Namun, nyatanya pasokan kekuatan terbesar berada dari lingkar kekuasaan 
Keluarga Cendana dan barisan laskar FPI yang berada pada domain Islam garis 
keras. Isu-isu agama dan kebencian terhadap etnis Tionghoa, menjadi amunisi 
yang diteriakkan para pendukung FPI dan jaringannya. 
...
Munawir Aziz
Jumat 17 Maret 2017 - 3:33


Anies di antara FPI dan Cendana


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Anies di antara FPI dan Cendana
   |   |

  |

  |

 


Setelah memasuki gelanggang putaran ke-2 proses politik DKI Jakarta, pelajaran 
apa yang dapat kita nikmati dari kontestasi ini? Gelombang kebencian atas isu 
‘penistaan agama’ telah bergeser menjadi #BelaIslam, yang mengilhami 
demonstrasi besar-besaran di Jakarta. Walaupun sangat kental dengan nuansa 
komodifikasi agama dan kepentingan politik, demonstrasi itu berhasil menyulut 
sentimen agama, yang dibarengi dengan kebencian terhadap etnis tertentu. Isu 
agama dan etnis menjadi amunisi dalam kontestasi politik. Nah, yang paling 
mencengangkan adalah pergerakan pasangan calon Anies-Baswedan dan Sandiaga Uno 
yang merangsek di antara kekuatan Islam radikal dan jaringan Keluarga Cendana. 
Di beberapa forum, Anies Baswedan—yang tumbuh dengan citra dan intelektual 
reformis—menyanjung mantan Presiden Soeharto. Anies mengungkap betapa anak-anak 
bangsa perlu belajar dari Soeharto, sebagai bagian dari sejarah panjang negeri 
ini. Menurut Anies Baswedan, Soeharto merupakan sosok pemimpin yang perlu 
dijadikan teladan, sebagai tokoh yang konsisten membicarakan pembangunan. 
“Banyak pelajaran yang bisa diambil dari Pak Harto. Kita sebagai generasi 
penerus harus ambil hikmahnya, bukan sekedar menengok ke belakang,” terang 
Anies, seperti dilansir CNNIndonesia, (12/03/2017). Antara Kaki Tommy dan 
FPIRupanya, Anies Baswedan bermain di antara kaki Tommy Soeharto dan FPI. Ia 
sering mengungkap betapa kunjungan politiknya berusaha merangkul semua 
kalangan. Namun, nyatanya pasokan kekuatan terbesar berada dari lingkar 
kekuasaan Keluarga Cendana dan barisan laskar FPI yang berada pada domain Islam 
garis keras. Isu-isu agama dan kebencian terhadap etnis Tionghoa, menjadi 
amunisi yang diteriakkan para pendukung FPI dan jaringannya. Anies juga 
mendapat dukungan dari jaringan Keluarga Cendana, melalui Tommy Soeharto. 
Namun, pertanyannya: apakah Tommy tulus mendukung Anies, ataukah hanya sebagai 
bidak catur dalam politik untuk melakukan manuver menuju 2019? Di beberapa 
forum, Tommy sudah santer dideklarasikan sebagai calon presiden pada periode 
pilpres mendatang. Tommy Soeharto membangun (kembali) panggung di partai 
politik. Ia mendirikan Partai Berkarya, sebagai kendaraan politik untuk 
melanjutkan dinasti kekuasaan yang pernah berjaya semasa ayahnya menjadi 
presiden. Partai Berkarya sah sebagai partai politik yang berbadan hukum, pada 
Senin, 17 Oktober 2017. Menkumham mengeluarkan SK, bernomor: M.HH-20.AH.11.01 
Tahun 2016. SK ini juga mengesahkan pengurus Partai Berkarya pada periode 
2016-2021. Partai ini merupakan penggabungan Partai Nasional Republik dan 
Partai Beringin Karya. Tommy Soeharto bertindak sebagai Ketua Dewan Pembina 
partai ini, yang berusaha mengusung romantisme Soeharto sebagai bagian strategi 
kampanye politik.Partai Berkarya dipimpin oleh Neneng A. Tutty (Ketua Umum) dan 
wakilnya Yockie Hutagalung, serta Sekjen Badaruddin Andi Picunang. Mantan 
Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edhy Purdijatno duduk 
sebagai Ketua Dewan Pertimbangan. Pasangan calon Anies-Baswedan didukung oleh 
Keluarga Cendana. Kedekatan pasangan calon ini dengan putra-putri Soeharto 
sudah kelihatan sejak awal tahun 2017 ini. Pada Februari lalu, berlangsung 
pertemuan antara Anies-Sandi dengan Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), 
yang kini menjadi anggota DPR-RI dari Partai Golkar. Hadir pula Prabowo 
Soebianto, Ketua Umum Partai Gerindra—partai yang mengusung Anies-Sandi pada 
Pilkada DKI Jakarta. Prabowo merupakan mantan suami Titiek Soeharto. Anies juga 
meminta dukungan dari pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Ustadz Rizieq Syihab. 
Pada 1 Januari 2017 lalu, Anies melakukan lawatan politik menuju Petamburan, 
markas besar FPI. Pada forum itu, Anies berbicara tentang visinya terhadap DKI 
Jakarta, dan ungkapan kedekatan terhadap FPI. Forum itu juga menjadi penanda 
resminya dukungan FPI—yang selama ini menjadi aktor kekerasan beragama—terhadap 
pasangan calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Laporan riset Wahid Foundation, 
mengungkapkan bahwa FPI menjadi aktor non-negara yang melakukan pelanggaran 
terbesar terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan sepanjang tahun 2016 
lalu. FPI dan aksi massa, berada pada indeks angka 24 tindakan sepanjang tahun. 
Data ini tentu menjadi catatan penting, betapa seringnya FPI menjadi aktor 
kekerasan, memaksakan kehendak dan bahkan, pada beberapa kasus, membubarkan 
paksa forum-forum ilmiah yang dibarengi dengan ungkapaan kebencian. Nah, dari 
dua kaki kekuatan itu, kita bisa melihat misi politik dan pragmatism 
Anies-Sandi. Lalu, apakah Anies Baswedan-Sandiaga Uno dapat konsisten 
mengaktualisasikan visinya untuk Jakarta? Ataukah, ia hanya bermain dalam 
resiko politik yang akan membuatnya terjerat pada dilemma politik masa depan? 
(*)

Kirim email ke