoordinasi Kepala Staf Kepresidenan. Kajian akan melibatkan berbagai instansi mulai dari Kementerian <http://indeks.kompas.com/tag/lingkungan.hidup> lingkungan hidup dan Kehutanan, Kementerian ESDM hingga pemerintah daerah setempat. Teten memperkirakan kajian bisa selesai dalam waktu satu tahun dan hasilnya akan digunakan untuk mengambil keputusan. Sementara kajian dilakukan, pabrik milik <http://indeks.kompas.com/tag/pt.semen.indonesia.> PT Semen Indonesia tidak bisa beroperasi. (Baca: <http://nasional.kompas.com/read/2016/04/13/21001351/Belenggu.Semen.di.Kaki.Sembilan.Kartini.Kendeng.Akhirnya.Dibuka?utm_source=RD&utm_medium=inart&utm_campaign=khiprd> Belenggu Semen di Kaki Sembilan "Kartini Kendeng" Akhirnya Dibuka) "Izin eksploitasi tambangnya belum bisa, menunggu dulu diperkirakan setahun selesai," kata Teten. Perwakilan petani Kendeng, Gunritno, mengaku puas dengan keputusan Jokowi tersebut. Ia berharap kajian bisa dilakukan secepatnya dan pabrik semen disana benar-benar menghentikan operasi pertambangannya untuk sementara waktu. "Saya harap ini bisa segera dimulai secepatnya," kata dia.
